SDN 8 Kranji Hanya Terima 3 Murid Baru

Jaka M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
SDN 8 Kranji Hanya Terima 3 Murid Baru

Gambar atau konten salah?

Purwokerto Timur, Banyumas — Hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 berlangsung dengan suasana berbeda di SDN 8 Kranji. Sekolah dasar negeri di Kecamatan Purwokerto Timur ini hanya menerima tiga murid baru untuk kelas 1. Padahal, kapasitas satu rombongan belajar (rombel) di sekolah tersebut mencapai 28 siswa. Artinya, masih ada 25 kursi kosong yang belum terisi.

Pantauan di lokasi pada Senin, 13 Juli 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama berjalan lancar. Dari luar pagar sekolah terdengar suara beberapa siswa bernyanyi bersama. Namun, jumlah peserta MPLS sangat sedikit jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di sekitarnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Wahyu Adhi Febrinto, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi setelah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Banyak sekolah di Banyumas yang belum memenuhi kuota pendaftaran. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas memberikan izin kepada sekolah-sekolah untuk membuka pendaftaran secara offline.

"Kemarin sesuai Permendikdasmen, apabila sekolah kuotanya belum terpenuhi bisa mengajukan izin kepada Bupati. Kemarin Bapak Bupati sudah mengizinkan sekolah membuka pendaftaran offline agar siswa yang mendaftar tetap bisa masuk di hari pertama sekolah ini," kata Wahyu saat ditemui di kompleks Pendopo Bupati Banyumas.

Menurut Wahyu, sejak awal terdapat delapan SMP dan 61 SD yang kekurangan kuota peserta didik baru. Data final masih menunggu laporan dari masing-masing sekolah. "Memang ada beberapa sekolah yang kemarin hanya mendapat tiga, bahkan kurang dari lima siswa. Nanti sekitar pukul 10.00 WIB baru diketahui jumlah riilnya," ujarnya.

Meskipun jumlah murid sedikit, Wahyu memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan normal. "Pembelajaran tetap dilaksanakan seperti biasa. Tidak ada permasalahan jumlah berapa pun siswanya. Yang penting maksimal satu rombongan belajar SD adalah 28 siswa dan SMP 32 siswa," jelasnya.

Ia menyebut SDN 8 Kranji menjadi sekolah dengan jumlah peserta didik baru paling sedikit di Banyumas. "Paling sedikit di Kabupaten Banyumas itu ya SDN 8 Kranji, cuma dapat 3 siswa. Murid barunya contohnya 7, tapi rinciannya 3 di SD kelas 1 dan 4 di kelas 2 pindahan, masuk ke kelas 2," ungkapnya.

Wahyu menambahkan bahwa kursi kosong tersebut masih bisa diisi melalui perpindahan siswa dari sekolah lain. "Nanti apabila ada yang mau pindah, setelah semester satu atau semester dua masih bisa masuk ke SD yang masih memiliki kuota kursi tersebut," katanya.

Kepala SDN 8 Kranji, Nur Laila, mengungkapkan bahwa saat pendaftaran SPMB secara online dibuka, sekolahnya sempat hanya mendapatkan satu calon siswa baru. Jika dibandingkan dengan pendaftaran offline tahun lalu, SDN 8 Kranji menerima 22 siswa baru. Setelah Pemkab Banyumas mengizinkan pembukaan pendaftaran secara offline, jumlah tersebut bertambah menjadi tiga siswa kelas 1. Selain itu, terdapat empat siswa pindahan yang masuk ke kelas 2, sehingga total siswa baru yang diterima sekolah berjumlah tujuh orang.

"Dari awal SPMB online dibuka kami memang hanya mendapatkan satu siswa. Kemudian setelah ada arahan Bupati Banyumas dibuka pendaftaran offline, alhamdulillah ada peningkatan. Jadi kami totalnya tujuh, begitu dengan yang pindahan untuk SD Negeri 8 Kranji seperti itu," kata Laila.

Menurut Laila, ada sejumlah faktor yang menyebabkan minimnya jumlah pendaftar di sekolahnya. Salah satunya karena tahun ini pertama kalinya menerapkan SPMB online di jenjang SD. "Ini kebijakan baru sehingga perlu adaptasi. Mungkin juga sosialisasi belum maksimal sehingga informasi tentang SPMB online belum sepenuhnya dipahami masyarakat," ujarnya.

Selain itu, faktor letak sekolah juga dinilai berpengaruh terhadap jumlah pendaftar. "Khusus SD Negeri 8 Kranji, secara geografis letaknya tidak berada di jalur utama, sekolah kami masuk ke dalam. Di samping itu juga bersebelahan dengan sekolah-sekolah yang lebih besar, sehingga sedikit banyak memengaruhi jumlah siswa yang diterima," jelasnya.

Laila juga menilai jumlah anak usia sekolah dasar tahun ini memang menurun karena merupakan generasi yang lahir pada masa pandemi COVID-19. "Calon siswa baru memang tidak terlalu banyak. Kalau ditarik ke belakang, mereka adalah generasi COVID, sehingga jumlah anaknya juga lebih sedikit," katanya.

Ia berharap jumlah peserta didik bisa kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya. "Tahun ajaran sebelumnya kami masih mendapatkan 22 siswa karena saat itu sistemnya masih offline. Saya kira untuk sekolah kecil seperti kami, sistem offline lebih cocok karena kami lebih dekat dengan masyarakat," pungkasnya.

Kondisi SDN 8 Kranji ini menjadi gambaran tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah kecil di daerah. Perubahan sistem pendaftaran dari offline ke online, ditambah dengan faktor geografis dan demografis, membuat beberapa sekolah kesulitan menarik minat calon siswa. Meski demikian, pemerintah daerah telah memberikan kelonggaran dengan membuka pendaftaran offline agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah.

SPMB onlineSDN 8 Kranjikekurangan siswapendaftaran offlineBanyumassekolah kecilgenerasi COVID

Komentar

Memuat komentar...