Ubi Cream Cheese Viral: Manfaat, Tambahan Gula, dan Risiko
Gambar atau konten salah?
Ubi cream cheese, camilan yang terbuat dari ubi Cilembu manis dan isian cream cheese, kini menjadi primadona di media sosial. Banyak orang rela menunggu berjam-jam di supermarket hanya untuk mencicipi versi terbaru dari camilan ini. Viralitasnya membuat ubi cream cheese dianggap lebih sehat dibandingkan dessert berbahan tepung atau gorengan.
Ubi Cilembu sendiri mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin A, vitamin C, serta beta karoten yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan seratnya membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, sehingga penyerapan gula berlangsung lebih bertahap daripada camilan manis biasa. Selain itu, ubi memiliki indeks glikemik rendah dan mengandung kalium yang mendukung keseimbangan cairan tubuh serta fungsi otot dan tekanan darah tetap stabil.
Namun, tidak semua produk ubi cream cheese bebas gula. Beberapa varian masih menambahkan gula pasir, gula aren, susu kental manis, atau topping manis lain untuk memperkuat rasa. Tambahan pemanis ini dapat meningkatkan kandungan gula dan kalori dalam satu porsi secara signifikan. Semakin banyak topping manis yang digunakan, semakin tinggi pula total energi yang terkandung. Dalam kondisi seperti ini, ubi cream cheese lebih menyerupai dessert tinggi kalori daripada camilan sehat.
Suatu contoh nyata terjadi pada Ardi, seorang pria berusia 24 tahun asal Tangerang. Ia mengaku “Saya antre dan nunggu stok ubi cream cheese ini tersedia lagi bahkan sampai nggak makan siang,” ujar Ardi saat berbincang pada Kamis (14 Mei 2026). Ia rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan stok, sehingga akhirnya melewatkan makan siang. Keputusan semacam ini menyoroti betapa kuatnya daya tarik produk ini.
Walaupun ubi cream cheese cukup mengenyangkan karena mengandung karbohidrat, lemak, dan sedikit protein, camilan ini tidak ideal sebagai pengganti makan utama. Tubuh tetap membutuhkan asupan protein, serat sayur, vitamin, dan mineral yang lebih lengkap dari menu makan yang seimbang. Jika makan siang dilewatkan dan digantikan dengan ubi cream cheese, asupan zat gizi pada hari tersebut bisa menjadi kurang seimbang. Terlebih lagi, produk yang mengandung tambahan gula atau topping manis dapat meningkatkan kalori tanpa disadari.
Selain risiko kalori berlebih, kondisi perut yang terlalu lama kosong juga dapat memicu keluhan maag pada sebagian orang. Gejala yang mungkin muncul meliputi perut perih, kembung, mual, atau rasa tidak nyaman di lambung. Bagi yang sering melewatkan makan utama demi camilan, masalah pencernaan semacam ini menjadi hal yang perlu diwaspadai.
Secara keseluruhan, ubi cream cheese memang menawarkan kombinasi rasa manis alami dari ubi Cilembu dengan kelezatan cream cheese. Namun, klaim “lebih sehat” harus dipertimbangkan dengan cermat, terutama bila produk mengandung tambahan gula atau topping manis. Konsumsi yang berlebihan atau sering dapat menambah risiko peningkatan berat badan dan gangguan metabolik.
Ubi cream cheese tetap menjadi camilan menarik bagi banyak orang, tetapi penting untuk mengingat bahwa camilan ini tidak menggantikan kebutuhan nutrisi lengkap dari makanan utama. Memilih varian tanpa tambahan gula dan menjaga porsi tetap dapat membantu menjaga keseimbangan gizi dan kesehatan secara keseluruhan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
Goo Hye Sun Turun 13 kg: Diet Rendah Sodium Jadi Kunci
Precommitment: Cara Mudah Hindari Makanan Tidak Sehat Saat Stres
Berita Terbaru
AS Pasang Tarif 10% pada Impor Indonesia, Pemerintah Menelaah
Indonesia U-19 Hadapi Timor Leste di Laga Kedua AFF U-19 2026
Londo Kampung Nikmati Pasar Blauran Baru dengan Rp 50.000
SPPG Pananjung 2 Pangandaran Terbatas Kendaraan Operasional
Ronaldo 41, Portugal Siap Main di Piala Dunia 2026 Menuju Final
Rupiah Pelemah, Pariwisata Indonesia Menarik Wisatawan
