Pinjaman Online Meningkat Generasi Muda Tertarik Doomspending
Gambar atau konten salah?
Bandung – Fenomena pinjaman online (pinjol), paylater, dan perilaku doomspending semakin meluas di kalangan generasi muda. Kemudahan akses layanan keuangan digital bersatu dengan dorongan mengikuti tren menjadi salah satu pemicu utama.
Menurut Kepala OJK Jawa Barat Darwisman, perilaku konsumtif tersebut didorong oleh sikap tidak ingin tertinggal dari rekan sebaya pada berbagai aspek yang seringkali bukan kebutuhan primer. Akibatnya, pinjaman online menjadi jalan keluar bagi banyak orang.
"Yang lagi tren generasi muda karena FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once). Banyak yang aktif melakukan pinjaman tadi. Pinjol hampir 7,9 juta rekening fintech. Mudah-mudahan ini yang legal," kata Darwisman saat ditemui setelah diskusi literasi keuangan bertajuk Pinjol dan Doomspending: Cerdas Finansial, Bijak Digital dan Amankan Masa Depan di kampus Unisba Bandung, 12 Juni 2026.
Menurutnya, tingginya penggunaan pinjol tidak terlepas dari rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat. Banyak orang belum mampu menyusun perencanaan keuangan dengan baik sehingga lebih mengedepankan keinginan dibanding kebutuhan.
"Tidak punya uang kemudian melakukan pinjaman. Perencanaan yang tidak baik ini juga karena mereka literasinya rendah, pemahamannya (dalam mengatur keuangan) juga rendah. Tidak tahu mana yang kebutuhan," ujarnya.
Darwisman menilai kondisi tersebut membuat masyarakat mudah tergoda untuk membeli sesuatu tanpa perhitungan matang. Kemudahan teknologi digital membuat sebagian orang terbiasa berbelanja terlebih dahulu dan memikirkan pembayaran kemudian.
"Ketika keinginan yang ditonjolkan, inilah yang membuat mereka memaksakan pinjam tapi tidak berpikir dengan baik. Langsung checkout, bayarnya dipikirin belakangan. Ini yang bisa membuat akhirnya dampak sosialnya luar biasa," katanya.
OJK Jawa Barat mencatat hingga saat ini terdapat sekitar 7,9 juta rekening peer to peer lending di Jawa Barat dengan total penyaluran pembiayaan mencapai sekitar Rp23 triliun. Meski demikian, tingkat kredit bermasalah atau TWP 90 masih berada pada kisaran 2 hingga 3 persen.
"Untuk data saat ini 7,9 juta akun itu (nilai transaksinya) mencapai Rp23 triliun. TWP 90 hari ini masih 2 sampai 3 persen. Kalau data yang dilaporkan ini benar, memang di Jawa Barat ini masih ada kemampuan bayar," ujar Darwisman.
Meski tingkat gagal bayar masih relatif terkendali, OJK menilai tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan. Pasalnya, tingkat inklusi keuangan di Jawa Barat masih jauh lebih tinggi dibanding tingkat literasi keuangan.
Darwisman menjelaskan banyak masyarakat yang sudah memiliki rekening bank atau menggunakan berbagai produk keuangan, namun belum memahami cara mengelolanya secara bijak.
"Literasi keuangan harus ditingkatkan. Gap antara inklusi masih tinggi dibandingkan literasi. Jadi ada yang punya tabungan atau rekening bank, tapi mereka tidak tahu (cara mengelola uang)," ungkapnya.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025, ia mengatakan, kelompok usia 18 hingga 25 tahun memiliki tingkat akses terhadap produk dan layanan keuangan di atas 98 persen. Kondisi tersebut menunjukkan generasi muda menjadi kelompok yang sangat aktif menggunakan layanan keuangan digital.
Di sisi lain, data pinjaman daring atau peer to peer lending secara nasional telah mencapai sekitar Rp82 triliun. Lebih dari separuh peminjam berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun.
Darwisman mengatakan kemudahan akses pembiayaan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata.
"Kuncinya adalah perlu angkat literasi keuangannya. Bukan hanya paham, tapi perilakunya harus bijak dalam mengelola keuangan," katanya.
Selain persoalan pinjaman online legal, ia memaparkan, Jawa Barat juga masih menghadapi tantangan berupa maraknya investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga judi online. Dari ketiga aspek tersebut, Jabar menduduki peringkat tertinggi secara nasional.
"Di Jabar yang lagi ditangani investasi ilegal. Investasi ilegal masih bergerak terus di lapangan yang sudah puluhan miliar. Pinjol ilegal, judol. Semuanya ranking satu yang jelek. Ini yang jadi tantangan Jawa Barat," ujar Darwisman.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati mengelola pengeluaran di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Kenaikan harga berbagai komoditas dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
"Dengan harga yang naik saya harap benar-benar dihitung dan ditahan dulu untuk pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Fokus dulu sampai pinjaman yang sudah ada bisa di-maintenance dengan baik," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tunggakan sekecil apa pun akan tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Hal tersebut dapat memengaruhi akses pembiayaan seseorang di masa depan.
