Petani Viral: Cabai Diberi Paracetamol, Kementan Peringatkan

Rudi H. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Petani Viral: Cabai Diberi Paracetamol, Kementan Peringatkan

Gambar atau konten salah?

Seorang petani di Bandung membuat heboh jagat maya setelah membagikan caranya memakai obat-obatan manusia untuk menyuburkan tanaman cabai. Dalam video yang beredar, ia menunjukkan sekantong plastik berisi vitamin B complex dan satu kotak paracetamol. Alasannya? Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang membuat harga pupuk dan pestisida melambung.

"Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss," katanya sambil memperlihatkan hamparan kebun cabai yang tumbuh subur dan hijau. Video itu langsung menyebar cepat. Banyak petani lain penasaran. Tapi Kementerian Pertanian angkat bicara.

Muhammad Agung Sunusi, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat di Kementan, menegaskan bahwa praktik ini tidak direkomendasikan untuk budi daya cabai di Indonesia. Ia mengatakan, fenomena itu kemungkinan besar hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau informasi yang beredar di media sosial—bukan hasil riset ilmiah yang teruji.

"Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang memadai yang menunjukkan bahwa paracetamol dapat meningkatkan produktivitas cabai secara konsisten, aman, dan ekonomis di tingkat lapangan. Oleh karena itu, praktik tersebut tidak dapat dijadikan acuan budi daya yang direkomendasikan," ujar Agung saat dihubungi pada 19 Juni 2026.

Kementan mendorong petani untuk menggunakan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang sudah terdaftar resmi—yang punya dasar ilmiah dan izin edar. Obat-obatan untuk manusia, seperti paracetamol atau vitamin B complex, belum punya rekomendasi resmi untuk tanaman cabai di Indonesia. Sederhananya: jangan coba-coba kalau belum ada bukti.

Soal alasan petani itu—bahwa pelemahan rupiah memicu aksinya—Agung tidak menampik. Nilai tukar memang mempengaruhi harga sebagian bahan baku pupuk dan pestisida. Tapi pemerintah, katanya, terus berupaya menjaga pasokan dan harga agar petani tidak kelabakan.

"Fluktuasi nilai tukar memang dapat mempengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida, tetapi pemerintah terus berupaya menjaga pasokan melalui koordinasi dengan produsen, distributor, dan pemerintah daerah agar kebutuhan petani tetap terpenuhi," jelasnya.

Agung merinci empat langkah yang dilakukan pemerintah untuk menjaga ketersediaan sarana produksi pertanian:

  1. Memastikan distribusi pupuk bersubsidi dan pupuk komersial berjalan sesuai kebutuhan petani.
  2. Mendorong penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan teknologi budidaya yang lebih efisien—sehingga ketergantungan pada impor bisa ditekan.
  3. Mendorong penggunaan pestisida dan pupuk yang sudah terdaftar sesuai rekomendasi teknis, supaya pemakaiannya efektif dan tidak boros.
  4. Melakukan pendampingan budidaya lewat penyuluh pertanian, agar petani mendapat teknologi yang tepat dan berbasis hasil penelitian.

Jadi, meski video petani itu viral dan terlihat menggoda, Kementan mengingatkan bahwa belum ada bukti ilmiah yang mendukung. Paracetamol dan vitamin B complex mungkin bekerja pada tubuh manusia, tapi pada tanaman cabai? Belum tentu. Pemerintah lebih menyarankan petani untuk tetap setia pada pupuk dan pestisida yang sudah teruji—dan kalau harga naik, ada program subsidi serta pendampingan yang bisa diakses.

paracetamolvitamin B complexpupukpetanicabaiKementerian Pertaniannilai tukar rupiah

Komentar

Memuat komentar...