ILO: 80 Juta Pekerja ASEAN Terbantu AI

Bambang W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
ILO: 80 Juta Pekerja ASEAN Terbantu AI

Gambar atau konten salah?

Sebuah laporan terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa hampir 80 juta pekerja di Asia Tenggara, atau sekitar 22,9 persen dari total lapangan kerja di kawasan ASEAN, kini terbantu oleh kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI). Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh AI terhadap dunia kerja di wilayah tersebut.

Dari total jumlah pekerjaan yang ada, sekitar 11,7 juta pekerja—atau setara dengan 3,3 persen—masuk dalam kategori dengan paparan tinggi terhadap bantuan AI. Artinya, pekerjaan mereka sangat mungkin dipermudah atau diubah oleh teknologi ini. Sementara itu, sekitar 67 persen lapangan kerja lainnya diidentifikasi tidak akan terpengaruh oleh AI sama sekali.

Laporan yang dirilis pada Rabu, 08 Juli 2026 ini mencatat bahwa potensi bantuan AI dalam pekerjaan sebenarnya sudah terus meningkat sejak tahun 2017. Tren ini berlanjut bahkan setelah kemunculan AI generatif yang lebih canggih. Namun demikian, ILO menegaskan bahwa belum ada tanda-tanda bahwa kondisi ini akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar.

Jenis pekerjaan yang paling terpapar AI, menurut laporan tersebut, meliputi analis keuangan, pengembang multimedia, dan pialang keuangan. Meski begitu, teknologi ini belum menyebabkan gangguan besar-besaran di pasar tenaga kerja.

"Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif dapat semakin membentuk kembali tugas dan proses kerja," kata ILO dalam laporannya, seperti dikutip dari The Straits Times, Sabtu, 11 Juli 2026.

Menariknya, meskipun AI generatif bisa meningkatkan produktivitas untuk tugas-tugas tertentu, peningkatan ini belum benar-benar terlihat dalam perubahan produktivitas dan lapangan kerja secara keseluruhan. Temuan ini agak bertolak belakang dengan langkah sejumlah perusahaan teknologi besar yang beroperasi di ASEAN. Beberapa dari mereka justru melakukan pengurangan tenaga kerja yang dikaitkan dengan adopsi AI.

"Meskipun beberapa perusahaan mengurangi jumlah karyawan atau membentuk kembali tenaga kerja mereka seiring dengan adopsi AI, lapangan kerja di bidang pekerjaan dengan paparan AI tertinggi terus berkembang di seluruh Asia Tenggara," demikian bunyi temuan ILO.

Dari sisi negara, Singapura menempati posisi teratas dengan persentase pekerja yang terpapar AI tertinggi, yaitu mencapai 42,2 persen dari total lapangan kerja di negara tersebut. Setelah Singapura, menyusul Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Thailand.

"Singapura juga menempati peringkat tertinggi dalam kesiapan AI, didukung oleh infrastruktur digital yang canggih, sumber daya manusia yang mumpuni, dan pendekatan terkoordinasi di seluruh pemerintahan," jelas temuan ILO.

Menghadapi situasi ini, ILO mendesak pemerintah di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat tata kelola AI. Mereka juga mendorong integrasi kebijakan yang lebih baik melalui pendekatan yang berpusat pada manusia. Upaya ini dinilai sangat penting untuk membantu para pekerja dan pelaku bisnis beradaptasi dengan perkembangan teknologi AI.

"Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan semata daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI," tegas ILO.

Secara keseluruhan, laporan ILO ini memberikan gambaran bahwa meskipun AI semakin merasuk ke berbagai sektor pekerjaan, dampaknya terhadap pasar tenaga kerja tidak selalu bersifat negatif. Justru, kebijakan yang tepat dan persiapan yang matang dari berbagai pihak akan menjadi kunci utama dalam menghadapi era baru ini.

AIpekerjaanAsia TenggaraILOkecerdasan buatantenaga kerjaSingapura

Komentar

Memuat komentar...