Presiden Resmikan Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap

Wahyu T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Presiden Resmikan Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap

Gambar atau konten salah?

Presiden Prabowo Subianto menandai peluncuran proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah pada hari Rabu (29 April 2026). Acara ini menandai langkah penting pemerintah dalam mempercepat transformasi industri nasional melalui penguatan hilirisasi di sektor strategis.

Peresmian dimulai dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama, diikuti doa bersama sebagai harapan agar proyek berjalan lancar dan sukses. Setelah itu, penayangan video menampilkan rencana dan cakupan proyek hilirisasi tahap II yang akan dikembangkan.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa Indonesia.

"Groundbreaking hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi, senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian," kata Prabowo.

Selanjutnya, Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menyampaikan dalam laporannya bahwa proyek hilirisasi tahap II merupakan kelanjutan dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan aset negara menjadi katalisator transformasi ekonomi nasional sebagai investasi negara untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.

"Kami akan melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya kaya sebagai sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya, unggul dalam produksinya, dan sejahtera dalam hasilnya," ujar Rosan dalam keterangan tertulis, Kamis (30 April 2026).

Rosan menutup pernyataannya dengan menyoroti pentingnya investasi besar dan cakupan lintas sektor. "Dengan investasi besar dan cakupan lintas sektor, hilirisasi tahap II ini menjadi pijakan strategis menuju Indonesia yang lebih mandiri, berdaulat, dan berdaya saing global," tutupnya.

Berikut rincian 13 proyek hilirisasi tahap II, yang mencakup pengembangan di sektor pengolahan dan pemurnian terintegrasi:

  1. Proyek 1 dan 2: Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah).
  2. Proyek 3, 4, 5: Pembangunan Tangki Operasional BBM di Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), dan Maumere (Nusa Tenggara Timur).
  3. Proyek 6: Fasilitas Pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim (Sumatera Selatan).
  4. Proyek 7: Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah).
  5. Proyek 8: Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal di Cilegon (Banten).
  6. Proyek 9: Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton di Karawang (Jawa Barat).
  7. Proyek 10: Hilirisasi Tembaga dan Emas di Gresik (Jawa Timur).
  8. Proyek 11: Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel di Sei Mangkei (Sumatera Utara).
  9. Proyek 12: Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Maluku Tengah (Maluku).
  10. Proyek 13: Fasilitas Terpadu Kelapa terintegrasi menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon di Maluku Tengah (Maluku).

Dengan investasi besar dan cakupan lintas sektor, hilirisasi tahap II ini menjadi pijakan strategis menuju Indonesia yang lebih mandiri, berdaulat, dan berdaya saing global. Proyek ini menandai langkah konkret pemerintah dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

Hilirisasi nasionalInvestasi 116 triliunKilang GasolineDMEBaja NirkaratOleofoodMCT

Komentar

Memuat komentar...