Veda Praxis dan IRM Perkuat Budaya Risiko Nasional

Rini S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 4 dibaca
Bisik.id
Veda Praxis dan IRM Perkuat Budaya Risiko Nasional

Gambar atau konten salah?

Penguatan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko menjadi fondasi yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing bisnis dan mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini terutama relevan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi antara lembaga nasional dan organisasi internasional perlu diperluas. Tujuannya agar budaya manajemen risiko tidak hanya berkembang di kalangan korporasi, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan dan masyarakat luas.

Chief Executive Officer Veda Praxis, Syahraki Syahrir, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan kompetensi manajemen risiko di Indonesia terus meningkat. Sayangnya, peningkatan ini tidak diimbangi dengan pendidikan yang memadai, terutama di tingkat perguruan tinggi.

"Selama 21 tahun berdiri, kami melihat salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah penguatan governance dan manajemen risiko. Di banyak universitas, pendidikan mengenai manajemen risiko masih sangat terbatas, padahal kebutuhan dunia bisnis sudah sangat besar," kata Syahraki dalam keterangannya pada Jumat, 24 Juli 2026.

Melalui kemitraan dengan Institute of Risk Management (IRM), Veda Praxis ingin mendorong implementasi manajemen risiko secara lebih luas. Tidak hanya di perusahaan, tetapi juga di lingkungan akademik dan masyarakat.

"Harapannya adalah meningkatkan kapabilitas SDM sekaligus memperkuat kemampuan bisnis nasional. Jika manajemen risiko diterapkan dengan baik, ekonomi Indonesia juga akan semakin maju," katanya.

Syahraki juga berharap kolaborasi lintas sektor antara pelaku industri, institusi pendidikan, dan organisasi profesi bisa mempercepat terbentuknya budaya manajemen risiko yang lebih kuat di Indonesia. Dengan demikian, daya saing bisnis nasional bisa meningkat di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

Sementara itu, GRC Partner Veda Praxis, Dadan Gunawan, menilai pemahaman mengenai manajemen risiko di Indonesia perlu diperkuat. Sebab, manajemen risiko kerap dipandang sebagai disiplin yang terpisah dari proses bisnis.

Menurut Dadan, manajemen risiko sejatinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola organisasi. "Risk management bukan dunia yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari manajemen. Kalau kita memiliki governance baik, manajemen risiko harus menjadi bagian yang melekat di dalamnya," kata dia.

Ia mengatakan edukasi mengenai manajemen risiko perlu dilakukan secara berkelanjutan kepada korporasi, institusi pemerintah, dan masyarakat. Tujuannya agar semakin banyak organisasi mampu mengidentifikasi potensi persoalan sejak dini sebelum berkembang menjadi krisis.

"Jika kita mampu mengidentifikasi masalah dari awal, kita bisa mendesain solusi sebelum insiden terjadi. Banyak proyek maupun kebijakan akan jauh lebih efektif dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat," katanya.

Dadan menambahkan, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah tingginya ketidakpastian. Mulai dari dinamika geopolitik, perubahan regulasi, hingga tekanan ekonomi global.

Namun, menurutnya, ketidakpastian tidak selalu menjadi ancaman apabila dikelola dengan pendekatan manajemen risiko yang tepat. "Ketidakpastian justru bisa jadi peluang. Banyak negara mampu mengubah berbagai tantangan menjadi kekuatan karena memiliki manajemen risiko yang baik. Kita juga berada di jalur yang benar, tinggal membutuhkan konsistensi dan kolaborasi dalam membangun budaya tersebut," ujarnya.

Dari perspektif global, Head of Partnership Asia IRM, Victoria Robinson, mengatakan setiap negara memiliki tingkat kematangan manajemen risiko yang berbeda. Perbedaan ini tergantung pada karakteristik industri dan regulasi yang berlaku.

Ia menjelaskan sektor perbankan, jasa keuangan, dan asuransi umumnya memiliki penerapan yang lebih maju. Tapi prinsip manajemen risiko sejatinya relevan bagi seluruh sektor usaha.

"Enterprise risk management adalah fondasi yang membuat bisnis bertahan dan berkembang. Semua industri membutuhkannya, mulai dari manufaktur, perhotelan, hingga teknologi," katanya.

Lewat kerja sama dengan Veda Praxis, IRM berharap dapat menggabungkan pengalaman global dengan pemahaman lokal. Tujuannya untuk menghadirkan program pendidikan yang relevan bagi Indonesia dan kawasan ASEAN.

"Kami ingin mendengarkan kebutuhan pasar Indonesia, menggabungkan keahlian global dengan ahli lokal, lalu mengembangkan pendidikan yang membantu para profesional Indonesia menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Senada dengan itu, Head of IT & Digital Risk Group Bank Rakyat Indonesia, Nugroho Pancayogo, menegaskan setiap aktivitas bisnis pada dasarnya selalu berdampingan dengan risiko. Karena itu, kemampuan mengelolanya menjadi faktor utama keberlangsungan usaha.

"Bisnis pada dasarnya adalah mengelola risiko. Tidak ada bisnis tanpa risiko. Karena itu, jika ingin bisnis berjalan dengan baik, manajemen risiko harus menjadi prioritas," katanya.

Ia menilai penerapan manajemen risiko akan berjalan efektif jika telah dipahami dan menjadi budaya organisasi. Mulai dari level operasional hingga jajaran manajemen puncak.

"Yang terpenting adalah seluruh lini organisasi, dari level paling dasar sampai top management, memiliki kesadaran yang sama untuk menjalankannya," ujar Nugroho.

Intinya, para pemangku kepentingan sepakat bahwa manajemen risiko bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan fondasi budaya organisasi. Tanpa pemahaman yang merata dari level bawah hingga puncak, penerapan manajemen risiko tidak akan berjalan efektif. Kolaborasi antara dunia usaha, pendidikan, dan organisasi profesi menjadi kunci untuk membangun budaya ini di Indonesia.

tata kelola perusahaanmanajemen risikodaya saing bisnisbudaya manajemen risikopendidikan manajemen risikokolaborasi lintas sektorketidakpastian global

Komentar

Memuat komentar...