Pemuda Bandung Bangun Bisnis Cokelat Artisan, Saingi Kopi
Gambar atau konten salah?
Di tengah hiruk-pikuk budaya minum teh dan kopi yang sudah mengakar di Jawa Barat, khususnya Bandung, seorang pemuda bernama Fadillah Satria justru membawa angin segar. Ia ingin memperkenalkan alternatif lain: nyokelat, atau menikmati minuman cokelat.
Fadil, begitu ia akrab disapa, adalah pendiri Dillco Chocolate. Pria ini sudah berkecimpung di dunia cokelat artisan sejak 2013. Ia merasa industri cokelat masih tertinggal jauh dibanding kopi. "Saat ini masih perlu diedukasi sih menurut saya terkait fine flavor cokelat itu seperti apa. Kalau kopi kan kita lihat banyak banget, tapi kalau cokelat ini masih sedikit pelaku usahanya. Jadi cokelat-cokelat sekarang banyak gulanya, gitu ya. Kalau Dillco Chocolate kan yang dijual bener-bener cokelat," ungkap Fadil, Senin (15/06/2026).
Menurutnya, masyarakat selama ini lebih akrab dengan cokelat pabrikan yang kandungan gulanya tinggi. Ia ingin mengubah persepsi itu. "Jadi kita perlu kerja lebih keras untuk mengenalkan cokelat enak," tambah pria lulusan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran angkatan 2012 ini.
Fadil memproduksi berbagai macam produk. Mulai dari cokelat siap seduh hingga minuman cokelat dalam kemasan. "Produknya banyak dan beragam," katanya membuka perbincangan.
Namun, perjalanannya tidak mulus. Kendala terbesar adalah bahan baku. Selama 13 tahun bergelut, ia mengaku kesulitan mendapatkan kakao berkualitas di Jawa Barat. "Ya memang bener tuh bahan baku kita tarik-tarikan sama industri besar. Sehingga artisan cokelat kayak kita, agak sulit dapat bahan baku yang bagus," ujarnya.
Ia harus bersaing dengan pabrik-pabrik besar untuk mendapatkan biji kakao terbaik. Mencari bahan baku cokelat, katanya, tidak semudah mencari teh atau kopi. "Jadi memang aksesnya cukup jauh dari Kota Bandung," ujarnya.
Karena itu, Fadil memilih fokus pada kualitas, bukan kuantitas. "Sekarang lebih ke kualitasnya daripada ngejar volume. Kita ngejarnya cokelat-cokelat berkualitas," tuturnya. Ia ingin citra cokelat Jawa Barat bisa setara dengan teh dan kopi.
Saat ini, bahan baku Dillco Chocolate berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat: Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat, Pangandaran, hingga Sukabumi Selatan. Tidak semua wilayah punya perkebunan kakao yang bisa memasok secara berkelanjutan. Produk-produknya dipasarkan di Bandung dan sekitarnya, terutama ke restoran, kafe, dan marketplace. "Ya kita fokus di drinking chocolate, jadi kita cukup banyak support ke restoran, cafe dan marketplace," ucapnya.
Fadil berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat bisa mendorong pengembangan perkebunan kakao. "Cocok banget. Kalau bahan baku mahal menurut saya nggak jadi masalah, cuman harus ada, kalau ada itu lebih oke," tuturnya. Ia juga ingin pemerintah ikut memperkenalkan budaya minum cokelat ke masyarakat. "Tapi yang pasti ya kita harus ngenalin dulu ke pecinta cokelatnya. Jadi tak kenal maka tak sayang, jadi harus sayangin dulu nih," terang Fadil.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, mengakui industri cokelat di daerahnya masih sangat bergantung pada bahan baku impor. "Masih sebagian besar, ini impor. Nah, ke depan dengan seluruh wilayah Jawa Barat yang potensial untuk ditanami kakao ini, saya berharap kita bisa memproduksi sendiri kakao tersebut, sehingga tidak tergantung dari impor. Apalagi dengan sekarang kurs yang terus berubah-rubah, ini akan menyulitkan nanti untuk impor kita," tutur Erwan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata Erwan, ingin memperkuat ketahanan pangan lewat pengembangan kakao. Ia akan menjajaki kerja sama dengan Perhutani atau masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur. "Ya, banyak di daerah-daerah milik Perhutani, seperti di Sumedang, atau Bandung Utara yang di bawah 800 Mdpl itu. Kalau yang daerah Bandung Selatan itu rata-rata di atas 700-800 Mdpl. Daerah utara masih banyak, bisa dikerjasamakan juga," kata Erwan.
Ia juga menyebut lahan-lahan petani yang kurang potensial bisa jadi alternatif. "Banyak juga lahan-lahan tidur yang selama ini terbengkalai, bingung untuk ditanami apa, mungkin bisa menjadi alternatif kakao ini," jelas Erwan.
Singkatnya, Fadil dan Dillco Chocolate ingin membuktikan bahwa cokelat bukan sekadar camilan manis. Ia bisa menjadi minuman yang dinikmati seperti kopi atau teh. Tapi perjalanannya masih panjang. Bahan baku lokal masih langka, dan edukasi soal cokelat berkualitas masih perlu digencarkan. Pemerintah pun mulai melirik potensi kakao sebagai salah satu komoditas andalan, agar ke depannya tidak lagi bergantung pada impor.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Resep Sup Ayam Kembang Tahu Hangat, 30 Menit Siap
Finlandia Kembali Jadi Negara Peminum Kopi Terbanyak di Dunia
Azimah Antar Makanan, Bawa Anak Autistik, Hadapi Kritik
TAMU Rilis 18 Menu Nusantara Baru dengan Sentuhan Inovasi
Gyro II Tutup Setelah 45 Tahun, Resep Saus Putih Terbagi
Lekooh: Warung Coto Makassar Modern di Jakarta Cikajang
Berita Terbaru
Pemuda Bandung Bangun Bisnis Cokelat Artisan, Saingi Kopi
Paraguay Kalahkan Turki 1-0, Almiron Kena Kartu Merah Ucapan Rasis
PDIP Sindir Balik Golkar Soal Listrik Padam
Gempa 6,7 Guncang Sigi, Warga Kembali Mengungsi
Pakar ITS Bantah Klaim Gempa Palu Picu Ancaman di Bojonegoro
Rupiah Melemah, Bengkel Sepi Pelanggan
Pemadaman Listrik Bergilir di Jatim Picu Kebakaran, Stasiun Gubeng Gelap Total
Bandara Maumere Ditutup Akibat Erupsi Gunung Lewotobi
Brasil Hancurkan Haiti 3-0, Puncaki Klasemen Grup C Piala Dunia