Prototaxites: Makhluk 400 Tahun Lalu Misteri Klasifikasi
Gambar atau konten salah?
Prototaxites muncul 400 juta tahun lalu, sebelum dinosaurus atau bahkan pohon berevolusi. Organisme ini menyerupai monolit, menakjubkan para ilmuwan karena bentuknya yang tak pernah terlihat pada kelompok kehidupan modern.
“Apa yang bisa kami katakan, berdasarkan semua analisis baru, adalah organisme ini sangat berbeda dari kelompok modern mana pun yang kita kenal saat ini,” kata Corentin Loron, paleontolog dari Edinburgh University dan salah satu penulis studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Fosil pertama kali diidentifikasi 160 tahun silam dan dinamai Prototaxites. Tingginya mencapai sembilan meter, sehingga sulit diklasifikasikan. Pada abad ke-19, para ilmuwan mengira fosil ini adalah batang pohon konifer yang telah membusuk. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa organisme ini tersusun dari tabung‑tabung yang saling menjalin, bukan sel‑sel kotak yang membentuk jaringan tanaman.
Beberapa peneliti menyatakan bahwa Prototaxites menyerupai massa lumut kerak, mungkin hasil simbiosis antara jamur dan alga. Dalam beberapa tahun terakhir, ada dugaan bahwa organisme ini lebih mirip jamur, karena tampaknya tidak menghasilkan energi melalui fotosintesis.
Penelitian terbaru memusatkan perhatian pada tiga fosil Prototaxites yang digali di Rhynie chert, ekosistem prasejarah dekat Aberdeen, Skotlandia. Situs ini dikenal karena tanaman, jamur, dan fauna terawal yang paling terawetkan, yang mengkolonisasi daratan pada periode Devon awal. Dahulu, tempat ini merupakan mata air panas purba, mirip Yellowstone.
“Kami masih bisa mendapatkan tanda‑tanda yang memberi tahu kami tentang komposisi asli fosil‑fosil tersebut, artinya fosil itu tidak ‘terlalu matang’ (rusak karena panas), dan tidak terlalu banyak berubah oleh proses geologi,” jelas Loron yang dikutip dari CNN, Rabu (14 April 2026).
Analisis baru menunjukkan bahwa biomarker dalam fosil Prototaxites secara kimiawi berbeda dari fosil jamur yang ditemukan di situs tersebut dan terawetkan dalam kondisi serupa. “Jika Prototaxites adalah jamur, kami memperkirakan ia akan mengikuti tren yang sama dengan jamur tersebut karena mereka berada bersebelahan dalam kondisi penguburan yang sama,” tambah Loron.
Fitur struktural lainnya berbeda dari semua jamur yang diketahui, baik yang masih hidup maupun punah. Berdasarkan hasil ini, tim menyimpulkan bahwa masih terlalu dini untuk memaksakan Prototaxites masuk ke dalam kategori tertentu.
Kevin Boyce, profesor ilmu Bumi di Stanford University, sebelumnya mengungkap bahwa organisme purba ini tak berfotosintesis seperti tanaman, tapi kemungkinan mengonsumsi sumber karbon di lingkungan, sama seperti beberapa jamur saat ini yang hidup dari materi organik membusuk. “Anda bisa membandingkannya dengan jamur, tapi jamur belum ada pada masa setua itu,” sebutnya.
Masih banyak yang tak diketahui tentang Prototaxites. Misalnya, belum jelas bagaimana organisme ini menempel ke tanah atau apakah ia berdiri tegak sepanjang hidupnya, mengingat pertumbuhannya yang diperkirakan lambat. Tim Loron merencanakan studi lanjutan pada organisme berbentuk tabung yang mirip Prototaxites untuk memperdalam pemahaman.
Penelitian ini menyoroti betapa kompleksnya kehidupan awal di daratan. Meski belum dapat diklasifikasikan, Prototaxites tetap menjadi contoh penting bagi para ilmuwan yang mencoba mengungkap jejak kehidupan yang paling kuno di bumi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Registrasi SIM Card Wajib Pindai Wajah Mulai Juli 2026
Operator Seluler Tunggu Aturan Turunan PP Tunas
Telkomsat Ubah Data Kapal Jadi Intelijen Bisnis
Pemerintah Uji Coba AI untuk Salurkan Bansos di Banyuwangi
Kakao Map Bocorkan Data Rahasia Korea Utara
Berita Terbaru
Yamaha Fazzio Hybrid: Dari Kanvas Kreatif hingga Motor Fungsional
Rektor ITB Usulkan Mahasiswa Tahu Nilai UTBK Dulu Sebelum Daftar Kampus
Toyota Fortuner Pelat Merah Dilelang, Pajak Cuma Rp 1,8 Juta
Tecno Rilis EllaClaw, Agen AI yang Bisa Otomatiskan Tugas Ponsel
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia
