Satelit SWOT Tangkapi Gambar Tsunami Besar Pasifik
Gambar atau konten salah?
Satellit canggih yang dimiliki NASA dan Prancis, Surface Water and Ocean Topography (SWOT), berhasil menangkap gambar resolusi tinggi pertama kali dari tsunami raksasa di Samudra Pasifik. Temuan ini memberi pandangan baru tentang gerakan gelombang tsunami di laut terbuka.
Peristiwa ini terjadi setelah gempa besar berkekuatan magnitudo 8,8 di dekat Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada 2025. Sekitar 70 menit setelah gempa, satelit SWOT melintas dan merekam tsunami yang sedang bergerak di lautan. Berbeda dengan teknologi sebelumnya, SWOT dapat memindai permukaan laut dalam area sangat luas sekaligus, bukan hanya garis sempit. Hal ini memungkinkan ilmuwan melihat bentuk tsunami secara utuh.
“Ibaratnya data SWOT adalah sepasang kacamata baru. Sebelumnya, dengan sensor DART, kami hanya bisa melihat tsunami di titik-titik tertentu di luasnya lautan,” ujar Angel Ruiz‑Angulo, penulis utama studi dari University of Iceland, dikutip dari Earth.com. “Sekarang, dengan SWOT, kami bisa menangkap area hingga sekitar 120 kilometer dengan resolusi tinggi yang belum pernah ada sebelumnya,” tambahnya.
Data dari SWOT menunjukkan bahwa tsunami tidak bergerak sebagai satu gelombang besar seperti yang selama ini dipahami. Sebaliknya, gelombang tersebut menyebar, terpecah, dan membentuk pola kompleks di sepanjang samudra. Penemuan ini bahkan disebut berpotensi mengubah model ilmiah yang digunakan untuk memprediksi tsunami. Pengamatan menunjukkan adanya gelombang tambahan dengan panjang gelombang pendek yang tertinggal di belakang gelombang utama. Fenomena ini sebelumnya sulit terdeteksi.
Keunggulan SWOT terletak pada kemampuannya memetakan permukaan laut hingga lebar sekitar 120 km dalam sekali lintasan. Kemampuan ini dinilai sangat penting untuk meningkatkan akurasi sistem peringatan dini tsunami di masa depan. “Menangkap tsunami ini dengan SWOT di dekat sumbernya memberi kami data penting tentang bagaimana gempa menghasilkan tsunami,” kata peneliti dalam studi tersebut.
Data ini akan membantu ilmuwan membangun model yang lebih realistis secara fisik dan meningkatkan penilaian risiko bagi wilayah pesisir. Selama ini, ilmuwan hanya mengandalkan buoy (pelampung) di laut dalam yang memberikan data terbatas di titik tertentu. Kini, dengan SWOT, mereka bisa melihat gambaran besar secara real‑time dan lebih detail.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam ilmu kebumian dan mitigasi bencana, karena memberikan cara baru untuk memahami bagaimana tsunami terbentuk dan menyebar di lautan. Ke depan, teknologi seperti SWOT berpotensi membuat sistem peringatan tsunami menjadi lebih cepat, akurat, dan mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Dengan kemampuan observasi luas dan resolusi tinggi, SWOT membuka pintu bagi pemahaman yang lebih baik tentang dinamika laut, sekaligus menambah alat penting bagi para peneliti dan pihak berwenang dalam mempersiapkan dan merespons bencana alam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Registrasi SIM Card Wajib Pindai Wajah Mulai Juli 2026
Operator Seluler Tunggu Aturan Turunan PP Tunas
Telkomsat Ubah Data Kapal Jadi Intelijen Bisnis
Pemerintah Uji Coba AI untuk Salurkan Bansos di Banyuwangi
Kakao Map Bocorkan Data Rahasia Korea Utara
Berita Terbaru
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia
Bali Siapkan 3 Kawasan Surga Pajak, Pajak 0% Ditawarkan
Jokowi ke Lampung Jumat, Ajak Warga Foto Bersama
Sekretaris Dinas Bangkalan Tewas Misterius di Mobil Dinas Bandara
Resep Asem-asem Daging Demak, Kuah Bening Segar untuk Lauk Beda
Puncak HUT Jakarta 499 Digelar di Bundaran HI 27 Juni