Stasiun Mampang: Jejak Kereta Jakarta yang Terpuruk, Berbahaya
Gambar atau konten salah?
Stasiun Mampang pernah menjadi titik penting di jaringan kereta Jakarta, melayani jalur Tanah Abang–Manggarai. Sekarang, stasiun ini hanya menjadi jejak sejarah yang terlupakan.
Berlokasi di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman, pintu masuk stasiun terletak di sisi utara, tepat di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat. Di sisi selatan, Kali Ciliwung membentang, sehingga tidak ada pagar atau pembatas di sana. Akibatnya, siapa saja bisa masuk ke area stasiun tanpa hambatan.
Di sisi utara, terdapat beberapa anak tangga yang masih dapat digunakan untuk masuk dan keluar. Namun, area tersebut tidak dilengkapi dengan pagar, sehingga masyarakat dapat masuk dengan mudah. Kondisi ini terlihat jelas ketika meninjau tumpukan sampah di luar maupun dalam area stasiun.
Bangunan kecil yang dulunya berfungsi sebagai loket tiket kini tampak memprihatinkan. Bangunan beton tersebut tidak memiliki atap maupun jendela, dindingnya kusam dan penuh coretan. Sementara di sisi lain, tersisa hanya tiang menyerupai kerangka halte dengan tulisan “Mampang”. Tidak ada jalur khusus bagi orang untuk menyeberang dengan aman.
Meski bangunan sudah terbengkalai, jalur rel di depannya tetap aktif. KRL melintasi stasiun ini setiap hari. Kadang, rangkaian KRL terhenti sejenak di depan stasiun untuk menunggu sinyal masuk ke stasiun berikutnya.
Peron di Stasiun Mampang tidak lagi layak digunakan. Tingginya tidak cukup untuk mencapai pintu KRL saat ini, hanya setinggi roda kereta yang melintas. Panjang peron juga terbatas, hanya cukup menampung sekitar empat gerbong KRL. Selain itu, peron terbuat dari tanah dan kerikil, ditambah pecahan puing, kaca, dan ranting pohon yang membuat permukaan tidak rata. Kondisi ini membuat peron sangat tidak layak bagi penumpang.
Foto yang diambil oleh Ignacio Geordy Oswaldo menunjukkan kondisi ini secara jelas. Stasiun yang dulu berdiri sejak zaman penjajahan Belanda kini tidak dapat lagi berfungsi sebagai tempat naik turun penumpang. Meskipun rel masih aktif, peron yang rusak dan kurangnya fasilitas membuatnya tidak aman untuk digunakan.
Stasiun Mampang tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kereta Jakarta, namun tanpa perawatan dan renovasi, ia hanya akan terus terpuruk di antara arus modernitas kota.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
