Rumah Rp285 Juta di Alibaba, Dirakit Sehari
Gambar atau konten salah?
Di China, ada cara baru buat punya rumah. Bukan dengan ngurus KPR atau nunggu bertahun-tahun. Cukup lewat ecommerce Alibaba, checkout, dan rumah dikirim. Rumah itu dirakit dalam sehari.
Kedengarannya seperti tipuan? Tapi tidak. Sepasang suami istri asal Amerika Serikat yang punya channel YouTube Grateful Off-Grid benar-benar membelinya. Mereka dapat rumah kontainer seharga USD 15.800 atau sekitar Rp 285 jutaan. Setelah ditambah ongkos kirim dan biaya lain, totalnya jadi USD 28.689. Masih jauh lebih murah dibanding harga rumah standar di banyak wilayah AS.
Rumah itu luasnya 71,5 meter persegi. Dikirim dalam bentuk potongan-potongan yang siap dirakit. Dengan bantuan crane, pasangan itu berhasil menyulapnya menjadi rumah kecil yang lengkap.
Rumah prefabrikasi buatan China ini memang datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Model kontainer yang dibeli pasangan itu memang mungil. Tapi punya kabin kapsul yang memenuhi kebutuhan dasar di dalam rumah. Desainnya juga diklaim tahan hingga 50 tahun.
Soal harga, semuanya tergantung ukuran dan kustomisasi. Unit dasar bisa mulai di bawah USD 10.000 atau sekitar Rp 180 jutaan. Sementara model yang lebih besar dan dirancang untuk resor atau penginapan bisa mencapai USD 30.000 hingga USD 100.000 (setara Rp 540 jutaan sampai Rp 1,8 miliar).
Ketertarikan terhadap rumah rakitan sehari jadi ini terlihat jelas dari tren pencarian online. Menurut perusahaan intelijen pasar ShelfTrend, kata kunci terkait rumah prefabrikasi di Amerika Serikat melonjak. 'Rumah mungil' menarik lebih dari 450.000 pencarian bulanan. Disusul 'rumah modular' di atas 201.000 pencarian. Dan 'rumah prefabrikasi' melebihi 165.000 pencarian.
Minat ini ternyata tidak hanya di AS. Secara global, rumah prefabrikasi sedang naik daun. Perusahaan riset pasar Mordor Intelligence menyebut pasar perumahan prefabrikasi global diproyeksikan mencapai USD 152,74 miliar (lebih dari Rp 2.757 triliun) tahun ini. Angkanya diperkirakan tumbuh menjadi USD 210,33 miliar (sekitar Rp 3.798 triliun) pada tahun 2031.
Bagi produsen China, ini peluang besar. "Permintaan tumbuh pesat, terutama di pasar di mana akomodasi yang fleksibel dan hemat biaya sangat dicari," kata Serena He, pendiri Luban Cabin, produsen yang berbasis di Linyi, provinsi Shandong. "Di Australia dan Selandia Baru, unit kami populer untuk glamping dan perkemahan liburan, sementara di Timur Tengah, unit tersebut digunakan untuk wisata gurun kelas atas," imbuhnya.
He menambahkan, perusahaannya juga melihat minat kuat dari Asia Tenggara untuk proyek resor. Juga dari beberapa bagian Eropa untuk homestay yang disesuaikan dan akomodasi ramah lingkungan.
Soal kecepatan, satu unit modular seperti rumah 'kapsul ruang angkasa' bisa dipasang dalam satu hingga dua hari. Proyek kecil yang menggabungkan beberapa modul biasanya butuh waktu tiga hingga tujuh hari. Sementara pengembangan skala menengah hingga besar seperti hotel bisa selesai dalam empat minggu.
"Tergantung pada skalanya, jangka waktu pemasangan dapat dipersingkat 60 hingga 80% dibanding dengan metode pembangunan konvensional," tutur He.
Dia mengaitkan daya saing perumahan prefabrikasi China dengan tiga faktor kunci: biaya, kualitas, dan efisiensi. "Rantai pasokan China yang mapan memungkinkan kami untuk menawarkan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas," tandasnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi dan manufaktur massal mulai mengubah cara orang berpikir tentang rumah. Bukan lagi barang mewah yang butuh waktu lama dan biaya besar. Tapi produk yang bisa dibeli online, dikirim, dan dirakit dalam hitungan hari. Pasar global pun merespons dengan antusias, terutama di negara-negara yang butuh akomodasi cepat dan murah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jartatel Resmi Dibentuk, Targetkan Infrastruktur Digital Merata
Wally Funk, Penerbang Legendaris, Meninggal di 87 Tahun
Username WhatsApp: 5 Risiko Siber di Balik Fitur Baru
Uragasaurus kalasinensis, Dinosaurus Berleher Super Panjang dari Thailand
Persahabatan Bellingham-Haaland: Oase di Tengah Rivalitas
ChatGPT Work: Agen AI Mandiri untuk Proyek Rumit
Berita Terbaru
Rumah Rp285 Juta di Alibaba, Dirakit Sehari
WNA Australia Meninggal Saat Ditahan Imigrasi Bali
Belasan Anak Ular Kobra Berhasil Dievakuasi dari Rumah Warga Demak
AHY Tinjau SPAM dan IPAL di Akmil Magelang
Norwegia Vs Inggris: Duel Kuda Hitam di Perempat Final
Lonjakan Pembeli Alat Tulis Jelang Tahun Ajaran Baru
Pasar Alam di Sendang Banyu Temumpang Hidupkan Cagar Budaya
Mourinho Kembali ke Real Madrid, Target Akhiri Dominasi Barcelona
