Pendapatan Telekomunikasi Jenuh, Energi Terbarukan Solusi
Gambar atau konten salah?
BRIN menyatakan bahwa pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia sudah mencapai titik jenuh. Solusi yang dipertimbangkan adalah energi terbarukan, yang dapat membantu operator meningkatkan pendapatan.
Dr. Moch Mardi Marta Dinata, peneliti ahli muda di Kelompok Riset Communication and Signal Processing, mengutip hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC). Analisis historis pendapatan dari tahun 2021 hingga perkiraan hingga 2032 menunjukkan peningkatan hanya 1,2%.
"Jadi saat ini operator harus giat-giatnya untuk menggenjot sales mereka, membuat paket-paket menarik untuk bisa meraih revenue yang lebih karena legacy services sudah sangat sedikit digunakan, telepon dan SMS," ujarnya.
Ia menyampaikan poin tersebut dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi yang bertema 'Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia', Rabu, 20 Mei 2026.
Selain menekan penjualan, mengoptimalkan biaya energi juga penting untuk memaksimalkan pendapatan dan menurunkan biaya operasional. Biaya energi menyumbang 20% dari total biaya operasional operator.
"90% dari total 20% itu digunakan untuk membeli bahan bakar dan juga listrik," terang Dr. Mardi.
Dr. Mardi menanyakan apa saja potensi efisiensi yang dapat dilakukan oleh operator telekomunikasi di Indonesia. Menurut analisis McKinsey, ada empat pendorong utama: keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri yang memengaruhi.
Namun, ia beranggapan potensi penghematan biaya energi terbesar datang dari pembelian atau pembangkit energi hijau yang dapat untuk jaringan telekomunikasi.
"Dengan penambahan renewable energy, penggunaannya bisa menggunakan solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau lain sebagainya yang sesuai dengan kondisi atau profil dari site tersebut, dan. Tapi di sini tinggal pertanyaan, kenapa sampai sekarang operator telekomunikasi di Indonesia khususnya belum mengimplementasikan renewable energy system ini di jaringan mereka?"
Dr. Mardi mengingat bahwa riset terkait sudah dimulai pada tahun 2010. Pada saat itu, yang Telkom Indonesia melakukan proyek percontohan instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera.
"Berarti kan ada barrier dari operator, kenapa sampai sekarang sudah hampir 15 tahun, dan lebih dari 15 tahun belum juga mengimplementasikan ini secara menyeluruh?"
Perbincangan ini menyoroti tantangan yang dihadapi operator telekomunikasi dalam mengadopsi energi terbarukan, sekaligus menegaskan pentingnya inovasi untuk menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah kondisi pasar yang jenuh.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
