Pengangguran Anak Muda 40% Naik Karena Izin Kerja Diblokir
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Tepi Barat, pendidikan sering dianggap sebagai jalan keluar bagi banyak warga Palestina. Tetapi kenyataan baru saja mulai berubah. Data dari Palestine Economic Policy Research Institute (MAS) menunjukkan bahwa hampir 40 % anak muda yang hanya memiliki ijazah diploma masih menganggur. Tingkat pengangguran di wilayah tersebut melompat lebih dari dua kali lipat sejak 1 Oktober 2023.
Perubahan ini dipicu oleh kebijakan Israel yang membekukan izin kerja bagi sekitar 115 ribu warga Palestina yang sebelumnya bekerja di Israel. Hanya sebagian kecil izin yang kemudian diperpanjang, memperparah krisis lapangan kerja. Mahasiswa jurusan bisnis, Christy Abu Mahour mengungkapkan rasa frustrasinya: “Kami melihat orang-orang di seluruh dunia mendapatkan pekerjaan dan menjalani hidup terbaik mereka, sementara kami terjebak,” katanya.
Masalahnya tidak hanya pada pekerjaan. Mantan Wali Kota Bethlehem, Maher Canawati menambahkan bahwa krisis ini mendorong banyak warga untuk meninggalkan negaranya. Ia menyebutkan contoh nyata: “Kami melihat dokter bekerja di restoran, arsitek kesulitan mencari kerja, perawat memohon pekerjaan. Semua hanya ingin hidup normal dan memiliki masa depan yang layak,” ujarnya.
Para mahasiswa di Tepi Barat juga menghadapi hambatan akademik. Penutupan jalan dan razia militer membuat perjalanan ke kampus menjadi sulit. Ketika eskalasi politik meningkat, perkuliahan sering dialihkan secara daring. Seorang mahasiswa media, Khaled Abu Aishah, bertanya, “Untuk apa saya kuliah pada akhirnya? Bukankah saya belajar agar bisa mendapat pekerjaan?”
Konselor akademik dan karier Universitas Bethlehem, Enass Elias, mendengar keluhan serupa semakin sering. Ia mengatakan banyak mahasiswa merasa lelah secara psikologis karena setelah bertahun-tahun belajar, peluang kerja tetap sangat terbatas. Setiap tahun, universitas-universitas Palestina menghasilkan puluhan ribu lulusan baru, tetapi ekonomi lokal tidak tumbuh cukup cepat untuk menyerap mereka. Akibatnya, banyak lulusan akhirnya bekerja di luar bidang keahlian mereka.
Seorang lulusan fisioterapi, Salsabyl Salama, berusia 25 tahun, mengaku hanya sempat mendapat kontrak kerja empat bulan melalui program UNRWA di kamp pengungsi Bethlehem. Kini ia bekerja sebagai kasir supermarket. “Ini bukan impian saya, tetapi pekerjaan ini membuat saya bisa mandiri,” ujarnya.
Persaingan kerja di wilayah ini sangat ketat. Ketika rumah sakit membuka dua lowongan pekerjaan, sebanyak 60 hingga 70 lulusan melamar posisi tersebut. Banyak perusahaan meminta pengalaman kerja sebelumnya, sehingga lulusan baru sulit masuk ke pasar kerja. Pekerjaan di sektor publik yang dulu dianggap stabil juga semakin dihindari. Sejak 2021, Otoritas Palestina kesulitan membayar gaji pegawai akibat Israel menahan sebagian besar pendapatan pajak Palestina. Krisis fiskal itu semakin memburuk setelah perang Gaza pecah pada 1 Oktober 2023.
Dengan kondisi yang terus memburuk, banyak warga Palestina yang merasa terjebak. Mereka ingin hidup normal, memiliki masa depan yang layak, dan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Namun, sistem yang ada tidak memberi ruang bagi mereka untuk mewujudkannya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz