Puasa Asyura dan Tasu'a, pahala setara haji dan penghapus dosa setahun

Wati N. · 6 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Puasa Asyura dan Tasu'a, pahala setara haji dan penghapus dosa setahun

Gambar atau konten salah?

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura di bulan Muharram, beserta hadits-hadits yang menjadi landasan pelaksanaannya. Bulan Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah, menyimpan banyak kemuliaan bagi umat Islam. Di antara sekian banyak amalan yang dianjurkan, puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) menempati posisi yang sangat istimewa. Bukan sekadar ibadah biasa, kedua puasa sunnah ini memiliki keutamaan yang luar biasa besar, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat hadits Rasulullah SAW. Bagi seorang muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, memahami keutamaan-keutamaan ini menjadi penting. Berikut adalah enam keutamaan utama dari puasa Tasu'a dan Asyura yang bersumber dari hadits-hadits shahih. **1. Penghapus Dosa Selama Setahun** Salah satu keutamaan yang paling dikenal dari puasa Asyura adalah kemampuannya menghapus dosa-dosa kecil. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW secara tegas menyatakan hal ini. Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Kemudian, beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyura. Beliau menjawab, "Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim). Hadits ini menjadi salah satu pilar utama yang mendorong umat Islam untuk tidak melewatkan puasa pada tanggal 10 Muharram. Dengan niat yang ikhlas dan menjalankannya sesuai sunnah, seorang muslim diberi kesempatan untuk memulai tahun baru dengan lembaran yang lebih bersih. **2. Menjadi Pembeda dengan Praktik Kaum Yahudi** Puasa Tasu'a, yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, memiliki fungsi yang sangat krusial. Ia dianjurkan sebagai pembeda atau *tasyabbuh* dari ritual bangsa Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura. Hal ini didasarkan pada sejarah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. Dalam riwayat dari Ibnu Abbas RA, diceritakan bahwa ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Mereka berkata, "Ini adalah hari kemenangan Musa atas Firaun." Mendengar itu, Nabi SAW bersabda kepada para sahabat, "Kamu adalah lebih berhak atas Musa daripada mereka, oleh sebab itu berpuasalah!" (HR Bukhari). Dalam riwayat lain yang juga dari Ibnu Abbas RA, disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari 'Asyura, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya. Namun, ada seorang sahabat yang berkata, "Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani." Mendengar hal itu, Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Apabila tiba tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan." Sayangnya, Ibnu Abbas RA menambahkan, "Belum sampai tahun depan, Nabi SAW sudah keburu meninggal dunia." (HR. Muslim). Dari sini, jelaslah bahwa puasa Tasu'a bukanlah sekadar tambahan, melainkan sebuah bentuk ketaatan untuk tidak menyerupai ritual kaum Yahudi. **3. Puasa Terbaik Kedua Setelah Ramadhan** Bulan Muharram sendiri memiliki keistimewaan sebagai salah satu bulan mulia (*asyhurul hurum*). Dalam konteks ini, puasa Asyura dan puasa di bulan Muharram secara umum disebut sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan. Keutamaan ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Suatu hari, Nabi SAW ditanya, "Salat manakah yang lebih utama setelah salat fardhu?" Rasulullah menjawab, "Yaitu salat di tengah malam." Kemudian, ada lagi yang bertanya, "Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadan?" Maka, Rasulullah SAW bersabda, "Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram." (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud). Hadits ini menempatkan bulan Muharram sebagai bulan yang paling utama untuk berpuasa sunnah setelah bulan Ramadhan. Artinya, setiap hari puasa di bulan ini memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. **4. Pahala Setara dengan 10.000 Orang Berhaji** Keutamaan ini mungkin terdengar sangat fantastis. Dalam kitab *Fadha 'Ilul Quqat* (Edisi Indonesia) karya Imam Baihaqi yang diterjemahkan oleh Muflih Kamil, disebutkan bahwa pahala orang yang berpuasa Asyura setara dengan 10.000 orang yang berhaji. