Ratusan Desa Adat Pau Tampilkan Ngodak Sesuhunan di Ubud
Gambar atau konten salah?
Ratusan warga Desa Adat Pau di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, baru saja menyelesaikan ritual ngodak sesuhunan di Puri Agung Ubud. Iring‑iringan tanda ritual yang sudah selesai menjadi tontonan budaya dadakan bagi para turis di perempatan Pasar Seni Ubud dan Puri Agung Ubud.
Ngodak Sesuhunan (Ngodakin) adalah ritual sakral dalam tradisi Hindu di Bali yang bertujuan untuk memperbaiki, merawat, atau memperbarui simbol suci atau wujud manifestasi Tuhan (pelawatan). Simbol suci itu berupa barong, rangda, atau arca.
“Ini namanya mendak pelawatan Ida atau wujud dari sesuhunan kami di Desa Adat Pau dalam bentuk barong. Jadi, kami habis ngodakin,” kata Ketua Panitia Ngodakin Pralingga Ida Bathara Surya Wirawan yang ditemui saat iring‑iringan di Jalan Raya Ubud, Kamis (18 Juni 2026).
Surya mengatakan ada 13 simbol suci yang diritualkan di Puri Agung Ubud. Ritualnya yakni perbaikan dan pembuatan ulang simbol suci berupa barong, rangda, dan ancangan iringan atau anak buahnya rangda.
Setelah dibuat baru, 13 simbol suci itu lalu dipulangkan ke Banjar Pau, Klungkung. Belasan simbol suci itu rencananya akan diupacarakan lagi pada 20 Juni 2026. “Setelah sampai di Klungkung diupacarai lagi. Tanggal 20 ini upacaranya,” kata Surya.
Surya menyebut ritual itu sejatinya bukan dalam rangka umanis Galungan. Hanya, hari baik dalam pelaksanaan ritual itu bertepatan dengan umanis Galungan. “Pada umanis Galungan ini kami diberi hari baik untuk menjemput beliau‑beliau (13 simbol suci) ini,” ujarnya.
Pantauan menunjukkan iring‑iringan itu terdiri dari perwakilan 270 warga Desa Adat Pau. Mereka berbaris keluar dari Puri Agung Ubud di sisi utara dan berjalan ke utara di Jalan Raya Ubud, pukul 17.30 Wita. Para turis yang sedang wara‑wiri di sekitaran perempatan, sontak dikejutkan dengan iring‑iringan ratusan orang itu.
Tidak hanya tradisi mapeed atau barisan perempuan membawa gebogan, alunan gamelan baleganjur yang memancing perhatian para turis. Semua turis merapat ke trotoar. Tak lupa, para turis menyalakan kamera di ponselnya untuk mengabadikan momen langka itu.
Selain iringan Ngodak Sesuhunan dari Klungkung, para turis yang berlalu lalang di Ubud juga dihibur dengan suguhan budaya lain. Tradisi ngelawang atau menari dengan barong babi tiap umanis Galungan yang dilakukan remaja dan anak banjar adat, jadi tontonan para turis di Ubud hingga malam, pukul 19.00 Wita.
Peristiwa ini menampilkan bagaimana tradisi Bali tetap hidup dan berinteraksi dengan pengunjung internasional, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal melalui ritual yang diadakan secara teratur.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Klungkung Sambut Galungan: Barong Ngelawang di Tugu Monumen
Kabupaten Jembrana Ajukan Sekolah Rakyat 5,9 Hektare ke Pusat
Polda Bali Perkenalkan Sistem Online SKCK, Proses Cepat
Wisatawan 21 Tahun Amuk di Pelabuhan Buyuk, Polisi Tindak
Kebakaran Bangunan di Jalan Bypass Ngurah Rai, 18 Juni
Sampah Karangasem Meningkat 2 Ton Saat Galungan Khusus
Berita Terbaru
ASDP Tambah Dermaga Tanjung Uban, Bintan: Rp133 Miliar
Bupati Karo Hapus Retribusi Sidebuk-debuk, Kuasai Kantor Baru
Kemendagri Dorong Kepala Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026
BGN Tutup MBG Selama Libur Sekolah, Audit Dapur di Tahun
8 Kabupaten Siaga Kekeringan, Bojonegoro Probolinggo
Genetika Baru Terobosan Penyakit Kanker di Indonesia
Pantai Matahari Cikembang Jadi Surga Selancar, Sukabumi
England Menang 4-2 atas Kroasia, Kane Dua Gol di Piala Dunia
Kebijakan Baru Pemerintah Menurunkan Pajak Konsumsi
RUPSLB PLN: belum ada tanggal, ketidakpastian tetap