Ritual Ruwatan dan Warangan Lasem Menyambut Malam 1 Suro

Sari D. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Ritual Ruwatan dan Warangan Lasem Menyambut Malam 1 Suro

Gambar atau konten salah?

Lasem menjadi tujuan puluhan warga yang ingin menyambut malam 1 Suro dengan laku spiritual pada 15 Juni 2026. Acara ini digelar di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah oleh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan. Ritual dimulai dengan prosesi pembersihan diri, kemudian dilanjutkan jamasan dan warangan pusaka.

Area di belakang rumah sesepuh Ernantoro diatur khusus untuk pelaksanaan ritual. Beberapa kursi disusun berjajar, sementara pusaka yang akan menjalani proses jamasan dan warangan sudah dipersiapkan. Perlengkapan ritual tertata rapi: wadah berisi air kembang, bunga setaman, hingga dupa.

Ernantoro menjelaskan bahwa air yang digunakan merupakan campuran dari beberapa sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual di wilayah Rembang. “Airnya kita ambil dari beberapa sumber mata air. Ada dari sumur Sunan Bonang, sumber Kajar, dan sumber Gowak yang dikenal sebagai tempat pemandian Dewi Indu (tokoh yang dalam cerita rakyat dipercaya sebagai ratu Lasem pada zaman dulu),” kata Ernantoro. Ia menambahkan, “Air dari berbagai sumber yang memiliki nilai sejarah dan budaya itu digunakan sebagai media dalam prosesi pembersihan diri menjelang satu Suro.

Suasana semakin khidmat dengan alunan gamelan dan gending-gending Jawa yang mengiringi prosesi. Satu per satu peserta kemudian dipanggil untuk diruwat. Mereka duduk di kursi dengan tubuh dibalut kain putih. Ernantoro memimpin prosesi dengan menyentuh dahi peserta, lalu air bunga diguyurkan dari atas kepala beberapa kali. Sebagai penutup rangkaian ruwatan, ia memotong sehelai rambut peserta yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah berisi air kembang. Prosesi tersebut dilakukan secara bergantian.

Menurut Ernantoro, ruwatan dan warangan merupakan rangkaian tradisi yang rutin digelar setiap menjelang pergantian tahun Jawa. Ia menekankan makna pembersihan diri dari berbagai hal negatif yang selama ini melekat dalam diri manusia. “Bahwasanya manusia memiliki kekotoran dalam pikiran maupun dalam hati. Maka pada momentum malam satu Suro ini kita membersihkan diri,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pembersihan yang dimaksud bukan sekadar secara fisik, melainkan lebih kepada pembenahan batin dan pikiran. Karena itu, peserta yang mengikuti ritual juga dianjurkan mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan puasa Senin Kamis.

Pesertanya ada sekitar 35 orang. Ada perempuan, laki-laki juga. Mereka orang dewasa semua yang ikut ruwatan,

Usai prosesi ruwatan, kegiatan dilanjutkan dengan warangan atau penyucian pusaka. Dalam tradisi Jawa, warangan dilakukan untuk membersihkan sekaligus merawat keris agar tetap terjaga kondisinya. Selain itu, para peserta juga mendapatkan wejangan. Wejangan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian ritual karena berisi pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan memperbaiki diri.

Ernantoro mengatakan, tradisi yang digelar pihaknya bukanlah kegiatan baru. Ritual tersebut telah berlangsung sejak tahun 1995. “Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Banyak yang datang dari luar daerah juga untuk ikut ruwatan,” kata dia. Bagi para peserta, ruwatan memiliki makna yang berbeda-beda. Namun sebagian besar memandang ritual tersebut sebagai sarana introspeksi diri sekaligus doa agar diberikan keselamatan dalam menjalani kehidupan ke depan.

Sugiono, warga Sumbergirang, Kecamatan Lasem, menjadi salah satu peserta yang rutin mengikuti kegiatan tersebut. Tahun ini merupakan kali keempat dirinya menjalani ruwatan menjelang malam 1 Suro. Dia mengatakan mengikuti ritual itu karena percaya pentingnya membersihkan hati dan pikiran dari berbagai hal negatif yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. “Niatnya untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan tolak bala. Harapannya dijauhkan dari kesialan selama setahun ke depan,” ujar Sugiono.

Pernyataan senada disampaikan Abdul Wahab, warga Desa Ketangi, Kecamatan Pamotan. Dia menilai malam 1 Suro memiliki kedudukan khusus dalam budaya Jawa sehingga momentum tersebut dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperbaiki diri. “Momentum satu Suro bagi orang Jawa memiliki makna tersendiri. Karena itu dimanfaatkan untuk membersihkan hati melalui ruwatan,” kata Wahab. Ia berharap melalui ritual tersebut dirinya dan keluarga dapat terhindar dari berbagai musibah maupun kesialan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Dengan begitu diharapkan dapat terhindar dari kesialan atau hal-hal buruk. Istilah orang Jawa itu tolak balak,” ujarnya.

Ritual ruwatan dan warangan di Lasem pada malam 1 Suro menjadi ajang bagi warga untuk membersihkan diri, memperbaiki niat, dan memohon keselamatan di tahun baru Jawa.

Lasem1 Suroruwatanwaranganpusakaair kembangbudaya Jawa

Komentar

Memuat komentar...