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, ditulis untuknya pahala ibadah enam puluh tahun termasuk di dalamnya ibadah puasa dan salatnya; barangsiapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala sepuluh ribu malaikat; barangsiapa berpuasa di hari Asyura akan diberi pahala yang setara dengan pahala seribu orang yang haji dan umrah; barangsiapa berpuasa di hari Asyura akan diberi pahala sepuluh ribu mati syahid; barangsiapa berpuasa Asyura sesungguhnya ia seperti orang yang memberi makan seluruh orang fakir dari umat Muhammad SAW dan membuat mereka semua kenyang; barangsiapa membelai anak yatim dengan tangannya pada hari Asyura, maka akan diberikan untuknya untuk setiap rambut satu derajat di surga." Hadits ini, meskipun panjang, memberikan gambaran betapa besarnya pahala yang bisa diraih hanya dengan berpuasa satu hari di bulan Muharram. **5. Mendapat Pahala 10.000 Malaikat** Masih dari kitab yang sama, keutamaan lain dari puasa Asyura adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang setara dengan 10.000 malaikat. Keutamaan ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. "Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid. Barang siapa mengusap kepala anak anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka." (HR. Muslim) Hadits ini kembali menegaskan bahwa puasa Asyura bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah investasi pahala yang sangat besar untuk kehidupan akhirat. **6. Pahala Setara dengan Puasa 30 Hari atau Satu Bulan Penuh** Keutamaan ini berlaku untuk puasa di bulan Muharram secara umum, bukan hanya khusus untuk hari Asyura. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Thabarani, disebutkan bahwa berpuasa satu hari di bulan Muharram sama nilainya dengan berpuasa 30 hari. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa." (HR at-Thabarani dalam al-Mu'jamus Shaghîr. Ini hadits gharîb namun sanadnya tidak bermasalah). Hadits ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk tidak hanya berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, tetapi juga memperbanyak puasa sunnah di sepanjang bulan ini. **Hadits-Hadits tentang Anjuran Pelaksanaan Puasa Tasu'a dan Asyura** Selain keutamaan-keutamaan di atas, terdapat beberapa hadits lain yang secara spesifik menjadi dasar anjuran untuk melaksanakan puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Berikut adalah beberapa di antaranya: 1. **Hadits tentang Keinginan Berpuasa pada Hari Kesembilan** Diriwayatkan dari Abu Hasan Muhammad bin Husain bin Dawud al-Alawi, dari Abu Nasr Muhammad bin Hamdawiyah bin Sahl, dari Abdullah bin Hamad al-Amali, dari Said bin Abi Maryam, dari Yahya bin Ayub, dari Ismail bin Umiyah, bahwa ia mendengar Aba Ghathfan bin Tharif berkata: "Aku mendengar Abdullah bin Abbas berkata, 'Ketika datang hari Asyura, Rasulullah Saw. memerintahkan untuk berpuasa sehingga para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.' Maka, Rasulullah Saw. berkata, 'Jika datang tahun berikutnya, atas kehendak Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.' Rasulullah Saw. meninggal dunia sebelum datangnya tahun berikutnya itu." 2. **Hadits tentang Niat untuk Berpuasa pada Hari Kesembilan** Diriwayatkan dari Abu Nasr bin Qatadah, dari Abu Fadhil bin Humruwiyah, dari Ibnu Najdah, dari Ahmad bin Yunus, dari Ibnu Abi Dza'bi, dari Qasim bin Abbas atau Ibnu Iyasy, dari Abdullah bin Umair, dari Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah Saw. bersabda, 'Jika aku masih hidup pada tahun yang akan datang maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan. Sebab, ia takut kehilangan hari Asyura.'" 3. **Hadits tentang Perintah Berpuasa pada Hari Kesembilan dan Kesepuluh** Diriwayatkan dari Abu Muhammad Abdullah bin Yahya bin Abdul Jabbar as-Sukri di Baghdad, dari Ismail bin Muhammad ash-Shaffar, dari Ahmad bin Manshur, dari Abdul Razaq, dari Ibnu Juraij, dari Atha' bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata: "Berpuasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh, serta berbedalah dengan Yahudi." 4. **Hadits tentang Berbeda dengan Yahudi** Diriwayatkan dari Abu Hasan Ali bin Muhammad al-Muqri, dari Hasan bin Muhammad bin Ishaq, dari Yusuf bin Ya'kub al-Qadhi, dari Abu Rabi', dari Hasyim, dari Ibnu Abi Laila, dari Dawud bin Ali, dari ayahnya, dari kakeknya (Ibnu Abbas) berkata: "Rasulullah Saw. bersabda, 'Berpuasalah pada hari Asyura, dan berbedalah dengan Yahudi dengan cara berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.'" **Kesimpulan** Secara keseluruhan, puasa Tasu'a dan Asyura di bulan Muharram bukanlah sekadar tradisi atau kebiasaan. Ia adalah ibadah sunnah yang memiliki landasan kuat dari hadits-hadits shahih. Keutamaannya sangat besar, mulai dari penghapus dosa setahun, menjadi pembeda dari kaum Yahudi, hingga pahala yang setara dengan ibadah-ibadah besar lainnya. Bagi seorang muslim, ini adalah kesempatan emas untuk memulai tahun Hijriah dengan ketaatan dan pahala yang berlimpah.
puasa Tasu'apuasa AsyuraMuharramkeutamaanhaditspenghapus dosa

Komentar

Memuat komentar...