Sekolah Rusak, BGN: Tak Ada Kaitan dengan MBG

Lia N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Sekolah Rusak, BGN: Tak Ada Kaitan dengan MBG

Gambar atau konten salah?

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, angkat bicara soal kondisi SDN Tanggirejo di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Belakangan, sekolah itu ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan program makan bergizi gratis (MBG). Menurut Sudaryono, kerusakan sekolah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan program tersebut.

Sudaryono mengaku sebagai orang Grobogan. Ia sudah dihubungi banyak orang soal informasi itu. Ia menilai sekolah itu sudah rusak jauh sebelum program MBG berjalan.

"Sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul enggak? Kita objektif aja. Sekolah itu rusak, memang rusak sebelum ada program MBG," kata Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, pada Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menjelaskan, pada tahun 2025 pemerintah sudah merenovasi lebih dari 16 ribu sekolah. Untuk tahun 2026, target renovasi mencapai 70 ribu sekolah. Sudaryono menegaskan, jika ada sekolah yang rusak, masyarakat bisa melaporkannya lewat portal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Laporan itu, katanya, pasti akan ditindaklanjuti dan sekolahnya akan diperbaiki.

"Ini kan masalahnya enggak fair ya. Sudah perbaiki 16.000, sekarang sudah perbaiki 70.000. Begitu ada yang rusak, apalagi sebelahnya dapur MBG-nya mengkilat bersih, warnanya biru, bagus, terus dibanding-bandingkan. Ini sesuatu yang menurut saya adalah tidak fair. Tapi enggak apa-apa, itu bagian dari dinamika kita berdemokrasi, enggak ada masalah," tambah Sudaryono.

Sudaryono menjelaskan, BGN saat ini fokus pada perannya memastikan dapur MBG berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Ia menegaskan dapur MBG dibangun lewat skema kemitraan. Sementara perbaikan sekolah berasal dari anggaran pemerintah pusat.

"Kalau Anda temukan sekolah rusak, ya sudah sekolah rusaknya di foto-foto, di laporan saja, dan tidak perlu kemudian dibandingkan dengan dapur MBG. Karena tidak nyambung, mohon maaf. Dapur MBG ini yang bangun adalah mitra, ya kemudian sudah ada skemanya. Sementara perbaikan sekolah ini, ini dua hal yang berbeda. Jangan kemudian jadi seolah-olah ada dikontradiksikan gitu," beber Sudaryono.

Sebelumnya, atap dua ruangan di SD Negeri Tanggirejo ambrol sejak awal tahun 2026. Proses belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke musala demi keselamatan siswa. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merespons cepat informasi itu.

"Saat ini kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah untuk segera merevitalisasi sekolah tersebut," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal, dan Pendidikan Informal, Gogot Suharwoto, dalam keterangannya.

Selanjutnya, Kemendikdasmen akan mengundang Kepala SDN Tanggirejo ke Jakarta untuk menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi. Gogot menegaskan program revitalisasi sekolah merupakan salah satu prioritas pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Pemerintah berkomitmen memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan agar anak-anak bisa belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan layak.

Dari pemberitaan ini, terlihat bahwa kerusakan sekolah dan program MBG adalah dua hal yang berbeda. Pemerintah sudah memiliki jalur pelaporan khusus untuk sekolah rusak. Sementara dapur MBG dibangun oleh mitra, bukan dari anggaran renovasi sekolah. Perbandingan antara keduanya dinilai tidak tepat oleh Sudaryono.

SDN Tanggirejoprogram MBGsekolah rusakrenovasi sekolahdapur MBGKemendikdasmenpelaporan sekolah

Komentar

Memuat komentar...