Telkom Siapkan Strategi Fleksibel Menghadapi Dolar

Nurul H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
Telkom Siapkan Strategi Fleksibel Menghadapi Dolar

Gambar atau konten salah?

Investasi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia biasanya menggunakan mata uang dolar. Dengan nilai tukar dolar AS yang terus naik, PT Telkom Indonesia harus menyesuaikan strategi. Dian Siswarini, yang memimpin PT Telkom Indonesia, menegaskan bahwa tahun 2026 membawa tantangan bisnis karena kondisi ekonomi makro yang sulit diprediksi.

“Karena mungkin investasi kita dalam dollar, ada beberapa yang mungkin hari kami sesuaikan. Tapi sebetulnya dari sisi market dan kebutuhan pelanggan, internet itu tumbuh terus, baik itu B2B atau B2C itu tumbuh terus. No doubt,” kata Dian dalam presentasinya di acara TLKM 30: Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan melalui Transformasi Strategis di Kantor Telkom, Jakarta, Rabu (20 Mei 2026).

Dian menekankan bahwa pasar industri telekomunikasi tetap kuat karena layanan tersebut menjadi kebutuhan primer. Namun, faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro masih tidak dapat diprediksi. Untuk menghadapi hal ini, Telkom menargetkan strategi yang lebih lincah dan menguntungkan melalui program TLKM 30. Program ini dibangun di empat pilar: operational and service excellence dengan perbaikan tata kelola, penyederhanaan anak usaha menjadi lebih ringkas, membuka nilai lewat bisnis InfraNexia, serta perubahan modus operandi yang sebelumnya terfragmentasi menjadi terintegrasi dan fokus.

Dari keempat segmen bisnis Telkom, segmen B2C melalui Telkomsel sudah mencapai penetrasi 100%. Segmen fixed broadband masih memiliki ruang pertumbuhan sekitar 20%. Sumber pertumbuhan baru bagi Telkom akan datang dari tiga segmen lain: B2B Infra (dengan Infranexia, Mitratel, Neutra DC, Telkomsat, dll.), B2B ICT (dengan Telkomsigma, Infomedia, Nutech), serta segmen internasional melalui Telin. Segmen bisnis lainnya juga dipertimbangkan.

Telkom berharap segmen-segmen tersebut dapat tumbuh. Saat ini, 70% pendapatan berasal dari B2C, sementara 30% berasal dari segmen lain. Targetnya, pada 2030, komposisinya sudah seimbang. “Segmen B2B Infra dan internasional sudah memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa. Untuk yang B2B ICT ini sekarang lagi dimasak supaya ke depannya bisa menjadi source of growth yang baru,” pungkas Dian.

Dengan strategi ini, Telkom berusaha menyesuaikan diri dengan fluktuasi nilai tukar dolar sekaligus memanfaatkan pertumbuhan internet yang terus meningkat. Fokus pada efisiensi, integrasi layanan, dan pengembangan segmen baru menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi makro di masa depan.

Telkom IndonesiaInvestasi infrastrukturDolar ASEkonomi makroTLKM 30B2CB2B Infra

Komentar

Memuat komentar...