PM Modi Serukan Larangan Beli Emas Selama Setahun
Gambar atau konten salah?
10 Maret 2026 – Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengumumkan seruan bagi warganya untuk tidak membeli perhiasan emas selama satu tahun. Seruan ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang dipicu oleh konflik antara AS dan Israel dengan Iran.
Modi menjelaskan bahwa keputusan ini bertujuan menjaga kondisi ekonomi negara. Ia menegaskan bahwa “Demi kepentingan negara, kita harus memutuskan bahwa selama setahun, meskipun ada acara di rumah, kita tidak akan membeli perhiasan emas,” kutipnya. Alasan utamanya adalah lonjakan biaya impor energi dan tekanan terhadap cadangan devisa.
Data fiskal menunjukkan bahwa pada tahun fiskal terakhir yang berakhir 31 Maret 2026, India mengimpor logam mulia senilai US$72 miliar atau sekitar Rp 1,267 triliun. Emas memiliki peran budaya penting di India, sering diberikan sebagai hadiah pernikahan dan diwariskan antar generasi.
Modi menambahkan, “Patriotisme tidak hanya tentang kesiapan mengorbankan nyawa di perbatasan. Dalam situasi seperti ini, hal itu berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kita kepada negara dalam kehidupan sehari-hari,” ia katakan. Ia menekankan bahwa menghentikan pembelian emas merupakan bentuk perjuangan dan tanggung jawab warga negara.
Selama tiga hari setelah seruan tersebut, pemerintah menaikkan bea impor emas menjadi 15 % dari sebelumnya 6 %. Kebijakan ini memberi dampak signifikan bagi pasar emas terbesar kedua di dunia dalam hal perhiasan dan investasi.
India menjadi satu-satunya negara yang meminta warganya mengurangi pengeluaran untuk logam mulia. Hal ini disebabkan sebagian besar impor emas dan minyak dibayar dalam dolar AS, yang melemahkan nilai rupee. Tahun ini rupee telah terdepresiasi sekitar 5 % terhadap dolar, dan pelemahan ini dapat memicu tekanan inflasi.
Menurut Kepala India Gold Policy Centre di Indian Institute of Management Ahmedabad, Sundaravalli Narayanaswami, lebih dari 90 % kebutuhan emas India berasal dari impor. Ia mencatat, “Setiap tahun, 600 hingga 700 ton emas diimpor dan ekspor sangat rendah, sehingga emas ini menumpuk di rumah,” ujarnya. Harga emas telah melonjak tajam, bahkan menembus US$5.000 per ounce atau Rp 88 juta per 28 gram pada Januari.
Seruan warga untuk tidak membeli emas menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri. Perajin perhiasan berbasis di New Delhi, Sanjeev Agarwal, memprediksi kondisi ini akan lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19. Ia berkata, “Bagi sektor perhiasan, situasi ini lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid,” ujarnya.
India telah mencoba menekan impor emas berlebihan di masa lalu dengan menaikkan bea masuk dan mendorong opsi investasi alternatif yang tidak melibatkan kepemilikan emas fisik. Selain menahan diri membeli emas, Modi juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan, bekerja dari rumah, serta membatasi perjalanan luar negeri yang tidak penting untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.
Ia juga meminta keluarga mengurangi penggunaan minyak goreng dan mengajak para petani menekan pemakaian pupuk. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban ekonomi dan menjaga stabilitas mata uang.
Seruan Modi menyoroti hubungan erat antara kebijakan konsumsi, nilai tukar, dan stabilitas ekonomi. Dengan menurunkan impor emas dan mengurangi pengeluaran konsumen, pemerintah berharap dapat menstabilkan cadangan devisa serta menurunkan tekanan inflasi yang diakibatkan oleh pelemahan rupee.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
