Trump Tegaskan Iran Buka Selat Hormuz, PBB Serukan Damai

Jaka M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Trump Tegaskan Iran Buka Selat Hormuz, PBB Serukan Damai

Gambar atau konten salah?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa situasi di Iran telah menjadi kolaps. Ia menuntut agar Iran segera membuka Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Kolaps'. Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' sesegera mungkin, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!). Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,"

Bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut tidak dijelaskan. Trump sendiri menyatakan bahwa upaya mengakhiri konflik tampaknya menemui jalan buntu, dan ia tidak senang dengan proposal terbaru dari Teheran.

Proposal terbaru Iran menuntut penundaan pembahasan program nuklirnya sampai konflik berakhir dan perselisihan mengenai pengiriman barang dari Teluk diselesaikan. Sementara Trump menginginkan masalah nuklir ditangani sejak awal, seorang pejabat AS yang diberi pengarahan tentang pertemuan Trump dengan para penasihatnya pada hari Senin (27 April 2026) mengungkapkan hal tersebut.

Kesepakatan nuklir Iran sebelumnya dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain pada tahun 2015 secara tajam membatasi program nuklirnya, yang selama ini dipertahankan untuk tujuan damai dan sipil. Namun, kesepakatan itu berakhir setelah Trump secara sepihak menarik diri pada masa jabatan pertamanya.

Gubernur Iran menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan jaminan yang kredibel agar serangan AS dan Israel tidak terulang lagi, sebelum dapat memastikan keamanan di kawasan Teluk yang kaya minyak. Penegasan itu, seperti dilaporkan pada Selasa (28 April 2026), disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, saat berbicara dalam sesi Dewan Keamanan PBB yang digagas oleh Bahrain.

Dalam pertemuan di markas besar PBB pada Senin (27 April 2026), puluhan negara mengutuk Iran karena mengambil alih kendali atas Selat Hormuz yang sangat penting. Namun, Iravani menekankan bahwa stabilitas di kawasan hanya dapat dicapai jika agresi dihentikan, dilengkapi "jaminan yang kredibel" untuk tidak ada lagi serangan di masa mendatang.

"Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran yang dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah," tegas Iravani di hadapan Dewan Keamanan PBB.

Reaksi internasional menunjukkan ketegangan yang meningkat. Negara-negara di kawasan Teluk menegaskan pentingnya menjaga jalur perdagangan yang aman, sementara pihak Amerika Serikat menilai bahwa langkah Iran menunda pembicaraan nuklir dapat memperburuk situasi. Sementara itu, pernyataan Trump menandai pergeseran kebijakan AS yang lebih agresif terhadap Iran.

Peristiwa ini menyoroti ketegangan berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran, serta ketidakpastian mengenai masa depan perjanjian nuklir dan keamanan di Teluk. Konflik ini tetap menjadi fokus utama bagi komunitas internasional yang memantau dinamika geopolitik di kawasan tersebut.

TrumpIranSelat Hormuzprogram nuklirPBBTeluk Persiaketegangan

Komentar

Memuat komentar...