Prof Nasaruddin Umar Dipertimbangkan Jadi Ketua PBNU

Tika M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Prof Nasaruddin Umar Dipertimbangkan Jadi Ketua PBNU

Gambar atau konten salah?

Surabaya – Nama Prof KH Nasaruddin Umar muncul di kalangan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang muktamar NU. Hal ini terungkap ketika Gus Ipul, Sekjen PBNU, mengungkapkan pendapatnya kepada media.

Gus Ipul menyatakan hal tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, pada 16 Juni 2026. Ia menyinggung nama Prof Nasaruddin sebagai calon potensial Ketua Umum PBNU pada muktamar yang akan datang. Menurutnya, rekam jejak Nasaruddin yang pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU menjadi alasan utama.

Posisi Katib Aam PBNU sering dianggap sebagai jalur menuju pucuk kepemimpinan organisasi. Gus Ipul menambahkan bahwa Prof Nasaruddin adalah figur yang paling sering disebut dalam berbagai forum dan pertemuan NU di sejumlah daerah. “Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Kalau melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi,” kata Gus Ipul, Rabu (17/6/2026).

Ia juga menegaskan bahwa ketika berkeliling ke beberapa daerah, nama Prof Nasar cukup sering disebut. “Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar,” ujarnya.

Gus Ipul menyoroti bahwa sejumlah Ketua Umum PBNU sebelumnya memiliki latar belakang serupa. Mulai dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, hingga KH Yahya Cholil Staquf pernah menduduki posisi Katib Aam sebelum terpilih memimpin PBNU. Ia berkata, “Kalau ditarik dalam sekitar 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU,” ujarnya.

Selain Katib Aam, Gus Ipul menambahkan bahwa jabatan Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur juga menjadi posisi strategis yang kerap melahirkan tokoh-tokoh sentral di tubuh NU. Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU sebelum menjadi Ketua Umum PBNU. Sementara KH Hasyim Muzadi menapaki jalan kepemimpinan nasional NU setelah memimpin PWNU Jawa Timur. “Kalau melihat statistik, yang pernah menjadi Sekjen punya peluang, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur punya peluang, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga punya peluang,” katanya.

Meskipun demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa pembahasan mengenai calon Ketua Umum PBNU belum menjadi agenda resmi dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang akan digelar di Pesantren Al Falah Ploso pada 20-22 Juni 2026. Menurutnya, forum tersebut lebih difokuskan pada pembahasan berbagai isu strategis keumatan, keagamaan, serta rekomendasi organisasi menjelang Muktamar NU.

Di kesempatan yang sama, Gus Ipul menepis spekulasi yang mengaitkan dirinya dengan bursa calon Ketua Umum PBNU. Meski menjabat sebagai Sekjen PBNU, ia memastikan tidak akan ikut dalam kontestasi kepemimpinan organisasi. “Saya sudah menyatakan dengan tegas, saya tidak mencalonkan diri dan tidak mau dicalonkan. Dua-duanya,” tandas Gus Ipul.

Dengan latar belakang sejarah dan rekam jejak yang kuat, nama Prof Nasaruddin Umar memang menjadi sorotan di kalangan NU. Namun, keputusan akhir tetap akan bergantung pada dinamika yang berkembang menjelang muktamar, dan Gus Ipul menegaskan bahwa proses pemilihan akan berlangsung secara transparan dan adil.

Prof KH Nasaruddin UmarNahdlatul Ulama (NU)Pengurus Besar NU (PBNU)Katib AamGus IpulMuktamar NUKepemimpinan NUSekjen PBNU

Komentar

Memuat komentar...