Penyandang Disabilitas Raih Dua Cumlaude, Kini Incar CPNS

Sari D. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Penyandang Disabilitas Raih Dua Cumlaude, Kini Incar CPNS

Gambar atau konten salah?

Jambi — Seorang penyandang disabilitas bernama Dimas Dwi Putra berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk menempuh pendidikan tinggi. Dua kali ia diwisuda, dua kali pula ia meraih predikat cumlaude. Namun impian terbesarnya belum tercapai: menjadi aparatur sipil negara (ASN) di bidang pendidikan.

"Saya tidak pernah merasa perjuangan saya selesai setelah lulus. Justru setelah mendapatkan gelar, saya merasa punya tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan ilmu yang saya miliki," ujar Dimas, Senin (13 Juli 2026).

Dimas hidup dengan cerebral palsy, gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan gerak tubuhnya sejak kecil. Hampir semua aktivitas membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan orang lain. Langkahnya lambat, tapi semangatnya selalu lebih cepat.

"Kalau saya melihat kondisi fisik terus, mungkin saya sudah menyerah sejak lama. Tapi saya memilih melihat apa yang masih bisa saya lakukan, bukan apa yang tidak bisa saya lakukan," katanya.

Keyakinan itu membawanya menyelesaikan Strata 1 di Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi. Saat namanya disebut sebagai lulusan terbaik dengan predikat cumlaude, semua perjuangan terasa terbayar. Tapi gelar sarjana belum cukup memuaskan dahaganya akan ilmu.

Ia melanjutkan pendidikan Magister Aqidah dan Filsafat Islam di kampus yang sama. Selama satu setengah tahun, Dimas mendalami filsafat Islam dan menyelesaikan tesis berjudul Konsep Wahdat al-Wujud. Pada November 2025, ia kembali berdiri di panggung wisuda. Lagi-lagi, namanya diumumkan sebagai lulusan cumlaude dengan IPK 3,77.

"Bagi saya, cumlaude bukan tujuan. Itu hanya bonus dari usaha yang saya lakukan. Yang paling penting adalah ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat untuk orang lain," ujarnya.

Di balik pencapaian akademik itu, ada kisah yang jarang diketahui. Selama kuliah, Dimas hampir tak pernah sendiri. Ibunya, Siti Zahara, menjadi pendamping paling setia. Sang ibu mengantar, menunggu hingga perkuliahan selesai, lalu pulang bersama putranya yang tak pernah berhenti mengejar cita-cita.

"Saya tidak mungkin bisa sampai di titik ini tanpa doa orang tua. Terutama ibu saya. Beliau selalu ada menemani saya, bahkan ketika saya sendiri merasa lelah," kata Dimas.

Ia mengaku sering lelah secara fisik. Tapi setiap kali rasa putus asa datang, ia memilih mengingat alasan memulai semua ini.

"Saya selalu bilang ke diri saya sendiri, jangan menyerah. Kalau saya menyerah, perjuangan orang tua saya juga akan sia-sia."

Selain keluarga, Dimas menyimpan rasa hormat kepada almarhum Prof. As'ad Isma, mantan Rektor UIN STS Jambi. Menurutnya, almarhum banyak memberikan motivasi kepada mahasiswa penyandang disabilitas.

"Beliau selalu mengatakan bahwa kami harus percaya diri. Jangan pernah merasa rendah karena kondisi fisik. Kalimat itu yang sampai sekarang selalu saya ingat," kenang Dimas.

Meski kini bergelar magister, jalan yang ingin ditempuh Dimas belum sepenuhnya terbuka. Sejak diwisuda November 2025, ia belum mendapat kesempatan menjadi tenaga pendidik atau bekerja di kampus yang sangat dicintainya. Padahal sejak lama ia ingin mengajar di almamaternya sendiri.

"Saya memang berharap bisa mengabdi di UIN STS Jambi. Tapi kalau sampai hari ini belum ada kesempatan, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Mungkin Allah sedang menyiapkan waktu yang terbaik," katanya.

Baginya, harapan tidak boleh berhenti hanya karena kenyataan belum berpihak.

Dimas kini mempersiapkan diri mengikuti seleksi CPNS jika formasi di bidang pendidikan kembali dibuka. Ia ingin mengabdikan ilmunya sebagai ASN.

"Saya ingin menjadi abdi negara. Saya ingin mengajar. Saya ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga bisa memberikan kontribusi bagi bangsa jika diberi kesempatan."

Mimpinya bahkan belum berakhir di situ. Dimas masih ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Ia berharap suatu hari bisa kembali ke kampus yang membesarkannya, bukan sebagai mahasiswa, tetapi sebagai dosen.

"Kalau Allah memberikan rezeki, saya ingin kuliah S3. Saya ingin menjadi doktor dan mengajar di kampus tempat saya dulu belajar," jelasnya.

Baginya, UIN STS Jambi bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Di kampus itu, Dimas belajar bahwa penyandang disabilitas tidak dibedakan. Ia diberi ruang untuk berkembang, hingga ia bermimpi suatu hari bisa kembali dan mengabdi di sana.

Meski belum bekerja, Dimas tak pernah membiarkan ilmunya berhenti. Ia terus membaca, menulis, dan memperdalam kajian filsafat Islam. Jika suatu hari cita-citanya menjadi ASN atau dosen belum tercapai, ia tetap ingin menebarkan manfaat melalui tulisan.

"Kalau saya belum bisa mengajar di kelas, mungkin saya bisa mengajar lewat tulisan. Yang penting ilmu itu tidak berhenti di diri saya," ujar pria kelahiran 25 Mei 2002 itu.

Di akhir perbincangan, Dimas menyampaikan satu harapan sederhana. Tuhan mungkin tidak memberinya tubuh yang sempurna. Namun Tuhan memberinya keyakinan untuk terus berjalan, bahkan ketika jalan itu jauh lebih berat daripada yang dilalui kebanyakan orang.

Hari ini ia memang belum mengenakan seragam ASN. Ia juga belum berdiri di depan kelas sebagai dosen. Tapi satu hal telah ia buktikan kepada banyak orang: mimpi tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah, meski dunia berkali-kali menguji langkah itu.

"Saya tidak ingin masyarakat melihat kami karena kekurangan kami. Lihatlah kemampuan kami. Berikan kesempatan yang sama, maka kami akan berusaha memberikan hasil yang terbaik," tegas Dimas.

Dimas adalah contoh nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan tinggi dan bermimpi besar. Perjuangannya belum selesai — ia masih menanti kesempatan untuk mengabdi, baik sebagai ASN, dosen, atau melalui tulisan-tulisannya. Pesannya sederhana: lihat kemampuan, bukan kekurangan. Beri kesempatan yang sama, dan penyandang disabilitas akan memberikan hasil terbaik mereka.

disabilitasprestasicumlaudependidikan tinggiASNcerebral palsyperjuangan

Komentar

Memuat komentar...