Penjualan Ritel Maret 2026 Naik 9,3% Berkat Ramadan

Sari D. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Penjualan Ritel Maret 2026 Naik 9,3% Berkat Ramadan

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penjualan ritel pada bulan Maret 2026 akan tetap tumbuh positif. Prediksi ini didasarkan pada Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diperkirakan naik sebesar 2,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menekankan bahwa pertumbuhan ini berasal dari beberapa kelompok barang. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi semuanya menunjukkan peningkatan. Kinerja mayoritas kelompok ini, khususnya Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang, berkontribusi besar pada kenaikan penjualan.

Jika dilihat secara bulanan, penjualan ritel pada Maret 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 9,3% (month‑to‑month), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 yang hanya 4,1%. Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang sejalan dengan peningkatan permintaan rumah tangga selama periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H," kata Ramdan dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (1/5/2026).

Selanjutnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, memperkirakan penjualan ritel Indonesia tidak hanya tumbuh positif pada Maret 2026, tetapi juga pada kuartal pertama secara keseluruhan. Hal ini terlihat dari IPR yang tumbuh 4,86% pada kuartal I‑2026, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 2,77%.

"Kalau lihat kuartal I ini pertumbuhan indeks penjualan real itu lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal I tahun yang lalu 2025. Kalau secara rata‑rata di tahun ini kuartal I indeks penjualan real 5%, tahun lalu itu 3%," kata Faisal kepada detikcom.

Faisal menambahkan bahwa pertumbuhan ini banyak didorong oleh peningkatan konsumsi dari masyarakat kelas atas. Saat ini, tingkat konsumsi kelas menengah masih terbatas, namun secara keseluruhan konsumsi rumah tangga tetap kuat. "Memang kalau di kuartal I itu cenderung kuat konsumsi rumah tangga secara agregat ya. Walaupun kalau kita melihat dari sebarannya mungkin kelas menengah itu masih terus tergerus dari daya belinya. Tapi secara total ini lebih kuat dibandingkan dengan tahun lalu. Kelas atas tampaknya itu menurut saya spending lebih bagus juga ya. Itu yang mendongkrak kenapa secara total indeks penjualan riil dan juga konsumsi rumah tangga pada umumnya itu lebih bagus pada kuartal I," jelasnya.

Dalam sektor konsumsi, penjualan ritel mayoritas didorong oleh kelompok makanan dan minuman. Pertumbuhan konsumsi di sektor ini masih meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Kalau dari jenis spending‑nya ini masih lebih cenderung kepada belanja kebutuhan yang esensial seperti makanan‑minuman itu yang mendorong pertumbuhannya lebih cepat dibanding tahun yang lalu. Sementara yang lain‑lain seperti misalnya suku cadang motor itu positif tapi lebih lambat daripada yang tahun lalu," ujarnya.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad juga berpendapat bahwa penjualan eceran mayoritas masih didominasi oleh kelompok makanan dan minuman. Sementara sektor lain cenderung tumbuh, namun masih kurang cepat. "Indeks penjualan riil memang kalau kita lihat sih cenderung yang bahan pangan dan sebagainya, tetap stabil. Di luar itu rasanya growth‑nya nggak terlalu bagus. Masih di bawah 5%, bahkan ada yang negatif kan ya," terang Tauhid.

Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi dalam negeri. Konflik ini dapat mempengaruhi laju penjualan ritel di Indonesia. "Kalau awal perang orang sudah signal nih bahwa situasi global juga pengaruh ke domestik. Dampaknya pasti orang sudah tahu akan ada kenaikan harga BBM dan sebagainya begitu, sehingga banyak masyarakat mengantisipasi itu untuk menahan pembelian," tutur Tauhid.

Ia menambahkan bahwa dampak dari konflik ini akan mulai terlihat pada kinerja penjualan eceran kuartal II‑2026, mulai dari April. Harga BBM non‑subsidi mulai mengalami penyesuaian, yang berpotensi mempengaruhi konsumsi masyarakat ke depan. "Waktu Maret ekskalasinya belum besar, karena adjustment harga BBM‑nya belum dilakukan. April kan baru dilakukan, terutama di non‑subsidi kan baru April tuh beberapa adjustment walaupun nggak gede ya dibandingkan Mei kemarin," paparnya.

Secara keseluruhan, proyeksi BI menunjukkan pertumbuhan positif di sektor ritel, didukung oleh permintaan konsumen, khususnya selama periode perayaan keagamaan. Namun, faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan penyesuaian harga BBM dapat memengaruhi dinamika pasar di kuartal berikutnya. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang terhadap pola konsumsi dan stabilitas ekonomi domestik.

Penjualan RitelIndeks Penjualan RiilRamadanIdulfitriBBMGeopolitikKonsumsi Kelas Atas

Komentar

Memuat komentar...