Purbaya Temukan Manipulasi Nilai Ekspor Sawit US$84 Juta

Iwan D. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Purbaya Temukan Manipulasi Nilai Ekspor Sawit US$84 Juta

Gambar atau konten salah?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumpulkan data tentang sepuluh perusahaan kelapa sawit yang diduga melakukan manipulasi nilai ekspor atau under invoicing. Data tersebut berasal dari pengambilan sampel acak terhadap perusahaan eksportir terbesar di sektor sawit. Purbaya menyatakan, “Saya ambil 10 terbesar, semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu,” saat berbicara kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, 25 Mei 2026.

Menurut perhitungan, kerugian negara diperkirakan mencapai US$ 84 juta atau Rp 1,48 triliun (kurs Rp 17.700). Purbaya menegaskan bahwa potensi kerugian bisa jauh lebih besar jika praktik serupa terungkap di seluruh transaksi perusahaan terkait. Ia menambahkan, “(US$ 84 juta) dari yang itu saja, dari sampel yang diambil. Kalau dari semuanya ya pasti lebih besar karena kan itu hanya sedikit saja tiga kapal,”.

Purbaya sudah melaporkan temuan ini kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai daftar perusahaan sawit yang diduga melakukan manipulasi harga ekspor. Jika kasus under invoicing ini terungkap dan diproses, dampaknya akan sangat positif bagi penerimaan negara.

Modus yang ditemukan adalah perusahaan mengekspor produk ke perusahaan afiliasi mereka di Singapura dengan harga lebih rendah dari nilai sebenarnya. Produk tersebut kemudian dijual kembali ke negara tujuan dengan harga jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, salah satu perusahaan dalam sampel mencatat nilai ekspor sebesar US$ 2,6 juta, sementara nilai impor yang tercatat di Amerika Serikat mencapai US$ 4,2 juta.

Purbaya mencontohkan kasus tersebut dengan kata-kata, “Nggak mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi ada dari Indonesia dikirim harganya US$ 2,6 juta, impornya di sana US$ 4,2 juta, jadi 57% bedanya. Ada yang lebih gila lagi, ada satu perusahaan di sini ekspornya US$ 1,44 juta, di sana US$ 4 jutaan, berubah harga 200%,” di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, 21 Mei 2026.

Ia juga menegaskan, “Kalau semua, iya (lebih dari US$ 84 juta). Itu kan cuma yang disampel, yang disampel segitu. Kalau dirandom, hasilnya seperti itu 10,” menambahkan Purbaya.

Under invoicing sering muncul dalam perdagangan komoditas, terutama di sektor kelapa sawit. Temuan Purbaya menunjukkan bahwa praktik ini mungkin lebih meluas di antara eksportir terbesar, menimbulkan risiko kerugian signifikan bagi negara. Jika pemerintah dapat menindaklanjuti temuan ini, penerimaan negara dapat dipulihkan dan praktik perdagangan yang tidak transparan dapat ditekan.

kelapa sawitunder invoicingkerugian negarapenerimaan negaraeksportir terbesarmanipulasi hargaPurbaya Yudhi Sadewa

Komentar

Memuat komentar...