RI-Thailand Targetkan Dagang Rp360 Triliun

Vera T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
RI-Thailand Targetkan Dagang Rp360 Triliun

Gambar atau konten salah?

Indonesia dan Thailand telah menyepakati langkah baru untuk memperkuat hubungan ekonomi. Targetnya ambisius: nilai perdagangan bilateral mencapai US$ 20 miliar, atau setara dengan Rp 360 triliun berdasarkan kurs Rp 18.000, pada tahun 2030. Kesepakatan ini lahir saat Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, melakukan kunjungan ke Jakarta.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kerja sama ekonomi tetap menjadi fondasi utama hubungan kedua negara. Ia menyatakan keyakinannya bahwa target tersebut bisa tercapai. Caranya? Dengan menjalankan peta jalan kemitraan strategis yang sudah mereka sepakati bersama.

"Kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama hubungan bilateral kita. Kami optimis target perdagangan sebesar US$ 20 miliar pada tahun 2030 dapat dicapai melalui implementasi roadmap kemitraan strategis," ujar Prabowo dalam pertemuan bilateral dengan Anutin Charnvirakul. Pernyataan ini disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, pada Selasa, 04 Agustus 2026.

Bukan cuma soal angka perdagangan. Kedua negara juga sepakat untuk memperluas investasi. Akses pasar akan dibuka lebih lebar. Kemitraan antar pelaku usaha dari kedua negara juga akan dipererat. Sebagai langkah konkret, mereka akan menggelar Joint Trade Commission untuk pertama kalinya. Forum ini akan menjadi wadah untuk membahas peluang bisnis sekaligus mencari solusi atas hambatan perdagangan yang ada.

Di sektor pangan, kerja sama akan difokuskan pada beberapa area. Teknologi pertanian menjadi salah satu prioritas. Logistik dan pengolahan pangan juga masuk dalam daftar. Tujuan utamanya adalah memperkuat ketahanan rantai pasok pangan di kedua negara.

Sektor energi juga mendapat perhatian khusus. Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia dan Thailand akan mendorong penyelenggaraan Indonesia-Thailand Energy Forum. Forum ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi. Selain itu, forum ini juga diharapkan bisa mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan. Semua ini akan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.

"Di bidang energi kami mendorong penyelenggaraan Indonesia-Thailand Energy Forum untuk penguatan ketahanan energi dan akselerasi transisi menuju energi berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha," kata Prabowo.

Ekonomi digital juga tidak luput dari perhatian. Kedua negara berkomitmen untuk mempererat kerja sama di sektor ini. Salah satu instrumen yang akan dimanfaatkan adalah local currency transaction (LCT). Artinya, transaksi perdagangan bisa dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perdagangan dan investasi.

Industri halal menjadi bidang lain yang akan diperkuat. Indonesia dan Thailand akan memanfaatkan keunggulan masing-masing. Tujuannya adalah membangun rantai nilai industri halal, baik di tingkat regional maupun global.

"Lalu di bidang konektivitas kami menyambut baik pembukaan rute baru penerbangan langsung Jakarta-Bangkok serta Denpasar-Phuket yang diharapkan semakin mempererat hubungan masyarakat kedua negara," tutup Prabowo.

Dari semua kesepakatan ini, terlihat bahwa kedua negara tidak hanya fokus pada angka perdagangan. Mereka juga membangun fondasi di berbagai sektor, mulai dari pangan, energi, hingga konektivitas. Pembukaan rute penerbangan langsung, misalnya, menunjukkan adanya upaya untuk mendekatkan masyarakat kedua negara, bukan sekadar urusan bisnis.

perdagangan bilateralkerja sama ekonomiinvestasienergi berkelanjutanekonomi digitalindustri halalkonektivitas

Komentar

Memuat komentar...