Startup Belanja Anak Bill Gates Dituduh Curi Komisi Afiliasi
Gambar atau konten salah?
Sebuah startup belanja bernama Phia, yang didirikan oleh Phoebe Gates—putri dari pendiri Microsoft, Bill Gates—kini tengah menjadi sorotan. Kontroversi muncul setelah startup ini dituduh melakukan praktik yang disebut cookie stuffing. Praktik ini memungkinkan Phia mendapatkan komisi dari penjualan yang sebenarnya tidak mereka lakukan.
Phia bergerak di bidang affiliate marketing melalui ekstensi browser. Dalam model bisnis ini, biasanya setiap kreator, penerbit, atau platform memiliki tautan unik. Saat konsumen mengklik tautan tersebut dan membeli produk, peritel bisa melacak afiliasi mana yang berhasil menjual dan memberikan komisi.
Namun, investigasi yang dilakukan Bloomberg menemukan kejanggalan. Ekstensi Phia diduga menyisipkan kode mereka sendiri di akhir proses transaksi. Seorang pembeli bisa saja mengunjungi situs peritel secara langsung atau datang dari tautan afiliasi lain. Tapi tiba-tiba, Phia mengganti kode referensi asli dengan kode milik mereka.
Salah satu contoh yang diuji Bloomberg cukup gamblang. Mereka mengikuti tautan ke situs peritel fesyen Nordstrom dari sebuah artikel Wirecutter yang membahas promo diskon. Saat proses pembayaran berlangsung, Phia diduga membuka tab lain secara diam-diam. Di tab itulah mereka mengganti informasi referensi Wirecutter dengan informasi referensi mereka sendiri.
Praktik semacam ini memungkinkan Phia mengambil kredit dan berpotensi menerima komisi dari penjualan yang tidak mereka hasilkan. Temuan ini pertama kali dilaporkan oleh TechCrunch pada Senin, 13 Juli 2026.
Setelah laporan tersebut muncul, juru bicara Phia angkat bicara. Mereka mengklaim sudah memperbaiki masalah tersebut. Namun, mereka menyebut ini sebagai masalah pada software, bukan praktik bisnis yang disengaja.
Bloomberg kemudian menguji ulang ekstensi Phia setelah menghubungi pihak startup. Hasilnya, ekstensi tersebut sudah berhenti mengambil alih klik rujukan. Belum jelas apakah perbaikan ini sudah cukup untuk menenangkan para peritel dan mitra afiliasi lain yang mungkin dirugikan.
Phoebe Gates mendirikan Phia pada tahun 2025 bersama Sophia Kianni. Startup ini tergolong muda, tapi sudah mengumpulkan dana sebesar USD 40 juta. Beberapa investor ternama ikut mendukung, seperti Khloé Kardashian, Hailey Bieber, dan Sydney Sweeney.
Phia mengembangkan aplikasi berupa ekstensi browser. Cara kerjanya disebut mirip Google Flights, tapi khusus untuk belanja online. Ekstensi ini membantu konsumen menemukan barang dengan harga termurah dari berbagai peritel. Selain itu, mereka juga menampilkan kode diskon yang bisa dipakai saat berbelanja.
Sejak diluncurkan, Phia tumbuh cukup cepat. Pada minggu pertama, aplikasi ini berhasil mencapai peringkat ke-21 di Apple App Store. Hingga September 2025, aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 500.000 kali.
Kontroversi cookie stuffing ini menjadi catatan penting di tengah pertumbuhan Phia yang pesat. Meskipun pihak startup mengklaim sudah memperbaiki masalah, praktik semacam ini bisa merusak kepercayaan peritel dan mitra afiliasi. Apalagi, Phia didukung oleh nama-nama besar dan pendanaan yang tidak sedikit.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
