Utang Pinjaman Online & Paylater Naik 25% dan 86%, Kewaspadaan Penting

Nurul H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Utang Pinjaman Online & Paylater Naik 25% dan 86%, Kewaspadaan Penting

Gambar atau konten salah?

Di Indonesia, akses cepat ke layanan keuangan digital seperti pinjaman online dan paylater sering menjadi solusi bagi kebutuhan sehari‑hari yang mendesak. Pertumbuhan pengguna kedua layanan ini menunjukkan tren yang sangat tinggi.

Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan, outstanding utang pada pinjaman online mencapai Rp 100,69 triliun pada 01 Februari 2026. Angka tersebut naik 25,75 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat lonjakan transaksi buy‑now‑pay‑later. Pertumbuhan paylater mencapai 86,7 % secara tahunan, sehingga total nilai menjadi Rp 56,3 triliun hingga akhir 01 Februari 2026.

“Kalau lihat growth‑nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha,” kata Tauhid, Senin, 11 Mei 2026.

“Memang NPL‑nya saya kira masih relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan bunga segitu besar. Sehingga ini membuat masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya,” terangnya.

“Saya rasa bagi kelompok bawah ini mereka pinjam itu bukan karena ada tabungan, tapi karena tabungannya sedikit. Kalau ada, pasti mereka langsung bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol, mereka bayar langsung,” jelas Tauhid.

“Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini,” tegas Tauhid.

Dalam penjelasannya, Tauhid menyoroti bahwa tingkat pertumbuhan tabungan di bawah Rp 100 juta tidak tumbuh cukup signifikan. Hal ini menandakan simpanan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, justru semakin berkurang.

Data ini menegaskan pergeseran perilaku keuangan: masyarakat beralih dari “makan tabungan” menjadi “makan utang” untuk bertahan hidup. Sementara pinjaman online tetap menarik bagi mereka yang tidak memiliki tabungan, beban bunga dan risiko utang menambah tekanan ekonomi pribadi.

pinjaman onlinepaylaterutangNPLtabunganbeban bungakonsumen kelas menengah ke bawah

Komentar

Memuat komentar...