Rustika Herlambang Raih Doktor, Algoritma Kini Jadi Aktor Baru Agenda Publik

Eko P. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Rustika Herlambang Raih Doktor, Algoritma Kini Jadi Aktor Baru Agenda Publik

Gambar atau konten salah?

Rustika Nur Istiqomah, yang juga dikenal sebagai Rustika Herlambang, kini resmi bergelar doktor. Ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Padjadjaran (Unpad) setelah mempertahankan disertasi yang membahas bagaimana komunikasi digital bekerja dalam isu pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN). Penelitiannya menyoroti satu hal: algoritma media sosial bukan sekadar alat. Ia menjadi penentu besar isu apa yang ramai dibicarakan publik.

Sidang promosi doktor digelar di Gedung Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada 07 Juli 2026. Dalam sidang terbuka itu, Rustika—yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2)—meraih predikat "Sangat Memuaskan". Tim promotornya terdiri dari Atwar Bajari, Dadang Rahmat Hidayat, dan Jenny Ratna Suminar. Beberapa tokoh juga hadir memberi dukungan, termasuk mantan Wakapolri Ahmad Dofiri, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, dan artis Aura Kasih.

Disertasi Rustika berjudul panjang: "Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020-2024)". Judul itu mencerminkan apa yang ia teliti selama 1.827 hari. Ia menggunakan pendekatan Computational Social Science dan menganalisis seluruh populasi data dari berbagai platform digital. Tujuannya: memetakan bagaimana agenda publik terbentuk di era algoritma.

Menurut Rustika, teori agenda-setting klasik selalu menempatkan pemerintah, media massa, dan publik sebagai tiga aktor utama pembentuk opini publik. Tapi di ekosistem digital, ada pemain baru. Algoritma platform. Ia menentukan visibilitas suatu isu. Apa yang muncul di trending topic, apa yang masuk ke For You Page (FYP), semua diatur oleh sistem rekomendasi.

"Agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Ia terbentuk melalui interaksi antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page (FYP)," kata Rustika.

Satu temuan penting dari riset ini: volume konten bukan lagi segalanya. Banyaknya artikel atau unggahan yang dipublikasikan tidak otomatis membuat sebuah narasi sukses. Justru sebaliknya. Keberhasilan komunikasi ditentukan oleh resonansi. Seberapa besar keterlibatan publik. Diukur dari komentar, likes, shares, dan retweet.

Rustika menjelaskan, pesan dengan jumlah publikasi sedikit tetap bisa mendapat perhatian besar jika hadir pada momentum yang tepat. Ditambah format yang sesuai. Dan didukung mekanisme distribusi algoritmik.

"Di ruang digital saat ini, perhatian publik menjadi sumber daya yang sangat kompetitif. Yang menentukan bukan hanya seberapa banyak pesan dipublikasikan, tetapi seberapa besar resonansi yang berhasil dibangun," ujarnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa setiap platform digital punya peran unik. Media daring memperkuat legitimasi kebijakan lewat informasi formal. Twitter/X menjadi ruang kontestasi kritik dan diskusi. TikTok lebih efektif membangun pengalaman visual dan emosional. Isu kebijakan yang rumit bisa lebih mudah dipahami publik lewat video pendek.

"Isu yang sama bisa tampil sebagai berita di media daring, menjadi perdebatan di Twitter/X, dan berubah menjadi pengalaman visual di TikTok," kata Rustika.

Sebagai kontribusi teoretis, Rustika memperkenalkan model Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS). Model ini menempatkan algoritma sebagai mediator penting antara pemerintah, media, publik, dan kreator konten. Ia memperluas teori intermedia agenda-setting dengan memasukkan algoritma sebagai salah satu aktor yang menentukan distribusi dan visibilitas informasi.

"Melalui model AIAS, agenda publik dipahami sebagai hasil interaksi antara pemerintah, media massa, publik, kreator konten, dan sistem algoritma yang menentukan distribusi serta visibilitas informasi. Penelitian ini menyimpulkan suatu isu memiliki peluang lebih besar menjadi agenda publik ketika lima unsur bertemu secara bersamaan, yaitu pesan, momentum, format, emosi, dan logika platform," tutur Rustika.

Selain pengembangan keilmuan, riset ini juga mengidentifikasi enam strategi agenda-building pemerintah dalam isu IKN. Mulai dari policy anchoring hingga komunikasi langsung melalui kanal resmi Presiden. Rustika menyimpulkan, komunikasi kebijakan di era modern tidak cukup hanya dengan menyebarkan informasi secara masif.

"Komunikasi kebijakan hari ini harus memahami bagaimana perhatian publik bekerja dalam marketplace of attention yang dipengaruhi sekaligus oleh manusia dan algoritma. Membangun resonansi kini menjadi sama pentingnya dengan menyampaikan informasi," ujar Rustika.

Penelitian ini menunjukkan bahwa di era digital, siapa pun yang ingin menyampaikan pesan—pemerintah, perusahaan, atau individu—tidak bisa lagi mengandalkan volume. Mereka harus paham algoritma. Mereka harus membaca momentum. Dan mereka harus membangun resonansi. Tanpa itu, pesan hanya akan tenggelam di lautan konten.

algoritma media sosialagenda-settingIKNkomunikasi digitalresonansi publikanalisis big datapemindahan ibu kota

Komentar

Memuat komentar...