Rasa Group Ekspansi Global Lewat House of Rasa
Gambar atau konten salah?
Industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Salah satu pemain lokal, PT Multi Citra Rasa atau yang lebih dikenal dengan Rasa Group, kini melebarkan sayapnya ke pasar global. Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan peluncuran House of Rasa, sebuah pusat yang dirancang sebagai tempat kolaborasi dan inovasi bagi industri F&B.
Setelah dua tahun terakhir fokus memperkuat posisi di Asia Tenggara, perusahaan kini mengincar perluasan distribusi ke sejumlah kawasan baru. Timur Tengah, Australia, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat menjadi target ekspansi berikutnya.
CEO Rasa Group, Sherley Ruslie, menegaskan bahwa strategi perusahaan tidak sekadar meningkatkan volume ekspor produk. Lebih dari itu, tujuannya adalah membangun kehadiran merek Indonesia di panggung global. House of Rasa, menurutnya, menjadi salah satu fondasi penting untuk memperkenalkan ekosistem inovasi F&B Indonesia kepada mitra-mitra internasional.
Sejak tahun 2024, perusahaan telah mengembangkan orientasi pasar ekspor ke beberapa negara Asia Tenggara. Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Kamboja, dan Malaysia menjadi tujuan awal. Setelah House of Rasa resmi beroperasi di PIK 2, Tangerang, peluang ekspansi ke kawasan lain mulai terbuka.
"Dengan dibukanya Flagship House of Rasa ini mengizinkan kami membuka pintu ke internasional lainnya seperti Middle East, USA market, Australia market, Korea, Jepang, dan lain-lain," ujar Sherley dalam siaran pers pada Minggu, 19 Juli 2026.
Sherley menekankan bahwa pendekatan ekspor yang dijalankan Rasa Group berbeda dengan eksportir komoditas pada umumnya. Perusahaan memilih untuk membawa identitas merek Indonesia ke luar negeri, bukan sekadar mengirimkan bahan baku.
"Yang Rasa Group lakukan kami bukan mengekspor komoditi, yang kami lakukan adalah kami mengekspor brand," ucapnya.
Saat ini, beberapa produk unggulan sudah mulai merambah pasar internasional. Sirup merek Dripp, misalnya, telah dipasarkan ke Thailand dan Filipina. Pengiriman produk ini mencapai belasan kontainer setiap bulan untuk masing-masing negara. Selain itu, produk kopi perusahaan juga sudah diekspor ke China. Pada peluncuran House of Rasa, produk kopi tersebut diperkenalkan kembali untuk memperkuat posisi di pasar domestik dan internasional.
Di tengah ekspansi ini, Sherley menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Namun, pertumbuhan industri F&B di kawasan Asia Tenggara dinilai sebagai peluang yang terus dimanfaatkan.
"Growth industri F&B ini kami lihat masih akan terus terjadi di negara South East Asia lainnya," katanya.
House of Rasa sendiri tidak hanya berfungsi sebagai kantor pusat. Sherley menjelaskan bahwa tempat ini dirancang sebagai Innovation & Collaboration Hub. Tujuannya adalah mempertemukan berbagai pelaku industri dalam satu ekosistem. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, meliputi Beverage Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, serta ruang untuk kolaborasi dan jejaring bisnis.
Melalui fasilitas ini, perusahaan ingin menyediakan ruang bagi pemilik merek, pemasok, komunitas, asosiasi, hingga talenta F&B. Mereka bisa mengembangkan ide, melakukan riset, dan menghasilkan inovasi produk baru di tempat ini.
Selain memperluas pasar, perusahaan juga membuka berbagai opsi pengembangan bisnis. Peluang kolaborasi hingga langkah korporasi di masa depan menjadi beberapa opsi yang dipertimbangkan.
"Kami membuka opsi untuk baik itu kolaborasi ataupun mengembangkan bisnis keluar juga dari Indonesia," ujar Sherley.
Meski demikian, Sherley memastikan bahwa perusahaan belum berencana melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dalam tahun ini. Di tengah tantangan seperti kenaikan biaya logistik, inflasi, dan harga bahan baku, Rasa Group memilih memperluas pasar sebagai strategi menjaga pertumbuhan. Perusahaan menargetkan kinerja dan pendapatan tetap meningkat hingga akhir tahun.
"Kami sih target optimis bisnis pasti masih tumbuh double digit," kata Sherley.
Peresmian House of Rasa Headquarters di PIK 2 juga dihadiri oleh Yuke Sri Rahayu, Direktur Kriya, Kuliner, Desain, dan Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Menurut Yuke, nama "Rasa" tidak hanya merepresentasikan cita rasa kuliner. Lebih dari itu, nama tersebut juga mencerminkan identitas, kualitas, serta koneksi emosional yang mampu memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Yuke mengatakan tema "Leading Power: Growing Global Sustainable Economy Together" mencerminkan tekad industri kreatif Indonesia untuk menjadi pelaku utama di tingkat global. Bukan sekadar mengikuti perkembangan pasar.
"Ini bukan sekadar slogan, tetapi pernyataan sikap bahwa industri kreatif kita siap melangkah lebih jauh, lebih berkelanjutan, dan siap mendunia," ujarnya.
Dalam sambutannya, Yuke juga mengungkapkan bahwa subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif. Kontribusinya mencapai sekitar 41 persen pada tahun 2025.
Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah memperkuat hilirisasi produk lokal. Tujuannya agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dengan merek yang kuat.
"Kami mendorong adanya hilirisasi produk lokal. Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga menjadi pemain utama di tingkat regional maupun global sebagai produk bernilai tambah tinggi yang memiliki brand yang kuat," pungkasnya.
Ia menambahkan, tiga subsektor utama ekonomi kreatif berasal dari kuliner, fesyen, serta televisi dan radio/video. Ketiganya menyumbang sekitar 69,42 persen dari total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp1.757,87 triliun pada tahun 2025, dengan pertumbuhan sebesar 6,86 persen.
Ekspansi Rasa Group ke pasar global menunjukkan bahwa perusahaan F&B lokal tidak hanya mampu bersaing di dalam negeri, tetapi juga memiliki ambisi untuk dikenal di kancah internasional. Dengan pendekatan yang menekankan pada ekspor merek, bukan sekadar komoditas, perusahaan ini berusaha membangun identitas Indonesia di mata dunia. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat hilirisasi produk lokal dan meningkatkan kontribusi sektor kuliner terhadap ekonomi kreatif nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait