SKK Migas Dorong 15 Sumur MSF Tahun 2026 untuk Produksi Migas

Dwi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
SKK Migas Dorong 15 Sumur MSF Tahun 2026 untuk Produksi Migas

Gambar atau konten salah?

SKK Migas terus mendorong peningkatan produksi migas nasional dengan mengoptimalkan teknologi di lapangan. Peningkatan ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mencapai ketahanan energi.

Program Triple 100, yang meliputi 100 sumur eksplorasi, 100 multi-stage fracturing, dan 100 tambahan sumur pengembangan, menjadi fokus utama. Program ini bertujuan menambah jumlah sumur aktif dan meningkatkan efisiensi produksi di seluruh wilayah kerja.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja, Rikky Rahmat Firdaus, melakukan kunjungan kerja ke proyek sumur Multi Stage Fracturing (MSF) BLSE-050 di lapangan Balam South East yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Provinsi Riau. Kunjungan ini menandai langkah konkret dalam memantau implementasi teknologi baru di lapangan.

Rikky menegaskan bahwa penerapan teknologi MSF merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi lapangan migas, termasuk lapangan yang telah berumur dan memiliki kualitas reservoir rendah (low quality reservoir) serta cadangan yang masih cukup besar. Teknologi ini diharapkan dapat membuka jalur aliran minyak yang semula sulit diproduksi.

“Program MSF ini merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan‑lapangan low quality reservoir. Melalui teknologi ini, kita dapat membuka jalur aliran minyak yang sebelumnya sulit diproduksikan, sehingga potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” ujar Rikky, dalam keterangan tertulis, 21 April 2026.

Rikky menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), penyedia layanan, serta dukungan operasional yang memadai. Tanpa koordinasi yang baik, potensi lapangan tidak akan terrealisasikan secara optimal.

“Kami terus mendorong percepatan pelaksanaan program ini dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi biaya, dan keandalan operasi. Kami juga memastikan dukungan peralatan, percepatan pembebasan lahan, serta penguatan kapasitas operasional agar target 15 sumur MSF di tahun 2026 dapat tercapai dan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi nasional,” kata Rikky.

Menurut General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, program MSF merupakan strategi utama untuk meningkatkan produksi pada lapangan dengan karakteristik low quality reservoir. Kondisi batuan tersebut membuat minyak sulit mengalir secara alami ke sumur, sehingga diperlukan intervensi tambahan.

Teknologi fracturing atau perekahan batuan dengan tekanan tinggi digunakan guna membuka jalur aliran minyak. Proses ini dilakukan secara bertahap (multi stage fracturing) pada sumur horizontal, sehingga aliran hidrokarbon dapat lebih optimal dan produksi meningkat.

Andre mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 direncanakan sebanyak 15 sumur MSF akan dieksekusi, tersebar di tiga lapangan utama, yakni Balam South East, Bangko, dan Kotabatak, masing-masing sebanyak lima sumur. Rencana ini mencerminkan komitmen PHR untuk memperluas kapasitas produksi.

Ia menuturkan bahwa sumur MSF merupakan sumur high profile yang artinya sumur-sumur ini diharapkan menghasilkan produksi yang tinggi, sekaligus menantang operasional dan biaya yang juga tinggi. Untuk itu, PHR berupaya semaksimal mungkin memastikan sumur MSF diselesaikan dengan sebaik‑baiknya guna mencapai hasil maksimal.

Hingga saat ini, dua sumur pertama tahun ini telah menyelesaikan fracturing stage 1 dan tengah bersiap memasuki stage berikutnya, yang direncanakan hingga 8 stages, dan onstream diharapkan di akhir Mei. Selain itu, terdapat dua sumur yang masih dalam proses pengeboran serta empat sumur yang telah siap untuk dibor. Progres ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam pelaksanaan program.

Di sisi lain, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, CW Wicaksono memastikan pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi berkelanjutan dengan PT PHR. Tindakan ini diharapkan menjaga kualitas pelaksanaan proyek.

“SKK Migas akan mengawal pelaksanaan proyek strategis hulu migas agar berjalan optimal, sekaligus mendukung pencapaian target produksi nasional, ketahanan energi, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Wicaksono.

Dalam kunjungan tersebut turut hadir Kepala Divisi (Kadiv) Optimalisasi Cadangan Sri Andaryani, Kepala Departemen (Kadept) Operasi Sumbagut Sebastian Julius, Staf Ahli Deputi Eksploitasi Areiyando Makmun, dan Manajemen PHR Zona Rokan. Kehadiran mereka menandai kolaborasi lintas unit dalam mendukung proyek.

Program ini menandai langkah konkret SKK Migas dalam memanfaatkan teknologi canggih untuk meningkatkan produksi migas, khususnya di lapangan-lapangan dengan reservoir berkualitas rendah. Dengan target 15 sumur MSF di tahun 2026, diharapkan kontribusi signifikan terhadap produksi nasional dapat tercapai, mendukung ketahanan energi, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Langkah ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dan perusahaan migas untuk memaksimalkan sumber daya alam Indonesia secara bertanggung jawab.

SKK MigasTriple 100Multi Stage FracturingLow Quality ReservoirPT Pertamina Hulu RokanProduksi MigasKetahanan Energi

Komentar

Memuat komentar...