Trump Salah Sebut Iran Jadi 'Republik Islam Jepang'

Jaka M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Trump Salah Sebut Iran Jadi 'Republik Islam Jepang'

Gambar atau konten salah?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melakukan kesalahan bicara di depan publik. Kali ini, saat membahas serangan rudal ke kapal induk AS beberapa bulan lalu, Trump secara tidak sengaja menyebut Iran sebagai "Republik Islam Jepang". Kejadian ini berlangsung dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada Rabu, 08 Juli 2026. Pertemuan itu digelar di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Ankara, Turki.

Trump, yang kini berusia 80 tahun, sedang memuji sistem pertahanan militer AS. Ia lalu menyinggung insiden serangan rudal yang menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln. "Kami memiliki kapal induk yang merupakan salah satu yang terindah di dunia, salah satu yang terbesar, yaitu (USS) Abraham Lincoln," ujarnya.

Namun, saat menjelaskan lebih lanjut tentang serangan tersebut, lidah Trump sepertinya terselip. "Dan beberapa bulan lalu, kami, saya sudah menceritakan hal ini kemarin, kami menghadapi 111 rudal yang ditembakkan oleh Republik Islam Jepang," kata Presiden AS itu. Maksudnya tentu saja adalah "Republik Islam Iran", tetapi yang keluar dari mulutnya adalah nama negara lain.

Trump kemudian merinci bahwa ratusan rudal itu ditembakkan ke arah kapal induk AS dalam waktu sekitar satu jam. Ia mengklaim bahwa seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika. "Rudal-rudal itu ditembakkan ke arah kapal induk dalam kurun waktu sekitar satu jam. Sebanyak 111 rudal mengarah ke kapal yang sangat mahal harganya, dan setiap rudal itu berhasil ditembak jatuh, sebagian besar oleh Patriot, namun juga dengan cara-cara lainnya," sebut Trump.

Pernyataan ini diduga merujuk pada serangan Iran terhadap kapal induk AS pada awal tahun 2026, saat konflik di Timur Tengah sedang memanas. Namun, penyebutan Jepang sebagai pihak yang menyerang langsung menimbulkan keganjilan. Jepang tidak pernah lagi melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat selama hampir satu abad terakhir. Meskipun pada masa Perang Dunia II Jepang pernah menjadi ancaman serius bagi kapal induk dan armada Angkatan Laut AS, hubungan kedua negara kini telah berubah total menjadi kemitraan strategis. Washington dan Tokyo saat ini dikenal sebagai sekutu dekat.

Bukan hanya sekali Trump melakukan kesalahan dalam konferensi pers tersebut. Tidak lama setelah insiden "Republik Islam Jepang", Trump kembali salah bicara. Saat membuka sesi tanya jawab, ia mempersilakan wartawan untuk mengajukan pertanyaan kepada "Presiden Putin". Padahal, yang duduk di sampingnya adalah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Kesalahan ini sontak mengundang tawa dari para peserta konferensi pers. Trump kemudian berusaha mencairkan suasana dengan mengulang pertanyaannya sambil bercanda bahwa ia akan menyampaikan pertanyaan wartawan tersebut kepada pemimpin Rusia.

Insiden-insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran telah berakhir. Kembali pecahnya saling serang antara kedua negara menjadi pemicunya. Militer AS disebut telah melancarkan serangan terhadap puluhan target di Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang didalangi oleh Teheran.

Dalam agenda terpisah di KTT NATO, Trump juga melontarkan kritik keras kepada para pemimpin Iran. Ia menyebut mereka sebagai "sampah" dan menegaskan bahwa AS "kemungkinan akan kembali menghantam Iran dengan keras malam ini". Trump juga mengatakan Iran dipimpin oleh "orang-orang sakit" sembari menegaskan: "Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi."

Kesalahan penyebutan nama negara dan pemimpin oleh seorang presiden bukanlah hal yang sepele, terutama dalam konteks hubungan internasional yang sedang tegang. Insiden ini menunjukkan bagaimana tekanan dan dinamika geopolitik yang kompleks dapat memicu kesalahan fatal di panggung dunia. Meski terkesan lucu, kesalahan seperti ini bisa menimbulkan kebingungan diplomatik dan mengalihkan perhatian dari isu-isu krusial yang sedang dibahas.

Trumpkesalahan bicaraIranJepangRepublik Islam JepangZelenskyNATO

Komentar

Memuat komentar...