Tarif Besar AS Cegah Ekspor Panel Surya Indonesia Fokus PLTS

Jaka M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 111 dibaca
Bisik.id
Tarif Besar AS Cegah Ekspor Panel Surya Indonesia Fokus PLTS

Gambar atau konten salah?

Panel surya yang diproduksi di Indonesia kini menghadapi kemungkinan tarif tinggi dari Amerika Serikat. Pemerintah AS menargetkan tarif hingga 143% atas produk panel surya asal Indonesia. Pabrik di Batang, Kendal, dan Batam, yang juga mengekspor ke AS, berada di bawah ancaman ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi isu tersebut. Wakil Menteri Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menghitung dampak kebijakan ini, khususnya pada volume ekspor ke AS. Ia bertemu di kantor ESDM, Jakarta Pusat, pada Jumat (24 April 2026).

“Jadi kita juga melihat itu volume yang diekspor ke Amerika itu berapa dan yang dikenakan tarif itu kira‑kira berapa banyak itu volumenya,” kata Yuliot. Ia menilai bahwa jika tarif sebesar itu berpengaruh besar, produk dalam negeri mungkin tidak akan diekspor lagi. Produksi panel surya akan lebih banyak diserap pasar domestik.

Presiden Prabowo baru-baru ini memerintahkan percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. Targetnya mencapai 100 gigawatt untuk kebutuhan dalam negeri. Yuliot menambahkan: “Kemudian yang ini arahan dari Presiden itu bagaimana kita juga mempercepat untuk PLTS 100 gigawatt untuk kebutuhan dalam negeri,”

Pembangunan PLTS akan dilaksanakan secara bertahap. Tahap awal akan membangun kapasitas 17 GW, yang detailnya sedang disusun oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Rencana ini diharapkan dapat menutup kebutuhan energi bersih di negeri ini.

Sebelumnya, pada Selasa (24 February 2026), Departemen Perdagangan AS (USDOC) mengumumkan pengenaan Bea Masuk Imbalan Sementara atas impor produk crystalline silicone photovoltaic cells, baik terpasang maupun tidak, kepada beberapa negara termasuk Indonesia. Tarif individual untuk produsen asal Indonesia berada pada kisaran 85,99%-143,30%, dengan tarif umum 104,38%.

Dengan tarif tinggi dan potensi penurunan ekspor, industri panel surya Indonesia harus menyesuaikan strategi. Fokus pada pasar domestik dan peningkatan kapasitas PLTS menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi dan menanggapi perubahan kebijakan perdagangan internasional.

tarif tinggi ASpanel surya IndonesiaPLTS 100 GWBea Masuk Imbalan SementaraESDMPrabowokonsentrasi energi bersih

Komentar

Memuat komentar...