Puasa dan Doa 1 Muharram: 7 Amalan Rekomendasi Khusus
Gambar atau konten salah?
Setiap umat Islam memulai tahun baru Hijriah dengan mencari amalan yang dianjurkan. 1 Muharram menjadi hari yang penting karena bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al‑Qur’an: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang‑orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang‑orang yang bertakwa.” (QS At‑Taubah [9]: 36)
Ayat tersebut menegaskan bahwa umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh sebagai bentuk ketaatan. Maka, apa saja sunah Rasul yang bisa diamalkan pada 1 Muharram dan sepanjang bulan Muharram?
Berikut tujuh amalan yang dianjurkan beserta dalilnya. 1. Puasa Awal Muharram
Puasa pada hari pertama bulan Muharram adalah salah satu amalan sunah yang dianjurkan untuk memulai tahun baru Hijriah dengan amal saleh. Puasa ini dikerjakan tepat pada 1 Muharram. Dalam hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Hari 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026. Berikut niat puasa awal Muharram: نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى (Arab Latin: Nawaitu shauma‑sy‑syahri‑l‑muharrami sunnata‑lillâhi ta’âla). Artinya: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunah karena Allah Ta’ala.”
2. Puasa Tasu'a
Puasa ini dianjurkan sebagai bentuk penyelisihan terhadap tradisi kaum Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari Asyura. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah SAW ditanya, “Wahai, Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani,” beliau bersabda, “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Tahun berikutnya belum datang, namun Rasulullah SAW meninggal terlebih dahulu.” (HR Muslim). Puasa Tasu'a tahun ini dikerjakan pada 24 Juni 2026. Berikut niat puasa Tasu'a: نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى (Arab Latin: Naiwaitu shauma tasu’aa‑i sunnatan lillaahi ta’aalaa). Artinya: “Saya berniat puasa sunah Tasu'a karena Allah Ta’ala.”
3. Puasa Asyura
Puasa Asyura adalah puasa sunah yang dilakukan pada 10 Muharram. Puasa ini dikerjakan sebagai penghormatan terhadap kemenangan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Beberapa hadis menjelaskan keutamaan puasa ini, antara lain:
“Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid.”
“Barang siapa mengusap kepala anak‑anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat.”
“Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah‑olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.”
Puasa Asyura tahun ini jatuh pada 25 Juni 2026. Niat puasa Asyura: نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى (Arab Latin: Naiwaitu shauma 'aasyura sunnatan lillaahi ta'aalaa). Artinya: “Saya berniat puasa sunah Asyura karena Allah Ta’ala.”
4. Puasa 11 Muharram
Ibnu Qayyim al‑Jauziyah dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa berpuasa juga disunahkan pada 11 Muharram, selain tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 (Asyura). Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Berpuasalah pada hari Asyura dan berbedalah dengan kaum Yahudi, dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.” (HR Ahmad). Niat puasa 11 Muharram: نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى (Arab Latin: Nawaitu shauma‑sy‑syahri‑l‑muharrami sunnata‑lillâhi ta’âla). Artinya: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunah karena Allah Ta’ala.”
5. Memperbanyak Istighfar
Di bulan Muharram, muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak permohonan ampun kepada Allah SWT. Salah satu bacaan istighfar yang paling utama dan sangat dianjurkan adalah sayyidul istighfar. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhari No 6.306)
Berikut bacaan sayyidul istighfar: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ (Arab Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A-'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini'matika 'alayya wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta). Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain‑Mu.”
6. Mengamalkan Doa Akhir Tahun
Doa ini dapat dibaca sebanyak tiga kali setelah sholat Ashar atau sebelum masuk waktu Maghrib. اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِكَ عَلَى مَعْصِيََتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ (Arab Latin: Allâhumma mâ 'amiltu min 'amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî 'anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alâ 'uqûbatî, wa da'autanî ilat taubati min ba'di jarâ'atî 'alâ ma'shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ 'amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa'attanî 'alaihits tsawâba, fa'as'aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha' rajâ'î minka yâ karîm). Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang‑sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan‑Mu‑sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat‑sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai‑Mu.”
7. Doa Awal Tahun Baru Islam 1 Muharram
Muslim juga dapat membaca doa awal Tahun Baru Islam yang bisa dibaca sebanyak tiga kali setelah sholat Maghrib. اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ (Arab Latin: Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal 'azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm). Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu.”
Dengan mengikuti amalan‑amalan di atas, umat Islam dapat memulai tahun baru Hijriah dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Amalan‑amalan tersebut tidak hanya meningkatkan ketakwaan, tetapi juga menegaskan perbedaan ibadah umat Islam dari tradisi lain. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dan meneguhkan komitmen kepada Allah SWT di bulan Muharram.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bupati Nganjuk Pelantik Empat Kepala OPD di Pendopo KRT
Arema FC Akhiri Kerja Sama dengan Dalberto Luan Belo
Makanan Berbahaya & Sehat: Pedang & Perisai Melawan Kanker
BMKG Prediksi Bediding di Jawa Timur hingga Agustus 2026
Mahasiswa Bondowoso Rebut Janji PBB Bebas bagi Miskin
Tanggul Titik 71 Sidoarjo Hampir Runtuh, Warga Gelisah
Berita Terbaru
Taksi Otonom Waymo Terlibat Pencurian Studio Hot 8 Yoga
BOSP Tahap 2 2026: Sekolah Penuhi Syarat 20–30 Juni Juli
Pemerintah Selesaikan Prastudi 13 Proyek Hilirisasi Rp239 T
BookCabin Fair 2026: Promo Tiket & Cashback di Surabaya
Jembatan Kaca Bromo Resmi Operasi, Sewa Lima Tahun
Zaki Ubaidillah Raih Kemenangan di Australian Open 2026
Chandra Asri dan UNTIRTA Luncurkan Program Jejak Asri
