Ribuan Warga Rebut Gunungan Hasil Bumi di Baturraden

Ningsih R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Ribuan Warga Rebut Gunungan Hasil Bumi di Baturraden

Gambar atau konten salah?

Ribuan orang memadati kawasan Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, pada Minggu, 12 Juli 2026. Mereka datang untuk menyaksikan Festival dan Grebeg Sura Baturraden 2026. Puncak acaranya adalah rebutan gunungan hasil bumi setinggi sekitar lima meter.

Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah berjejalan di sepanjang jalan yang akan dilalui arak-arakan. Gunungan itu diarak dari wana wisata sejauh satu kilometer. Begitu memasuki area lokawisata, serangkaian prosesi dimulai. Sebelum gunungan diperebutkan, rombongan lebih dulu berziarah ke area petilasan bawah. Setelah itu, sesaji yang dibawa dilarung ke Sungai Gumiwang yang berada di dalam area lokawisata. Tak lama kemudian, setelah doa dibacakan, masyarakat langsung berebut gunungan.

Proses rebutan berlangsung cepat. Kurang dari lima menit, gunungan yang berisi gabah dan aneka sayuran langsung ludes. Beberapa orang nekat memanjat gunungan. Ada pula yang terlihat jatuh dan terinjak-injak. Meski begitu, wajah-wajah bahagia terlihat setelah mereka berhasil mendapatkan hasil bumi.

Salah seorang warga Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Utami, mengaku ini pertama kalinya ia mengikuti tradisi tersebut. "Seru tadi rebutan gunungannya. Saya dapat kacang panjang, pare sama daun bawang. Nanti mau dimasak. Ini baru pertama kali datang ke acara Grebeg Sura," katanya.

Hal serupa disampaikan Praptini, warga Desa Pabuwaran. Ia harus berdesakan saat berebut, tapi tetap senang. Ia percaya gunungan membawa berkah. "Ini nanti buat dimasak. Tadi sempat terinjak-injak waktu rebutan gunungan, tapi tidak apa-apa. Demi dapat hasil bumi ini, ngalap berkah," ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, Junaidi, mengatakan festival ini jadi salah satu strategi untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Lokawisata Baturraden. Menurutnya, makin banyak wisatawan yang datang, dampaknya akan langsung dirasakan pemerintah daerah dan masyarakat.

Selain dampak ekonomi, Junaidi menyebut festival ini juga menjadi wadah pelestarian seni budaya Banyumas. Berbagai kesenian seperti tari lengger hingga barongsai ditampilkan sebagai hiburan. "Ini adalah seni budaya yang harus terus diuri-uri. Tugas pemerintah memberikan fasilitasi agar seni budaya yang berkembang di Banyumas tetap hidup dan dilestarikan," ungkapnya.

Ia menambahkan, Grebeg Sura juga menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat. Seluruh desa di sekitar Baturraden ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara, termasuk menyiapkan gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen. "Ini bentuk gotong royong bersama. Gunungan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang dihasilkan masyarakat sekitar Baturraden. Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan pariwisata," jelasnya.

Grebeg Sura Baturraden bukan sekadar festival. Ia adalah perpaduan antara tradisi, hiburan, dan ekonomi. Warga datang bukan hanya untuk menonton, tapi juga ikut ambil bagian—bahkan sampai berdesakan dan jatuh bangun. Semua demi keyakinan bahwa apa yang didapat dari gunungan itu membawa berkah. Dan di balik keramaian itu, ada upaya pemerintah menjaga agar seni dan budaya lokal tidak punah, sambil mendorong roda ekonomi berputar.

Festival Grebeg SuraBaturradenrebutan gununganhasil bumitradisiberkahpelestarian budaya

Komentar

Memuat komentar...