Truk ODOL Biang Kerok Jalan Tol Tak Pernah Selesai Diperbaiki
Gambar atau konten salah?
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa jalan tol seolah tidak pernah selesai diperbaiki? Hari ini selesai di satu titik, besok sudah ada perbaikan di titik lain. Proyek perbaikan jalan tol memang sering menjadi sumber kemacetan. Tapi kenapa hal ini terus terjadi?
Menurut Plt. Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia (ATI) Kristianto, penyebab utamanya adalah truk kelebihan muatan atau yang dikenal dengan istilah ODOL (over dimension over load). Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, ia menjelaskan bahwa ada lingkaran masalah yang sulit diputus saat ini. Kerusakan dini pada jalan tol terjadi akibat truk-truk ODOL yang melintas.
"Seperti kita ketahui bersama, kerusakan akibat ODOL ini damage factor-nya sangat besar sekali. Kalau secara teknis dia akan menimbulkan angka kerusakan pangkat 4," kata Kristianto. Artinya, dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Hal ini kemudian menimbulkan konsekuensi operasi di lapangan yang pada akhirnya membutuhkan biaya besar.
Badan usaha jalan tol (BUJT) pun terpaksa sering melakukan perbaikan. Inilah yang membuat perbaikan jalan tol terkesan tidak pernah selesai. Kristianto mengungkapkan bahwa anggota dewan sempat menyampaikan keluhan serupa: "Kok perbaikannya nggak selesai-selesai?" Menurutnya, ini adalah situasi yang sulit. Di satu sisi, jalan tol harus tetap beroperasi. Di sisi lain, perbaikan terus dilakukan karena usia jalan tol tercapai lebih dini akibat beban berlebih.
Data terbaru menunjukkan bahwa pelanggaran truk ODOL masih sangat tinggi. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ni Komang Rasminiati menyampaikan data yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data weight in motion (WIM) tahun 2025, tingkat pelanggaran ODOL di jalan tol sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Di ruas jalan tol yang dikelola Jasa Marga, rata-rata pelanggaran mencapai 17,62 persen terhadap kendaraan non-golongan 1 yang melintas. Sementara untuk ruas jalan tol Trans Sumatera yang dikelola PT Hutama Karya, angkanya lebih tinggi lagi: 21,29 persen. Artinya, lebih dari seperlima kendaraan non-golongan 1 di tol Trans Sumatera terindikasi ODOL.
"Ini tentunya menjadi ancaman yang nyata bagi ketahanan aset infrastruktur jalan tol," ujar Komang. Ia menambahkan bahwa pelanggaran muatan berlebih berdampak sangat signifikan pada kerusakan dini perkerasan jalan. Akibatnya, biaya preservasi meningkat, kecepatan kendaraan menurun, risiko kecelakaan fatalitas naik, dan polusi serta emisi udara bertambah.
Jadi, selama masih ada truk ODOL yang berkeliaran di jalan tol, perbaikan jalan tol kemungkinan besar akan terus berlangsung. Ini bukan soal proyek yang tidak selesai, melainkan soal siklus kerusakan yang terus berulang akibat pelanggaran muatan. Data menunjukkan bahwa masalah ini masih jauh dari selesai, terutama di ruas-ruas tol utama seperti Trans Sumatera.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
