Warga Banyumas Jalan Kaki 1 Km Demi Air Bersih
Gambar atau konten salah?
Musim kemarau tahun ini mulai terasa dampaknya bagi warga di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Salah satu daerah yang paling merasakan adalah Desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja. Di sana, warga harus berjalan kaki sejauh satu kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih. Sumur-sumur mereka sudah kering, dan jaringan air dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tidak lagi berfungsi dengan baik.
Kondisi ini terutama dialami oleh warga yang tinggal di RT 3 RW 3. Setiap hari, mereka mengandalkan air dari sebuah belik, atau mata air alami. Namun, debit air di belik itu terus menurun karena dipakai secara bergantian oleh banyak orang. Belik tersebut letaknya sekitar satu kilometer dari pemukiman warga.
Noviatun (29), salah seorang warga, menceritakan bahwa krisis air bersih sudah mulai terasa sejak awal musim kemarau. Sumur milik warga perlahan mengering. Sementara itu, aliran dari Pamsimas tidak stabil. Kadang mengalir, kadang tidak.
"Belik sih ada, tapi kalau semisal banyak yang pakai ya tetap kurang untuk kebutuhan semua warga," kata Noviatun saat ditemui wartawan pada Senin, 13 Juli 2026.
Ia menjelaskan, untuk mengambil air dari belik, warga harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari permukiman. Air yang didapat pun harus digunakan dengan sangat hemat karena jumlahnya terbatas. Tidak bisa seenaknya dipakai untuk mandi atau mencuci.
"Untuk mengambil air dari belik harus jalan sekitar satu kilometer dan bergantian dengan warga lain," ujarnya.
Menurut Noviatun, wilayah tempat tinggalnya memang berada di dataran tinggi. Akibatnya, hampir setiap musim kemarau mereka selalu kesulitan mendapatkan air bersih. Ini bukan kejadian pertama.
"Pamsimas memang ada, tapi kadang mengalir, kadang tidak. Sumur rata-rata sedalam 17 meter, tetapi airnya tinggal sedikit, paling kalau pagi agak lumayan. Kondisinya sudah sekitar tiga bulan," ungkapnya.
Ketua RT 3 RW 3, Tikam, mengatakan ada sekitar 50 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa di wilayahnya yang terdampak kekeringan. Ia menjelaskan, kondisi tanah di sana didominasi oleh lempung. Hal ini membuat warga sangat sulit mendapatkan sumber air tanah.
"Tanahnya lempung, jadi susah keluar mata air. Menggali sumur sampai puluhan meter pun belum tentu keluar air," katanya.
Karena itu, sisa air yang masih ada di sumur hanya diprioritaskan untuk kebutuhan minum. Sementara untuk mandi dan mencuci, warga mengandalkan air dari belik atau bantuan dari pemerintah.
"Kalau kekeringan kami memang selalu mengajukan bantuan. Tahun ini ini dropping yang pertama," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan bahwa hingga Minggu, 12 Juli 2026, pihaknya telah mendistribusikan sebanyak 115 ribu liter air bersih. Pengiriman dilakukan melalui 23 ritase ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Penyaluran air bersih ini merupakan respons atas meningkatnya kebutuhan air masyarakat di sejumlah desa. Sumber air mereka mulai mengering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
"Hingga 12 Juli 2026, kami sudah melaksanakan pengiriman air bersih sebanyak 23 ritase dengan total 115 ribu liter air yang disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan," kata Abdul.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) BPBD Banyumas, terdapat 9 desa dan kelurahan yang terdampak kekeringan. Selain itu, ada 2 fasilitas umum yang juga mengalami dampak akibat keterbatasan pasokan air bersih.
"Secara keseluruhan, kondisi tersebut berdampak terhadap 2.779 kepala keluarga (KK) atau sekitar 8.909 jiwa," ujarnya.
Wilayah yang telah menerima bantuan air bersih meliputi Desa Tamansari di Kecamatan Karanglewas; Kelurahan Sokanegara di Kecamatan Purwokerto Timur; Desa Karanglewas di Kecamatan Jatilawang; Desa Nusadadi di Kecamatan Sumpiuh; Desa Kedungpring di Kecamatan Kemranjen; Desa Rancamaya di Kecamatan Cilongok; Desa Kedungwuluh Lor di Kecamatan Patikraja; Desa Pasir Lor di Kecamatan Karanglewas; serta Desa Panusupan di Kecamatan Cilongok.
Krisis air bersih di Banyumas ini menunjukkan pola yang berulang setiap tahun. Wilayah dataran tinggi dengan tanah lempung memang rentan terhadap kekeringan. Bantuan air bersih dari pemerintah menjadi andalan utama, namun warga tetap harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga musim hujan tiba.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Warga Banyumas Jalan Kaki 1 Km Demi Air Bersih
18 Anak Ular Kobra Dikeluarkan dari Rumah Warga Demak
5 Cara Cek Arah Kiblat via HP Tanpa Ribet
Meteor Besar Melintas di Langit Jawa
Telkomsel Raih Tiga Penghargaan Global di Denmark
Pratikno: Prestasi Sia-sia Jika Mental Anak Terganggu
Dua Siswa Baru di SDN 1 Gedung Meneng
Anggaran Lumpur Dipotong, Tanggul Lapindo Kritis