Penyembelihan Syariat Manusiawi, Daging Lebih Sehat

Bima J. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Penyembelihan Syariat Manusiawi, Daging Lebih Sehat

Gambar atau konten salah?

Hari Idul Adha menjadi momen bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban. Hewan yang biasanya dipilih adalah kambing, domba, atau sapi. Namun, di balik tradisi ini ada fakta ilmiah yang menarik.

Menurut penelitian yang dikutip dari website Mustawim Islamic Art Literature, penyembelihan sesuai syariat Islam tidak menimbulkan rasa sakit pada hewan yang dikurbankan. Klaim ini didukung oleh Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya Dr Hazim dari University of Hannover di Jerman.

Metode penyembelihan menurut syariat Islam memerlukan sayatan cepat dan dalam. Pisau yang digunakan harus sangat tajam. Sayatan tersebut memotong tiga saluran di leher: saluran makan, saluran napas, dan dua arteri. Dengan cara ini, darah dapat keluar dengan cepat.

Berbeda dengan metode konvensional yang biasanya memulai proses dengan stunning menggunakan pistol listrik. Setelah hewan dilumpuhkan, pemotongan dilakukan. Proses ini memudahkan peternak, namun memiliki dampak berbeda pada hewan.

Untuk membandingkan kedua metode, para peneliti menanamkan elektroda melalui pembedahan di berbagai titik tengkorak semua hewan yang diuji. Elektroda tersebut merekam aktivitas elektrik otak (EEG) dan jantung (EKG). EEG mengukur fluktuasi tegangan di kulit kepala, sementara EKG mencatat aktivitas jantung.

Hasil rekaman EEG pada penyembelihan syariat menunjukkan tidak ada perubahan pada grafik selama tiga detik pertama setelah sayatan. Ini menandakan tidak ada rasa sakit. Pada tiga detik berikutnya, EEG pada otak kecil menurunkan grafik secara bertahap, mirip dengan tidur. Akhirnya, grafik menurun hingga hewan kehilangan kesadaran.

Setelah enam detik pertama, EKG pada jantung mencatat aktivitas luar biasa. Jantung memompa darah dengan kuat, menarik darah dari seluruh tubuh dan memompanya keluar. Koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang memaksimalkan aliran darah. Akibatnya, daging yang dihasilkan menjadi sehat dan sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP).

Di sisi lain, penyembelihan konvensional setelah proses stunning menghasilkan darah yang keluar sedikit. Meskipun hewan tidak bergerak, EEG menunjukkan peningkatan grafik yang signifikan, menandakan rasa sakit. EKG menunjukkan penurunan aktivitas jantung, sehingga darah tidak terpompa keluar secara maksimal. Darah yang tersisa membeku di dalam pembuluh darah, menghasilkan daging yang tidak sehat dan tidak layak dikonsumsi.

Umat Islam menekankan pentingnya perlakuan baik terhadap semua makhluk. Menurut ajaran, manusia diperintahkan untuk tidak menyakiti hewan. Oleh karena itu, sebelum menyembelih, pisau harus diasah setajam mungkin dan proses dimulai dengan membaca basmallah: Bismillahirrohmanirrohim.

Dari Syadad bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisau kalian untuk meringankan beban hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim no 1955).

Penelitian ini menunjukkan bahwa metode penyembelihan syariat tidak hanya memenuhi tuntunan agama tetapi juga mengurangi rasa sakit pada hewan. Selain itu, hasil dagingnya lebih sehat karena aliran darah yang optimal. Sebaliknya, metode konvensional, meskipun praktis, dapat menimbulkan rasa sakit dan menghasilkan daging yang kurang sehat. Dengan demikian, pendekatan syariat menawarkan solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan bagi praktik kurban.

Idul AdhaPenyembelihan KurbanMetode SyariatEEGEKGDaging SehatRasa SakitGMP

Komentar

Memuat komentar...