PMI Manufaktur 2026: Ekspansi Tumbuh, Penurunan Maret
Gambar atau konten salah?
Industri manufaktur di Indonesia tetap berada di zona ekspansi pada kuartal pertama 2026. Menurut data, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur mencapai 52,6 pada 01 Januari 2026, naik menjadi 53,8 pada 01 Februari 2026, lalu turun menjadi 50,1 pada 01 Maret 2026. Angka‑angka ini menunjukkan bahwa sektor tersebut masih tumbuh, meski ada penurunan di bulan Maret.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa ekspansi ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat. Ia menyebutkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sekitar 5,11 %, penjualan ritel tumbuh 6,49 %, dan investasi tetap yang masih positif. “Dari sisi pasar, sektor yang paling relevan bagi manufaktur mencakup industrials, basic materials, cyclicals, non‑cyclicals, energy, dan financials,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah perlu mengejar dua agenda sekaligus, yaitu menjaga ekspansi manufaktur tetap hidup dan memperbaiki kualitasnya. “Manufaktur Indonesia harus bergerak dari sekadar bertahan di zona ekspansi menuju peningkatan produktivitas, substitusi input impor, ekspor bernilai tambah, dan penguatan industri domestik yang lebih tahan terhadap gejolak global,” tambahnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, juga menilai bahwa PMI manufaktur menunjukkan ekspansi. Ia menyoroti bahwa pendorong utama adalah industri yang terkait konsumsi domestik. “Yang mendorong ekspansi sebagian besar adalah industri yang terkait konsumsi domestik. Makanan dan minuman terdorong momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran. Sektor kemasan dan percetakan juga ikut naik karena aktivitas ekonomi dalam negeri,” jelasnya.
Manilet menekankan pentingnya memantau pelemahan PMI manufaktur. Ia mengamati bahwa tekanan muncul pada sisi ekspor yang masih menghadapi kendala. “Dari awal tahun yang cukup kuat, kemudian turun tajam mendekati batas kontraksi di Maret. Ini penting karena menunjukkan bahwa ekspansi tersebut tidak sepenuhnya solid,” katanya.
Menurutnya, ekspansi kuartal pertama 2026 hanya didorong oleh permintaan domestik. “Artinya, mesin manufaktur Indonesia saat ini belum ditopang oleh permintaan global yang kuat,” ujarnya. Namun ia tetap optimis. “Jika konsumsi domestik terjaga dan tekanan eksternal tidak memburuk, tren positif saat ini bisa bertahan. Namun, kalau daya beli melemah atau tekanan global meningkat, penyesuaiannya bisa terjadi cukup cepat.”
Manilet menekankan dua fokus kebijakan ke depan. “Karena itu fokus kebijakan ke depan menurut saya ada dua. Menjaga daya beli domestik agar tetap menjadi penopang utama, dan pada saat yang sama memperkuat sisi eksternal melalui ekspor dan kerja sama dagang. Tanpa itu, pertumbuhan kita akan terlalu bergantung pada satu mesin saja, dan itu berisiko dalam situasi global seperti sekarang,” pungkasnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan pada triwulan pertama 2026 meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks > 50 %). Hal ini tercermin dari PMI‑BI triwulan pertama 2026 sebesar 52,03 %, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 51,86 %. Berdasarkan komponen pembentuknya, Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Produksi, dan Volume Total Pesanan semuanya berada pada fase ekspansi.
Headline Purchasing Managers' Index™ (PMI®) Manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat di posisi 50,1 pada bulan Maret 2026, turun dari 53,8 pada bulan Februari 2026. Penurunan ini menunjukkan tidak ada perubahan berarti pada kondisi operasional. Data bulan Maret menunjukkan penurunan baru pada tingkat produksi setelah empat bulan bertumbuh dan kenaikan besar pada bulan Februari.
Penurunan tersebut tergolong sedang namun tajam sejak bulan Juni 2025. Panelis melaporkan bahwa penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global.
Secara keseluruhan, sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan ekspansi, namun ketergantungan pada permintaan domestik membuatnya rentan terhadap perubahan kondisi global. Pemerintah diharapkan dapat menyeimbangkan kebijakan domestik dan eksternal untuk menjaga pertumbuhan tetap stabil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait