Serangan Iran Merusak Pipa Saudi, Pasokan Minyak Tertekan
Gambar atau konten salah?
Di jalur pipa East-West, aliran minyak milik Arab Saudi diperkirakan harus turun 700.000 barel per hari karena kerusakan stasiun pompa. Kerusakan ini terjadi setelah serangan Iran menargetkan pipa strategis yang menghubungkan fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia dengan terminal ekspor di Laut Merah, Yanbu.
Pipa ini memiliki kapasitas 7 juta barel per hari dan menjadi jalur utama ekspor minyak bagi Arab Saudi. Tanpa pipa ini, negara tersebut tidak dapat menggunakan Selat Hormuz, yang kini ditutup oleh Iran. Pipa East-West mengalirkan minyak dari fasilitas pengolahan di Teluk Persia ke terminal ekspor di Laut Merah, sehingga penting bagi pasokan global.
Serangan terhadap fasilitas produksi di Manifa dan Khurais juga mengurangi produksi Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Beberapa kilang minyak turut menjadi sasaran serangan, menambah tekanan pada rantai pasokan minyak di wilayah tersebut.
Kerusakan infrastruktur energi Arab Saudi memperparah gangguan besar terhadap pasokan minyak global. Sebelumnya, pasokan dunia sudah terdampak oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Selat Hormuz menghubungkan produsen minyak di Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, ke pasar global.
Amerika Serikat sempat menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan imbalan Iran mengizinkan kapal melintas di selat tersebut. Namun, CEO perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, Sultan Ahmed Al Jaber, menyatakan jalur tersebut masih belum benar-benar terbuka untuk lalu lintas.
“Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, diatur, dan dikendalikan,” kata Al Jaber dalam unggahan di media sosial. Ia menegaskan bahwa kapal harus mendapatkan izin terlebih dahulu untuk melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sebelumnya menampung sekitar 20 % pasokan minyak dunia. Setelah konflik pecah pada 28 Februari 2026, produsen minyak di Teluk telah memangkas sekitar 13 juta barel per hari produksi akibat gangguan di selat tersebut.
Dengan kombinasi kerusakan pipa, serangan fasilitas produksi, dan pembatasan Selat Hormuz, pasokan minyak global mengalami tekanan signifikan. Dampak ini menyoroti ketergantungan dunia pada jalur energi Teluk yang rentan terhadap konflik geopolitik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
