Sri Mulyani: AI Ubah Cara Mahasiswa Belajar di Oxford

Iwan D. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Sri Mulyani: AI Ubah Cara Mahasiswa Belajar di Oxford

Gambar atau konten salah?

Setelah 14 tahun menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani kini mengajar di Oxford University. Hampir setahun ia menjadi pengajar di sana, dan ia membagikan pengalaman serta pandangannya selama berada di salah satu universitas paling bergengsi di dunia itu.

Oxford University secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam berbagai daftar universitas dunia. Di kampus ini, Sri Mulyani mengajar di Blavatnik School, sebuah fakultas yang khusus mempelajari kebijakan publik. Mahasiswa di sana berasal dari berbagai latar belakang strategis. Mereka adalah calon-calon perumus kebijakan publik yang nantinya akan menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di negara masing-masing.

Melalui unggahan di akun Instagram @blavatnikschool, Sri Mulyani mengungkapkan beberapa pelajaran yang ia peroleh selama mengajar. Menurutnya, dinamika geopolitik saat ini justru menghadirkan lebih banyak pilihan. Namun di saat yang sama, proses pengambilan kebijakan publik menjadi semakin rumit.

Ia juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). AI mulai mengubah cara mahasiswa belajar. Selain itu, AI juga dinilai mengubah cara seseorang memberikan masukan terhadap kebijakan publik — lebih ringkas dan lebih cepat.

"Ini akan menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh semua pembuat kebijakan, terutama generasi muda," ungkapnya dalam Instagram @blavatnikschool, Rabu (15 Juli 2026).

Alumnus University of Illinois Urbana-Champaign ini menilai keberhasilan sebuah kebijakan publik sangat bergantung pada hasil nyata dan kepercayaan masyarakat. Namun kedua hal itu semakin sulit diwujudkan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, baik di tingkat nasional maupun global.

"Sebenarnya setiap kebijakan di tingkat publik akan efektif jika ada hasil dan kepercayaan, dan itu menjadi sangat sulit untuk diperoleh selama masa yang sangat fluktuatif dan terpecah-pecah ini, baik dalam masyarakat dan politik, maupun di tingkat nasional dan global," tuturnya.

Dari pengalaman Sri Mulyani, terlihat bahwa tantangan utama pembuat kebijakan saat ini bukan hanya soal merumuskan aturan, tetapi juga membangun kepercayaan di tengah situasi yang tidak menentu. AI dan perubahan geopolitik menambah lapisan kerumitan yang harus dihadapi generasi muda yang kelak akan mengambil alih peran-peran strategis ini.

Sri MulyaniOxford Universitykebijakan publikkecerdasan buatangeopolitikkepercayaan masyarakatgenerasi muda

Komentar

Memuat komentar...