Warga Tasikmalaya Rela Bongkar Rumah Demi Proyek Normalisasi
Gambar atau konten salah?
Puluhan warga di bantaran irigasi Cikunten, tepatnya di RT 03 RW 13, Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, mulai meninggalkan rumah mereka. Rumah-rumah itu dibongkar untuk memberi jalan bagi proyek normalisasi saluran air yang digagas pemerintah.
Suasana haru terlihat di lokasi, tapi tetap kondusif. Tidak ada ketegangan fisik. Warga dengan sukarela membereskan barang-barang dan membongkar sendiri bangunan yang sudah mereka tempati puluhan tahun. Pekerjaan fisik di lapangan sudah berjalan beberapa hari terakhir.
Salah satu warga yang terkena dampak, Soni Mulyana (45), mengatakan ia menerima keputusan pemerintah. Tapi ia juga menyoroti pelaksanaan di lapangan yang dinilainya belum merata. Tidak semua bangunan di kawasan itu dibongkar.
"Iya terdampak dan bangunan rumah dibongkar, kalau saya menerima saja," ujar Soni.
Soni sudah tinggal di area itu selama 20 tahun. Kini ia harus pindah ke rumah kontrakan. Sosialisasi sudah dilakukan sebelumnya, makanya ia memilih mengosongkan rumah lebih awal.
"Saya sudah ngontrak dua bulan, karena sebelumnya ada pemberitahuan seminggu sebelum proyek sudah dikosongkan. Makanya suruh dibongkar, malah yang lainnya tidak dibongkar. Karena sejak awal dari PU tidak boleh permanen, makanya kalau rumah saya tidak permanen," kata Soni.
Ia berharap pihak berwenang bertindak tegas dan tidak pilih kasih. Hingga Selasa, 07 Juli 2026, baru tiga bangunan yang diratakan. Bangunan lain masih berdiri dengan berbagai alasan.
"Pengennya kalau mau dibongkar ya bongkar semuanya, jangan seperti sekarang, yang di depan tidak dibongkar, lihat yang lain semua dibongkar rata," kata Soni.
Soni menegaskan warga pada dasarnya kooperatif terhadap proyek pemerintah. Asalkan keadilan ditegakkan. "Saya terima saja, asalkan semua dibongkar," katanya.
Kesedihan juga dirasakan Yati Rohayati. Ia bingung. Rumah permanen yang dibangun dengan biaya besar kini harus dibongkar.
"Membangun rumah habis Rp150 juta, uang dapat kredit di bank. Cicilannya baru saja beres, eh sekarang harus dibongkar," kata Yati.
Yati sadar ada konsekuensi membangun di lahan terlarang. Tapi ia tak bisa menahan kesedihan. Ia harus meninggalkan lingkungan yang sudah lama ia tempati.
"Puluhan tahun saya hidup di sini, sekarang harus pergi, ya nelangsa pak," kata Yati sambil menahan tangis.
Warga lain, Eman, memilih membongkar sendiri rumah semi permanennya. Tujuannya menyelamatkan material bangunan.
"Dari pada dibongkar alat berat, mendingan bongkar sendiri," kata Eman. Ia sudah tinggal di lokasi itu sejak 1996.
Eman berencana pindah ke lahan milik saudaranya. Material sisa bongkaran akan dipakai lagi untuk membangun tempat tinggal baru.
"Mudah-mudahan cukup dan masih bisa terpakai ini kayu-kayu sama dinding GRC," kata Eman.
Proyek normalisasi irigasi Cikunten ini dinilai mendesak. Tujuannya mengembalikan fungsi teknis saluran air ke lebar semula. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi risiko banjir saat hujan deras. Juga menjamin pasokan air untuk pertanian di wilayah hilir Kecamatan Kawalu. Proses penataan di Karsamenak masih berlangsung hingga sekarang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Wagub Jabar Minta Farhan-Erwin Segera Damai
Sumur Tua di Ciamis Jadi Andalan Saat Kemarau
Anak 11 Tahun di Kanada Meninggal Akibat Rabies dari Gigitan Kelelawar
Polisi Misterius Bantu Korban Kebakaran Sukabumi
Peninjauan Lalu Lintas Bandara Husein Sastranegara
PKB Kota Bandung Minta Farhan-Erwin Segera Solid
Berita Terbaru
Warga Tasikmalaya Rela Bongkar Rumah Demi Proyek Normalisasi
Wagub Jabar Minta Farhan-Erwin Segera Damai
Pasar Johar Semarang Diserbu Pemburu Seragam Sekolah
Tabrak Lari di Brebes, Kaki Korban Putus dan Menyangkut di Pohon
Subandi Desak Delta Tirta Perbaiki Dua PR Besar
Wali Kota Malang Perangi LGBT, Temuan Ratusan Kasus HIV
Australia Peringatkan Warganya Soal Aturan Konten di Bali
Kapal Cepat Banyuwangi-Denpasar Berhenti, Sepi Penumpang
Ronaldo dan Messi Cetak Sejarah Enam Piala Dunia
Indonesia-India Jajaki Teknologi Rare Earth