Pengusaha Desak Transisi BI Mulus

Jaka M. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Pengusaha Desak Transisi BI Mulus

Gambar atau konten salah?

Dunia usaha menyambut keputusan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menekankan satu hal: transisi kepemimpinan di BI harus berjalan mulus. Ini bukan soal siapa yang duduk di kursi nomor satu bank sentral. Ini soal bagaimana kebijakan moneter tetap berkesinambungan, kredibilitas institusi tidak goyah, dan kepercayaan pasar tidak luntur.

Shinta menjelaskan, pelaku usaha saat ini sedang bergulat dengan banyak masalah. Ekonomi global belum stabil. Perdagangan internasional penuh kejutan. Nilai tukar rupiah bergerak liar. Biaya pembiayaan masih tinggi. Semua itu membuat dunia usaha sangat bergantung pada kepastian kebijakan dari BI.

"Karena itu, dunia usaha berharap proses transisi kepemimpinan di BI tetap dapat memberikan sinyal yang kuat bahwa mandat utama dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan tetap menjadi prioritas. Bagi dunia usaha, kepastian arah kebijakan moneter memiliki arti yang sangat penting," ujar Shinta saat dihubungi pada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Shinta, pengunduran diri Perry tidak akan langsung mengubah aktivitas industri secara fundamental. Dampak yang lebih mungkin terjadi adalah pasar akan lebih jeli mengamati arah kebijakan BI ke depan. Jika transisi berjalan rapi dan komunikasi kebijakan tetap jelas, kredibel, dan bisa diprediksi, maka gejolak pasar bisa diredam. Investor pun tetap percaya.

"Sebaliknya, ketidakpastian yang berlangsung terlalu lama berpotensi mempengaruhi sentimen pasar, nilai tukar, biaya pendanaan, serta keputusan investasi. Bagi sektor riil, stabilitas makroekonomi merupakan fondasi utama bagi kegiatan usaha," katanya.

Ia menambahkan, "Dunia usaha membutuhkan inflasi yang terkendali, nilai tukar yang relatif stabil, biaya pendanaan yang terjaga, serta kepastian arah kebijakan agar perusahaan dapat mengambil keputusan investasi dan ekspansi dengan tingkat keyakinan yang memadai."

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menghormati keputusan Perry. Ia yakin pengunduran diri itu sudah melalui pertimbangan matang. Termasuk memikirkan dampaknya terhadap berbagai pihak.

Sarman berharap pemerintah segera menunjuk pengganti Perry. Sosok yang dicari harus punya pengalaman kuat di bidang moneter. Siapa pun nantinya, harus bisa diterima pasar dan mendapat respons positif.

"Di tengah tekanan ekonomi akibat geopolitik global yang penuh ketidakpastian, kita butuh sosok Gubernur Bank Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menghadapi dinamika ekonomi global yang berdampak pada perekonomian nasional. Dengan sosok yang tepat dan direspon positif oleh pasar tentu akan mampu meyakinkan para investor keuangan untuk tetap bertahan di pasar modal Indonesia," ujarnya saat dihubungi.

Lebih lanjut, Sarman mengatakan dunia usaha menaruh harapan besar kepada Gubernur BI yang baru. Tugas utamanya: memperkuat nilai tukar rupiah. Data Bloomberg pada perdagangan pagi ini menunjukkan rupiah melemah 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp 17.969 per dolar AS.

"Artinya Gubernur BI yang baru diharapkan memiliki strategi khusus yang mampu membawa nilai kurs rupiah kita ke angka yang moderat sehingga dunia usaha juga akan ikut merasakan dampak penguatan nilai kurs rupiah," bebernya.

Intinya, dunia usaha tidak menginginkan perubahan besar-besaran di BI. Mereka hanya ingin kepastian. Stabilitas nilai tukar, inflasi yang terkendali, dan biaya pendanaan yang wajar. Semua itu menjadi fondasi agar mereka bisa bernapas lega dan melanjutkan ekspansi bisnis. Tanpa itu, keputusan investasi akan tertunda. Dan itu bukan kabar baik bagi siapa pun.

transisi kepemimpinan BIstabilitas kebijakan moneterkepastian nilai tukar rupiahkepercayaan pasarinflasi terkendalistabilitas sistem keuanganbiaya pendanaan

Komentar

Memuat komentar...