PT Eco Power Usulkan Kerja Sama Kemenhut Limbah Biomassa
Gambar atau konten salah?
PT Eco Power Nusantara mengajukan peluang kerja sama dengan Kemenhut setelah bertemu Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, pada 14 April 2026. Pertemuan tersebut menandai langkah awal perusahaan dalam memperluas proyek pengolahan limbah berbasis biomassa dan pengembangan carbon credit.
Selama rapat, PT Eco Power Nusantara memaparkan profil perusahaan, termasuk jajaran direksi dan calon investor. Rencana pengembangan proyek ke depan juga disampaikan, dengan fokus pada proyek berbasis ekosistem, pemanfaatan limbah hutan, serta konversi limbah perkebunan menjadi nilai ekonomi. Swastiko Yoga, Presiden Direktur, menjelaskan bahwa presentasi tersebut bertujuan membuka jalur kolaborasi yang menguntungkan kedua belah pihak.
“Pertemuan diawali dengan pemaparan profil PT Eco Power Nusantara, termasuk pengenalan jajaran direksi dan calon investor. Selanjutnya, perusahaan menjelaskan rencana pengembangan proyek ke depan, khususnya proyek berbasis ekosistem, pemanfaatan limbah hutan, limbah perkebunan menjadi nilai ekonomi, serta peluang pengembangan di berbagai wilayah Indonesia,” kata perwakilan perusahaan dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (16 April 2026).
Diskusi meluas ke bidang carbon credit, reforestasi, dan pengembangan limbah biomassa sebagai bagian dari circular economy. Perusahaan juga memaparkan progres proyek dan rencana investasi dari Eco Power UK. Nilai investasi awal yang disiapkan mencapai US$ 25 juta atau sekitar Rp 420 miliar.
“Investasi yang dimaksud merupakan investasi awal untuk pengembangan proyek biochar berbasis biomassa dan carbon credit, termasuk pembangunan infrastruktur pabrik serta kantor, dengan nilai sekitar USD25 juta atau sekitar Rp420 miliar,” ucapnya. Investasi tersebut akan difokuskan pada pengolahan limbah kelapa sawit dan limbah pertanian/perkebunan menjadi produk bernilai tambah. Proyek ini juga diklaim mendukung pengurangan emisi dan pemulihan ekosistem.
Wilayah target pengembangan meliputi Sanggau (Kalimantan Barat), Dumai (Riau), serta Boyolali dan Sragen (Jawa Tengah). Fokus kerja sama dengan Kemenhut diarahkan pada sektor kehutanan berkelanjutan dan ekonomi hijau, khususnya dalam pengembangan restorasi ekosistem, reforestasi, social forestry, serta pengembangan proyek carbon credit yang terintegrasi dengan pemanfaatan limbah biomassa.
“Penguatan kerja sama diarahkan pada sektor kehutanan berkelanjutan dan ekonomi hijau, khususnya dalam pengembangan restorasi ekosistem, reforestasi, social forestry, serta pengembangan proyek carbon credit yang terintegrasi dengan pemanfaatan limbah biomassa,” tegasnya. Perusahaan menegaskan bahwa kolaborasi ini akan memperkuat upaya pengelolaan limbah dan konservasi hutan di Indonesia, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