"Karena satu rupiah pun nanti akan masuk ke laporan SLIK di OJK. Fokus tahan dulu segalanya agar semua masih bisa di-maintenance dengan baik," katanya.
Sementara itu, Rektor Unisba Prof. Harits Nu'man mengatakan literasi keuangan menjadi krusial saat ini, terutama di kalangan anak muda. Masyarakat harus memahami berbagai risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
"Paylater saja belum dipahami apa ini dampaknya ke depan. Jadi sebetulnya tidak hanya berpikir manfaat tetapi juga harus berpikir dampak," ujarnya.
Ia menilai mahasiswa menjadi kelompok yang rentan terjebak perilaku konsumtif karena dorongan untuk mengikuti tren. Fenomena FOMO dianggap menjadi katalis bagi generasi muda untuk mengambil keputusan finansial tanpa pertimbangan matang.
"Ini menjadi pukat harimau-nya, menjadi penjerat bagi para mahasiswa yang memang gengsi. Mereka takut dianggap sebagai orang yang terlambat untuk mengikuti tren ini," katanya.
"Jangan sampai ke-FOMO-an ini memberikan dampak yang tidak baik, dampak negatif terhadap para generasi yang tentunya lebih melek terhadap teknologi," lanjutnya.
Dalam diskusi yang sama, Psikolog Ilmi Hatta menjelaskan bahwa doomspending merupakan perilaku belanja berlebihan yang dilakukan sebagai respons terhadap kecemasan dan stres. Belanja dapat memberikan efek dopamin secara cepat.
"Belanja adalah pelarian karena hormon dopamin saat itu muncul dengan cepat. Doomspending sering dimotivasi oleh kecemasan dan terjadi saat orang tertekan," paparnya.
Menurutnya, solusi untuk mengatasi doomspending bukan sekadar meningkatkan disiplin, melainkan membangun sistem yang membantu seseorang memahami pemicu perilaku tersebut.
"Bukan lebih disiplin. Ini soal sistem. Kenali diri Anda, dalam kondisi apa saya belanja? Apakah cari validasi? Pelarian?" kata Ilmi.
Ia menyarankan masyarakat untuk memberikan jeda sebelum membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan. Hal ini dapat membantu seseorang untuk mengendalikan impulsnya.
"Jika hendak membeli sesuatu yang tidak terencana, tunggu 48 jam," ujarnya.
Selain itu, pelampiasan emosi melalui belanja juga perlu diganti dengan aktivitas yang lebih sehat, salah satunya olahraga. Ia mengatakan, hal tersebut yang dapat memicu produksi hormon endorfin secara alami.
"Ganti pelampiasan. Yang paling gampang adalah olahraga, memberi endorfin alami," kata Ilmi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih banyak melakukan refleksi diri ketika menghadapi kecemasan yang berpotensi memicu perilaku konsumtif.
"Kalau lagi cemas malam-malam, tutup pintu rapat-rapat, bicara dengan diri sendiri. Mau apa saya? Apa kekurangan saya? Bermuhasabah. Bicara sampai menemukan jawaban," ujarnya.
Perkembangan pinjaman online dan perilaku konsumtif di kalangan muda menuntut perhatian serius. Data menunjukkan bahwa meskipun tingkat kredit bermasalah masih rendah, kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan tetap signifikan. Upaya peningkatan pemahaman keuangan, pengawasan terhadap aktivitas ilegal, dan penyediaan alternatif pelampiasan stres menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan keuangan generasi masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pertamax Rp16.250 per Liter, Mulai 10 Juni 2026 di Indonesia
Faunaland Jadi Pengelola Baru Bandung Zoo, Harga Tiket Sorotan
DPRD Jawa Barat Siap Diskusi Pansus SPMB 2026 evaluasi
Kabupaten Bandung Normalisasi Sungai untuk Hindari Banjir 2026
Sukabumi Raih WTP 12 Kali, Peningkat Tata Kelola Di Daerah
Kereta Whoosh di Bandung Terhenti Karena Layang‑Layang Putus
Berita Terbaru
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Pertamax Rp16.250 per Liter, Mulai 10 Juni 2026 di Indonesia
Tebet Temukan 5 Kafe Hidden Gem dengan Suasana Tenang
Keeway Road Falcon 250 Resmi Diluncurkan di Jakarta Fair 2026
Ronaldo Prediksi Juara Piala Dunia 2026: Spanyol atau Prancis
Solo Tunggu Koordinasi Keraton, Belum Ada Rapat Kirab 1 Suro
Dua Pasangan Indonesia Raih Juara Perempatfinal AO 2026
Pemerintah Turunkan Harga BBM, Target Penghematan Energi