SpaceX Siap IPO, Musk Target 1 Triliun Dolar Bertahun
Gambar atau konten salah?
SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, kini tengah menyiapkan penawaran umum perdana (IPO). Meskipun masih dimiliki secara pribadi, pada hari Rabu perusahaan mengajukan permohonan rahasia ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk memulai proses tersebut. Langkah ini memungkinkan saham SpaceX diperdagangkan di pasar saham tanpa harus mengungkapkan semua detail kepada publik secara langsung.
Nilai perusahaan setelah go public diperkirakan akan melampaui USD 1 triliun. Dengan nilai tersebut, debut pasar sahamnya akan menjadi salah satu yang paling signifikan secara finansial dalam sejarah. Melansir BBC, pada 03 April 2026, kepemilikan saham Musk di SpaceX akan menjadi jalan bagi miliarder tersebut menjadi triliuner pertama di dunia.
Menurut laporan Bloomberg, Reuters, dan New York Times, SpaceX berencana secara resmi melakukan IPO pada bulan Juni. Setelah pengajuan rahasia, para eksekutif akan mengadakan roadshow—pertemuan dengan investor besar—untuk meyakinkan mereka membeli saham. Dengan membuka saham ke publik, perusahaan berharap mengumpulkan dana sebesar USD 50 miliar atau lebih.
Awal tahun ini, SpaceX mengambil alih xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk. Setelah merger saham penuh, SpaceX diyakini menjadi perusahaan swasta paling berharga di dunia, dengan valuasi internal sebesar USD 1,25 triliun. Sebelumnya, di tahun lalu, xAI—yang terkenal dengan chatbot Grok—mengambil alih X, platform media sosial yang sebelumnya bernama Twitter dan dibeli Musk pada 2022.
Emily Zheng, analis senior di Pitchbook, pernah mengatakan kepada BBC bahwa dengan membawa xAI di bawah SpaceX, Musk dapat menunjukkan kepada investor potensial bahwa ia sedang mengkonsolidasikan biaya dan mampu dengan mudah berbagi sumber daya antar perusahaannya. Dengan ambisi berskala besar, SpaceX membutuhkan suntikan dana tunai besar-besaran yang dapat diberikan oleh go public, tambah Zheng.
Musk memulai SpaceX pada 2002 dengan tujuan mengurangi biaya peluncuran pesawat ruang angkasa ke luar angkasa. Fokus utamanya adalah membuat roket yang dapat diluncurkan lebih dari sekali. SpaceX pertama kali menjalin kontrak dengan NASA pada 2006. Saat ini, sebagian besar pekerjaan SpaceX masih berpusat pada roket dan pengoperasian Starlink, armada satelit yang menawarkan konektivitas internet di seluruh dunia.
Namun, Musk sering membahas ambisi yang lebih besar untuk perusahaan tersebut. Ia ingin menempatkan pusat data yang dibutuhkan untuk AI di luar angkasa dan membangun kota mandiri di Mars—meskipun menurut banyak ahli mungkin mustahil untuk diwujudkan.
Dengan nilai yang diharapkan, go public tidak hanya akan mengubah wajah SpaceX, tetapi juga memberi Musk peluang untuk menjadi triliuner pertama di dunia. Proses IPO ini menandai langkah penting bagi perusahaan yang telah mengubah cara kita melihat peluncuran roket dan konektivitas global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
