Tarif Besar AS Cegah Ekspor Panel Surya Indonesia Fokus PLTS
Gambar atau konten salah?
Panel surya yang diproduksi di Indonesia kini menghadapi kemungkinan tarif tinggi dari Amerika Serikat. Pemerintah AS menargetkan tarif hingga 143% atas produk panel surya asal Indonesia. Pabrik di Batang, Kendal, dan Batam, yang juga mengekspor ke AS, berada di bawah ancaman ini.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi isu tersebut. Wakil Menteri Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menghitung dampak kebijakan ini, khususnya pada volume ekspor ke AS. Ia bertemu di kantor ESDM, Jakarta Pusat, pada Jumat (24 April 2026).
“Jadi kita juga melihat itu volume yang diekspor ke Amerika itu berapa dan yang dikenakan tarif itu kira‑kira berapa banyak itu volumenya,” kata Yuliot. Ia menilai bahwa jika tarif sebesar itu berpengaruh besar, produk dalam negeri mungkin tidak akan diekspor lagi. Produksi panel surya akan lebih banyak diserap pasar domestik.
Presiden Prabowo baru-baru ini memerintahkan percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. Targetnya mencapai 100 gigawatt untuk kebutuhan dalam negeri. Yuliot menambahkan: “Kemudian yang ini arahan dari Presiden itu bagaimana kita juga mempercepat untuk PLTS 100 gigawatt untuk kebutuhan dalam negeri,”
Pembangunan PLTS akan dilaksanakan secara bertahap. Tahap awal akan membangun kapasitas 17 GW, yang detailnya sedang disusun oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Rencana ini diharapkan dapat menutup kebutuhan energi bersih di negeri ini.
Sebelumnya, pada Selasa (24 February 2026), Departemen Perdagangan AS (USDOC) mengumumkan pengenaan Bea Masuk Imbalan Sementara atas impor produk crystalline silicone photovoltaic cells, baik terpasang maupun tidak, kepada beberapa negara termasuk Indonesia. Tarif individual untuk produsen asal Indonesia berada pada kisaran 85,99%-143,30%, dengan tarif umum 104,38%.
Dengan tarif tinggi dan potensi penurunan ekspor, industri panel surya Indonesia harus menyesuaikan strategi. Fokus pada pasar domestik dan peningkatan kapasitas PLTS menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi dan menanggapi perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz