Rusia Blokir Telegram, Matikan Internet Seluler Penuh
Gambar atau konten salah?
Di Rusia, jaringan internet mulai dipisahkan dari dunia luar. Aktivis dan pengamat melaporkan bahwa jutaan warga kini kehilangan akses ke platform pertukaran pesan singkat terbesar di dunia. Langkah ini dimulai dengan pemadaman internet di beberapa kota dan provinsi, lalu berlanjut dengan blokir aplikasi‑aplikasi penting bagi komunikasi publik.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menulis di X: "Ini adalah langkah mundur -- langkah mundur 100 tahun. Sebaiknya mereka segera beralih ke surat pos, telegraf, dan kuda." Kata-kata tersebut menyoroti betapa drastisnya kebijakan sensor ini.
Menurut Arturo Filastò, peneliti di Open Observatory of Network Interference (OONI), penutupan jaringan di Rusia tampak lebih tersembunyi dibandingkan Iran. Ia menjelaskan bahwa infrastruktur internet Rusia lebih terdesentralisasi, sehingga sensor yang meluas lebih sulit diterapkan. Filastò menambahkan, "Mereka memiliki lebih banyak penyedia layanan internet yang mengoperasikan dan mengelola jaringan mereka dengan lebih independen."
OONI mencatat sejak 20 Maret 2024 bahwa Telegram semakin sering diblokir. Peneliti memeriksa lebih dari 500 jaringan berbeda, menunjukkan gangguan luas terhadap layanan tersebut. Amnezia VPN, penyedia alat bypass sensor, menyatakan bahwa blokir Telegram lebih luas dan menunjukkan kemampuan teknis yang lebih tinggi dibandingkan upaya Rusia sebelumnya. Mereka melaporkan masalah akses di lebih dari selusin wilayah, termasuk Moskow dan St. Petersburg.
Otoritas Rusia di beberapa daerah telah mengisyaratkan bahwa mereka akan memblokir Telegram secara penuh mulai awal April 2024. Kepala Rostelecom pada Maret 2024 mengatakan bahwa WhatsApp "sudah mati" dan Telegram akan segera menyusul. Kedua layanan tersebut tampaknya akan digantikan oleh pesan domestik baru yang dikendalikan pemerintah, bernama Max.
Selama setidaknya setahun, Rusia mematikan jaringan seluler di sebagian besar wilayahnya, hanya mengizinkan akses ke situs yang telah disetujui. Pada awal bulan ini, internet seluler di pusat kota Moskow sepenuhnya dimatikan, menyebabkan gangguan besar. Pengguna tidak dapat mengakses layanan perbankan atau melakukan panggilan telepon. Pengecer di Rusia melaporkan peningkatan penjualan pager, peta kertas, dan telepon seluler, karena masyarakat berusaha mengatasi pemblokiran tersebut.
Secara keseluruhan, kebijakan sensor ini menandai perubahan signifikan dalam cara Rusia mengelola komunikasi digital. Dampaknya terasa di berbagai lapisan masyarakat, dari akses ke layanan keuangan hingga cara orang berinteraksi sehari‑hari. Kebijakan ini juga menandai pergeseran menuju sistem pesan domestik yang lebih terkontrol, menempatkan pemerintah di posisi pengendali utama atas aliran informasi di negara tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
