Satu Siswa Baru di SD Ciamis, MPLS Ditunda

Lia N. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Satu Siswa Baru di SD Ciamis, MPLS Ditunda

Gambar atau konten salah?

Suasana di SD Negeri 2 Salakaria, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, sangat berbeda dengan sekolah lain saat masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027. Di hari pertama sekolah, tidak ada upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau barisan siswa baru yang memenuhi halaman. Sekolah yang terletak di daerah pelosok ini justru tampak sepi.

Penyebabnya sederhana. Hanya satu siswa yang mendaftar di sekolah tersebut. Karena hanya satu peminat, kegiatan MPLS yang sudah dipersiapkan khusus untuknya terpaksa ditunda.

Maya Nurhidayah, guru kelas 1 di sekolah itu, mengaku sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut murid barunya. Alat peraga hingga materi pengenalan sekolah telah disiapkan sejak beberapa hari sebelumnya. Namun, rencana itu gagal.

"Sedih juga karena hari pertama seharusnya MPLS. Muridnya hanya satu orang, tetapi hari ini tidak bisa masuk karena sakit," kata Maya pada Rabu, 15 Juli 2026.

Ini adalah pengalaman pertama Maya menjabat sebagai wali kelas 1. Sebelumnya, ia mengajar siswa kelas 2. Meski hanya memiliki satu murid, semangatnya tidak berkurang sedikit pun.

"Awalnya yang mendaftar ada dua anak, tetapi satu lagi pindah ke Bogor. Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," ungkapnya.

Maya berharap siswanya segera pulih agar kegiatan MPLS bisa segera dilaksanakan. Menurutnya, mengajar satu murid justru membuka ruang untuk memberikan perhatian lebih dalam proses belajar-mengajar.

"Kalau hanya satu murid, saya bisa lebih fokus mendampingi. Saya ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, memberi motivasi, dan membuatnya betah di sekolah. Rasanya seperti mengajar les privat," harap Maya yang merupakan guru honorer di sekolah tersebut.

Kepala SD Negeri 2 Salakaria, Deni Purnama, menyebut total siswa di sekolahnya saat ini hanya 32 orang. Rinciannya:

  • Kelas 1: satu siswa
  • Kelas 2: tujuh siswa
  • Kelas 3: sembilan siswa
  • Kelas 4: lima siswa
  • Kelas 5: lima siswa
  • Kelas 6: enam siswa

Deni menjelaskan, minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit.

"Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," jelasnya.

Meski demikian, Deni memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas. Para guru tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai. Salah satunya penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran di kelas.

"Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik. Alhamdulillah sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam," jelasnya.

Deni mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah siswa minim bukanlah perkara mudah. Namun, kekompakan para guru menjadi kekuatan utama agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik.

"Semua guru saling mendukung. Kalau ada kekurangan, kami berusaha menutupinya bersama-sama demi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak," tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa fenomena ini terjadi bukan karena rendahnya kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Faktor demografi penduduk di lingkungan sekitar menjadi penyebab utama.

"Setelah kami evaluasi, ternyata bukan karena sekolah ini tidak berkualitas. Memang jumlah anak usia sekolah di lingkungan sini sudah sedikit. Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini juga merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak," tutur Erwan.

Meski hanya menerima satu siswa baru, Erwan menilai semangat para guru di SDN 2 Salakaria tetap tinggi. Bahkan, sekolah tersebut pernah menorehkan prestasi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.

"Tadi kami melihat langsung, guru-gurunya tetap semangat. Sekolah ini juga punya prestasi, bahkan pernah menjadi juara tingkat provinsi. Artinya kualitas sekolah tetap terjaga meskipun jumlah siswanya sedikit," terangnya.

Erwan memastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara sekolah yang memiliki banyak siswa dengan sekolah yang jumlah muridnya minim.

"Sedikit atau banyak siswanya, pelayanan pendidikan harus tetap sama. Justru dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa memberikan perhatian yang lebih maksimal kepada peserta didik," ujarnya.

Erwan menambahkan, SDN 2 Salakaria bukan satu-satunya sekolah dengan jumlah murid yang sedikit. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa sekolah dasar lainnya di Kabupaten Ciamis.

"Ada beberapa sekolah lain yang siswanya juga sedikit, seperti di wilayah Lakbok, Rancah, Ciamis dan beberapa daerah lainnya. Karena itu kami datang untuk memberi semangat kepada guru dan siswa agar tetap optimistis menjalankan proses belajar mengajar," tambahnya.

Erwan menegaskan, hal terpenting bagi pemerintah adalah memastikan seluruh anak usia sekolah tetap memperoleh layanan pendidikan, di mana pun mereka bersekolah.

"Orang tua memiliki hak memilih sekolah, baik SD negeri, SD swasta maupun Madrasah Ibtidaiyah. Tugas kami adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dan terus ditingkatkan. Kalau masih ada kekurangan, itu menjadi bahan evaluasi kami," tuturnya.

Erwan menegaskan, keberadaan sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.

"Walaupun muridnya hanya satu orang, layanan pendidikannya tetap harus maksimal. Anak-anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas," tegas Erwan.

Kondisi SD Negeri 2 Salakaria mencerminkan tantangan demografis di beberapa wilayah pedesaan. Program Kampung KB yang sukses menekan angka kelahiran berdampak langsung pada jumlah anak usia sekolah. Sekolah dengan jumlah siswa sangat sedikit bukanlah kasus langka di Kabupaten Ciamis. Meskipun jumlah murid minim, semangat para guru dan dukungan pemerintah daerah memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi. Prestasi yang pernah diraih sekolah ini di tingkat provinsi membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu bergantung pada jumlah siswa.

Hanya satu siswaPPDBSDN 2 SalakariaCiamisMPLS ditundaKampung KBdemografi

Komentar

Memuat komentar...