Puasa Sarden Viral: Pigmie Buktikan Manfaat dan Risiko
Gambar atau konten salah?
Tren diet ekstrem terus muncul di media sosial. Setelah diet karnivora dan puasa‑puasa viral, kini ada tantangan baru yang disebut puasa sarden atau sardine fast. Seperti namanya, pelaku diet ini hanya mengonsumsi ikan sarden selama beberapa hari dengan tujuan memperbaiki metabolisme dan mempercepat pembakaran lemak.
Menurut laporan pada 27 Mei 2026, satu kreator konten yang mencoba tren tersebut adalah Pigmie. Ia mendokumentasikan pengalamannya hanya makan sarden kalengan selama 48 jam dan membagikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Di awal eksperimen, Pigmie mengaku tubuhnya terlihat lebih ramping dan ringan. Tak lama kemudian, ia mulai merasakan rasa lapar yang sangat kuat, terutama keinginan untuk mengonsumsi makanan selain sarden. Bahkan, demi menjalani tantangan secara penuh, ia juga meminum sisa minyak dan cairan dari kaleng sarden yang dikonsumsinya.
Seiring berjalannya waktu, tubuhnya mulai menunjukkan tanda‑tanda kelelahan, karena tidak mendapatkan asupan karbohidrat maupun gula. Setelah melewati fase awal yang sulit, Pigmie mengaku mengalami peningkatan fokus dan kejernihan berpikir. Ia bahkan menggambarkan kondisi tersebut sebagai keadaan yang mirip dengan "zen", di mana pikirannya terasa lebih tenang dan terpusat.
Ia juga mengklaim beberapa keluhan fisik yang sebelumnya dialaminya mulai membaik. Nyeri pada sendi dan cedera bahu terasa berkurang. Ia bahkan merasa penglihatannya menjadi lebih baik dibandingkan sebelum menjalani diet tersebut.
Meski pengalaman ini bersifat pribadi dan belum tentu terjadi pada semua orang, perubahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tren sardine fast menarik perhatian banyak pengguna media sosial. Diduga salah satu penyebab perubahan fisik yang terlihat adalah kondisi ketosis.
Ketika tubuh tidak memperoleh cukup karbohidrat, tubuh mulai membakar cadangan lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini sering terjadi pada diet rendah karbohidrat dan dapat menyebabkan penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat.
Meskipun sarden dikenal sebagai makanan yang kaya protein, omega‑3, vitamin D, vitamin B12, kalsium, dan berbagai mineral penting, para ahli mengingatkan bahwa mengandalkan satu jenis makanan saja bukanlah pola makan yang ideal. Sarden tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh dalam jangka panjang.
Dokter juga memperingatkan bahwa diet yang hanya terdiri dari sarden dapat menimbulkan sejumlah risiko. Sarden tidak mengandung serat sehingga berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan seperti sembelit serta kandungan natrium yang tinggi dikhawatirkan dapat meningkatkan tekanan darah.
Tren puasa sarden menunjukkan betapa banyak orang yang bersedia mencoba metode ekstrem untuk mencapai tujuan kebugaran. Namun, meski beberapa pelaku melaporkan manfaat seperti peningkatan fokus dan penurunan nyeri, para profesional kesehatan tetap menekankan pentingnya variasi makanan dan perhatian terhadap kebutuhan nutrisi seimbang. Perlu diingat bahwa diet satu jenis, apalagi yang sangat terbatas, dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
