Perindustrian dan Keuangan Bahas Insentif EV untuk Manufaktur
Gambar atau konten salah?
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di kantor kementerian di Jakarta Pusat pada pagi hari. Dalam pertemuan tersebut, kedua pejabat membahas berbagai hal yang berkaitan dengan sektor manufaktur, khususnya bagaimana industri dalam negeri dapat meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Agus menjelaskan, “Kami berdua, Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian duduk, kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku usaha industri. Nah itu kemudian mencarikan jalan keluarnya.” Ia menambahkan bahwa fokus utama pembahasan adalah pemberian stimulus dan insentif untuk sektor manufaktur, termasuk insentif bagi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang sudah berakhir pada Desember 2025.
“Jadi kita tadi intinya memang membahas apa saja policy-policy, langkah-langkah yang perlu kita ambil, pemerintah ambil baik itu sebagai stimulus maupun sebagai insentif agar pertumbuhan manufaktur yang akan menopang pertumbuhan ekonomi itu bisa berjalan lebih baik dan lebih cepat,” ujarnya. Meski begitu, Agus belum dapat memastikan apakah insentif mobil dan motor listrik akan benar-benar diberikan. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya dapat mengusulkan terkait pemberian stimulus.
“Kita sudah bicara salah satunya juga bicara soal insentif sebagai stimulus. Kalau memang pemerintah memberikan insentif untuk motor atau mobil listrik, ini semakin relevan,” ucap Agus. Ia menyoroti bahwa kebijakan sebelumnya lebih menekankan pada pengurangan emisi, namun kini pemerintah juga ingin mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi yang terkait.
Purbaya, di sisi lain, menyatakan bahwa pemerintah tengah mengusahakan pemberian insentif untuk kendaraan listrik baik motor maupun mobil. Ia menilai tren kendaraan listrik saat ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. “Kita usahakan ke sana (motor dan mobil listrik),” kata Purbaya di kantor kementerian pada Senin, 04 Mei 2026.
Menurut Purbaya, pemerintah akan segera mengevaluasi bentuk insentif yang akan diberikan dalam waktu dekat. Ia juga mengungkapkan sudah berkomunikasi dengan Menteri Perindustrian dan berencana melakukan pertemuan lanjutan pada Selasa, 05 Mei 2026. “Mungkin kita akan memikirkan lagi nanti gimana ngasih insentif untuk mobil listrik dalam waktu dekat. Saya akan ketemu lagi dengan Menteri Perindustrian. Sudah telponan. Nanti mau lihat lagi, ketemunya besok kali,” ujarnya.
Dengan adanya dialog ini, kedua kementerian berusaha menemukan solusi konkret bagi pelaku industri, khususnya dalam menghadapi tantangan pasar dan kebijakan fiskal. Fokus pada stimulus dan insentif di sektor manufaktur, termasuk kendaraan listrik, diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi serta mengurangi ketergantungan pada BBM.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
