Tas T‑Rex Sintetis Pertama Dipamerkan di Museum Art Zoo
Gambar atau konten salah?
Ilmuwan dan desainer memamerkan tas tangan pertama yang diklaim terbuat dari kulit Tyrannosaurus rex sintetis yang dikembangkan di laboratorium. Produk fesyen unik ini bisa didapatkan dengan harga yang fantastis.
Saiki tas tersebut dipamerkan di Art Zoo Museum di Amsterdam, Belanda, hingga 11 Mei 2026. Setelah itu, tas ini akan dilelang dengan harga mulai dari 500.000 poundsterling atau sekitar Rp 11,2 miliar.
Kulit berwarna biru kehijauan ini merupakan hasil kolaborasi antara perusahaan bioteknologi The Organoid Company dan Lab-Grown Leather Ltd. dengan perusahaan kreatif VML. Bas Korsten, Global Chief Creative Officer VLM, mengatakan tas ini diciptakan untuk menunjukkan nilai kulit buatan laboratorium yang lebih berharga dibandingkan kulit tradisional. Tas ini menampilkan tekstur yang menyerupai kulit asli, namun tidak mengandung bahan hewan dalam.
"Dengan memposisikan kulit T-Rex sebagai produk ultra-mewah, kami menunjukkan bahwa material yang dikembangkan di laboratorium secara etis sama menariknya - bahkan lebih menarik - dibandingkan kulit tradisional," kata Korsten, seperti dikiutip dari USA Today, Jumat (3/4/2026).
"Jika kita dapat mengubah cara orang berpikir tentang material ini, kami benar-benar percaya bahwa adopsi yang lebih luas akan menyusul," sambungnya.
Produk ini dirancang oleh label techwear ternama Enfin Levé asal Polandia. Namun, jika produk ini dapat diterima oleh kelompok elit dan influencer, diharapkan dapat mengarah ke produk yang dapat dipasarkan secara luas.
Kulit T-Rex sintetis ini diklaim dibuat menggunakan protein kolagen yang didapatkan dari fosil. Setelah itu, mereka menggunakan teknik biologi dengan bantuan AI untuk mensintesis DNA baru ke sel khusus untuk membuat material baru yang berperilaku seperti kulit.
Namun, sejumlah ilmuwan di luar proyek tersebut mengaku skeptis dengan istilah 'kulit T-Rex'. Pakar paleontologi vertebrata Melanie During dari Vrije Universiteit Amsterdam mengatakan kolagen dapat bertahan di tulang dinosaurus dalam bentuk kecil yang terfragmentasi sehingga tidak dapat digunakan untuk merekonstruksi kulit T-Rex. Thomas R. Holtz Jr., pakar paleontologi dari Universitas Maryland juga mengatakan bahwa kolagen yang ditemukan di fosil T-Rex berasal dari dalam tulang, bukan kulit.
"Apa yang dilakukan perusahaan ini tampaknya hanya sekedar fantasi," kata Holtz kepada LIve Science. (vmp/vmp)
Produk ini menyoroti potensi bahan sintetis laboratorium untuk menggantikan kulit tradisional, namun masih menghadapi skeptisisme ilmiah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Haaland Ledek Brasil dengan Tiga Kata Usai Singkirkan Mereka
Shopee Jamin Belanja Tiba 1 Jam, Telat Dapat Voucher
Neymar Pensiun dari Timnas Usai Brasil Tersingkir
Dua Gol Haaland Bawa Norwegia ke Perempat Final, Brasil Tersingkir
Kecoa Cyborg Dilengkapi Baju Selam Tahan Air 3 Jam
Suhu Laut Global Pecahkan Rekor Tertinggi di Juni 2025
Berita Terbaru
Pagar Roboh di Konser Denny Caknan, Dua Petugas Terluka
BBK Satukan Oppo, OnePlus, dan Realme dalam Satu OS
Kurang Bayar Pajak ASN Tembus Rp9,16 Triliun
Kemendikdasmen Rilis Panduan MPLS 2026
Dari Pegawai Bank ke Timnas Cape Verde
BMKG: Sebagian Jateng Berawan, Lainnya Cerah
Trump Ucapkan Terima Kasih ke FIFA soal Banding Balogun
Haaland Ledek Brasil dengan Tiga Kata Usai Singkirkan Mereka
